Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Bukan rasa yang salah.


__ADS_3

Happy Reading.


Di dalam kamarnya, Josh melepaskan jas yang sedang di pakainya dengan amat kasar lalu membantingnya ke lantai sebagai luapan emosi.


Rencana kepulangannya membawa harapan besar untuk dapat mempersunting gadis impian yang sudah bertahun-tahun ia cintai. namun berita tentang Cintya yang telah menjadi milik orang lain bukanlah kenyataan yang ingin ia ketahui.


Josh mengerang frustasi lalu berteriak. ia berpikir, mungkin dengan melakukan itu, ia mampir menghilang kan sesak yang menghimpit dadanya


"Kenapa.. kenapa harus dia, kenapa harus Dewa, kenapa!!!" Josh berteriak mengungkapkan kata-kata yang telah membuat nafasnya tercekat.


"Jika saja aku tahu kau mampu menerima pria seperti itu, aku tak akan pergi. aku tak akan bersembunyi seperti pengecut yang takut menghadapi penolakan." lirih Josh pilu sambil memegang sebuah foto.


Cintya dengan seragam abu-abunya tampak tertawa ceria dalam foto itu.


Josh tersenyum perih mengingat saat dulu ia diam-diam jadi penguntit. bertahun-tahun ia melakukan itu hanya demi menyenangkan dirinya. menyenangkan hatinya. namun ia terlalu takut untuk mendekat. ia sadar jika dirinya adalah satu dari sekian banyak pria dengan kategori buaya. dan saat ini nyang tersisa hanya penyesalan dan ia hanya mampu merutuki kebodohan serta sikap pengecutnya.


"Jika sekarang aku ingin mendapatkan mu, apa aku salah?" Josh tersenyum dengan pemikiran bodohnya. "toh suami kamu bukan orang baik. Dewa sama brengseknya denganku Adisty."


Tanpa ia kehendaki, air matanya lolos begitu saja dari sudut matanya. seumur hidup Josh tak pernah menangis karena perempuan, tapi sekarang ia menangis karena kekecewaan. lalu beberapa menit kemudian dia tertawa seperti orang gila.


"Selama ada jiwa dalam raga ini, bolehkah aku tetap mencintai mu?"


***


Pagi hari menyambut dengan ceria. hidup beberapa hari di bawah atap yang sama dengan Elvira kadang-kadang membuat Cintya lupa jika dirinya adalah wanita berpendidikan dan berkelas. sifat bar-bar nya sering sekali terprovokasi untuk berbuat lebih dari seharusnya. tapi sekarang keadaan sudah membaik seperti sebelum Elvira datang menganggu.


Hari ini akan ada hal besar yang terjadi. Cintya benar-benar ingin melewatinya dengan sempurna. termasuk emosinya pun harus stabil agar tak menganggunya.


Suasana Ballroom hotel siang itu begitu tampak meriah, mewakili suasana hati kedua mempelai yang baru saja mengikrarkan janji suci di depan penghulu.


Kemeriahan dari megahnya pesta dari dua keluarga besar itu telah usai beberapa saat lalu. masih ada beberapa jam lagi untuk pesta kedua. dan saat ini, tampak sepasang pengantin dan sepasang suami istri sedang berbincang.


"Lelah?" tanya Leo pada Lilian yang tampak memijit tengkuknya.


"Lumayan, aku tidak terbiasa dengan riasan ini." Lilian menyentuh Crown yang masih bertengger di atas kepalanya.


"Ini belum seberapa di banding nanti malam, Lo udah capek aja." goda Dewa pada Lilian membuat wanita berkebaya gold itu melirik jengah.


"Stop Dewa, gak usah ledek aku terus." jawab Lilian ketus.


Dewa tertawa renyah. Leo hanya mengulum senyum menyaksikan kedua saudara itu bertebgakar.


"Apa kakak bahagia?" tanya Cintya melihat senyum lebar Leo.


"Seperti yang kamu rasa." Leo memeluk adik semata wayangnya itu lalu mendaratkan kecupan di pucuk kepalanya.


"Whoy, main sosor aja lo! punya gue." Dewa sewot, lalu menarik Cintya yang berada dalam rangkuman lengan Leo ke dalam pelukannya.


"Dih, posesif banget lo!" cibir Leo.


"Punya gue, cuma gue yang boleh lakuin."

__ADS_1


Dewa memberikan ciuman bertubi-tubi di atas pucuk kepala istinya hingha wanita itu merasa sangat risih.


"Kakak ih," Cintya menjauhkan wajahnya karena ciuman Dewa turun di pipinya.


"Sayang kamu, cinta kamu sangat!" tak peduli Cintya yang berusaha menghindar, Dewa tetap melakukannya. Membuat Leo dan Lilian hanya menggelengkan kepala.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sedang berusaha meredakan rasa nyeri di hatinya melihat kemesraan Dewa dan Cintya. Josh sampai harus membuang muka karena hal itu.


Josh mengepalkan tangan menahan gemuruh dalam dadanya. antara cinta rindu dan cemburu. ia bahkan menertawai diri ya di antara rasa sakit hatinya. cemburu, pantaskah ia cemburu karena nyatanya Cintya hanya milik Dewa. ia hanya seseorang yang kebetulan memiliki perasaan yang jatuh di tempat yang salah.


Cintya mengerucutkan bibirnya. Dewa bahkan tak peduli meski di sana masih banyak tamu melihat perbuatannya.


"Kak, aku ke kamar ya, capek pengen tiduran." Cintya meminta izin pada Dewa. ia merasa tak enak jika meminta Dewa menemaninya karena di sana masih ada Josh.


"Capek?" tanya Dewa sangat lembut.


"Aku masuk bareng Lilian ya?"


"Biar kakak temani." putus Dewa selanjutnya.


"Gue tinggal dulu," Pamit Dewa pada Leo dan Josh lalu menggandeng tangan Cintya.


Tiga orang telah pergi. di sana tinggal Leo dan Josh.


"Masih memikirkannya?" tanya Leo pada Josh yang sedang memperhatikan kepergian Dewa cintya dan Lilian.


"Apa?" Kisah gugup menjawab.


Ternyata Leo menyadari ama yang terjadi. bagaimana Josh yang samasekali tak melepaskan pandangan dari Cintya.


"Gue_ bagaimana lo tahu?" sedikit heran karena memang Josh tak pernah bercerita apapun pada Leo meski dulu mereka sering bersama.


"Gue bahkan tau lo suka diem-diem ngikutin dia."


Josh mengeratkan pegangannya pada gelas yang ia genggam.


"Kenapa dulu lo gak ngomong, justru malah pergi."


"Gue ngerasa gak pantes buat dia " jawab Josh jujur.


"Apa sekarang lo udah ngerasa pantes?" senyum meledek terbit di sudut bibir Leo.


"Setidaknya jika sekarang dia nolak gue, gue gak akan malu dengan ke-brengsek an gue."


"Dewa juga brengsek, lo gak lupa itu kan?"


Josh tertawa perih. "itu yang juga menjadi pertanyaan gue. gimana itu bisa terjadi. kenapa harus Dewa."


"Karena mereka berdua sudah terikat."


"Maksudnya?'" Josh bingung dengan ucapan Leo.

__ADS_1


"Mereka di jodohkan tapi di balik itu, mereka sudah terikat secara emosional."


"Terikat secara emosional maksudnya?"


"Mereka saling mencintai."


"Itu tidak mungkin." Josh menggeleng tak percaya. "kita semua tahu bagaimana Dewa."


"Justru karena itu, ah sudahlah." Leo memutus sendiri ucapannya. "berusahalah melupakannya."


"Setelah delapan tahun, lo pikir itu mudah?"


"Cintya sangat mencintai suaminya."


Degh!


Sebuah kenyataan yang semakin membuat hati Josh semakin tertusuk.


"Cinta sepihak?"


"Bukan. Dewa lebih dari mencintai. ia menempatkan perasaannya di atas kata cinta. Dewa benar-benar memuja Cintya."


"Lo percaya?"


"Karena gue lihat sendiri gimana gilanya Dewa."


"Gue juga mencintai adek lo."


"Sayangnya lo terlambat. mereka tak terpisahkan."


"Setidaknya gue masih bisa berharap dan berusaha."


Leo terdiam. kata-kata Josh mengandung sebuah ancaman.


"Jangan paksakan apapun, Josh!"


"Gue gak maksa, gue cuma mencari celah. karena perasaan gue bukanlah rasa yang salah."


Leo menatap dalam pada manik mata Josh. ia melihat luka dan Cinta di sana.


***


Ye... Selamat ya Leo...


"Josh jangan gila.


Dewa hati-hati.


Readers, jangan lupa like dan komennya.


panjang uey..

__ADS_1


__ADS_2