Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Stalking


__ADS_3

Budayakan like komen meski gak ada vote atau hadiah, biar Dewa Anteng di mari.


Happy Reading...


Setelah menjelaskan semuanya pada cintya, tak ada lagi beban yang menghimpit dada. dengan izin dari Cintya, Dewa berangkat menemui Elvira dengan catatan ia tak boleh menginap.


Dewa tak pernah berpikir berada di titik ini. kecelakaan kerja yang membuatnya harus terjebak dengan situasi seperti ini. rasa terima kasih yang sebetulnya sangat berat ia jalan kan.


Bagaimana bisa ia membagi perhatian nya untuk orang lain sedangkan anak dan istrinya juga membutuhkannya.


Dewa harus selalu datang setiap wanita itu membutuhkannya. sungguh tak masuk akal. tapi sekali lagi ia mengingat tentang jasa Antoni. jika bukan karena pemuda itu, ia pun tak akan busa bersama keluarganya.


"Kalau kakak tidak kembali sebelum jam sebelas malam, jangan salah kan aku. pokoknya jangan salah kan aku."


Ancaman Cintya sebelum ia berangkat terngiang-ngiang di kepalanya. sedangkan ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini. pasti Elvira akan melakukan apapun untuk membuatnya tertahan lebih lama.


Dewa masuk ke dalam rumah yang adalah rumah Antoni yang akan di tempatinya setelah mereka menikah.


Di dalam kamar, seperti biasa Elvira akan menunggu Dewa. tapi Dewa tahu, dan cukup mengerti ia tak boleh sampai masuk ke ruang pribadi itu. maka yang akan di lakukannya adalah menunggu di ruang tamu.


Terserah jika Elvira menolak menemuinya, yang menjadi tanggung jawabnya adalah bayinya bukan dirinya.


"Dewa," panggil Elvira setengah berlari. wajahnya sama sekali tak menunjukkan raut sedih atau berduka seperti orang yang kehilangan calon suami.


"Kau tampak lebih baik Elvira."


"Ya, semua karena mu," ujarnya tersenyum. menampilkan deretan gigi putihnya.


Dewa mengernyitkan dari, dia menangkap makna tak biasa dari kata karena mu yang Elvira ucapkan.


"Bukan Elvira, itu karena kau adalah wanita yang baik dan tidak akan mencelakai anakmu."

__ADS_1


"Bukankah dia juga akan menjadi anakmu?" tanya Elvira dengan mata berbinar.


Dewa semakin tak mengerti dengan ucapan Elvira.


"Tentu Elvira, perusahaan akan menanggung semua kebutuhan Kalian hingga ia cukup Dewasa." tegas Dewa. ia tak ingin membuat Elvira berandai-andai dan menuntut lebih banyak.


Jika di lihat dari kaca mata hukum, sebenarnya tak ada kewajiban apapun bagi Dewa untuk memberikan perhatian khusus pada Elvira. karena Antoni dan Elvira belum meresmikan hubungan mereka. hanya berdasar atas rasa kemanusiaan lah Dewa melakukan itu.


"Tapi anakku tidak hanya membutuhkan materi, Dewa. ia membutuhkan sosok ayah, sepertimu." dengan lancangnya Elvira menyentuh bahu Dewa dengan tangannya.


Dewa menepis pelan tangan Elvira agar tak membuat wanita itu tersinggung. Dewa tahu bagaimana keadaan mental Elvira. seorang wanita dengan kasus depresi berat. bukan hanya itu, elvira juga memiliki satu kecenderungan ingin memiliki semua yang di inginkan. sebuah obsesi yang tak terkontrol.


***


Cintya mengusap air matanya kasar. pemandangan yang baru saja ia lihat sangat menusuk hatinya.


Dengan kecepatan di atas rata-rata, ia mengendarai motor sportnya. aktivitas kebut-kebutan yang sudah lama ia tinggal kan kini ia lakukan. bukan lagi di atas sirkuit. melainkan di jalan raya yang berdesakan dengan mobil-mobil lain.


Hatinya sakit, ia merasa Dewa tak tegas, membiarkan wanita lain menggerayanginya.


Beberapa menit setelah Dewa pergi, ponselnya berbunyi. dan Cintya sengaja menjawab telpon itu tanpa berudara terlebih dahulu karena Id peneleponnya tak di kenal.


Ada suara wanita yang meminta Dewa datang dengan sangat manja dan bernada merajuk. jadi jangan salahkan Cintya yang menaruh curiga lalu mengikuti Dewa dengan motor sportnya.


"Mau cari perkara denganku? baiklah kau akan mendapatkannya." Cintya bermonolog.ia menghentikan laju motornya di sebuah taman tak jauh dari rumah Elvira. ia sengaja menunggu Dewa di sana.


Setelah sekian lama Cintya tak melihat mobil Dewa, ia memutuskan untuk kembali ke rumah. ia mengingat anak-anaknya yang pasti akan mencarinya meski bayi-bayi itu belum bisa berbicara.


Hari beranjak senja, matahari telah tenggelam di ufuk barat. Cintya membawa laju motornya cukup pelan. ini pertama kalinya ia pergi dari rumah tanpa sepengetahuan Dewa. tentu suaminya itu akan marah. tapi kali ini, Cintya tak akan takut karena menyalahi aturan Dewa. justru ia lah yang akan membuat perhitungan.


Satu hal yang tak di sadarinya adalah Dewa bisa saja melintasi jalan lain.

__ADS_1


Saat Cintya sampai di rumah, Dewa sudah berada di sana dengan dua bayinya. bahkan pakaiannya pria itu sudah berganti dengan pakaian rumahan.


Cintya tercengang, bagaimana bisa ia tak memikirkan alternatif lain selain jalanan yang penuh sesak itu hingga Dewa lebih dulu sampai dari pada dirinya


Sialan, ini sih bukan Dewa yang akan kena hukum. tapi dia sendiri yang mengundang hukuman itu. Cintya mendumel kesal.


"Duh cantiknya Mami, mantan Miss king," sindir Dews pada Cintya yang tampak menekuk muka.


"Emang balapan di mana cantik?"


Cintya bergeming.


"Yang menang siapa?" ejek Dewa sambil memiringkan kepala.


"Kakak, ih!" dengan menghentakkan kaki Cintya masuk ke kamar di ikutin Dewa di belakang nya setelah memberikan anaknya kepada Fira.


"Ngomong aja kalo mau ikut, gak perlu bawa motor kan?" tegur Dewa dengan suara lembut.


"Aku kan lagi stalking, mana bisa minta ijin dulu. aneh tau gak sih?"


Dewa tertawa, "ada-ada saja kamu ini sini peluk."


Dewa mengayunkan tangannya seperti seorang ibu yang memanghil anak nya.


"Tapi aku mau marah." rengrknya seperti biasa.


"Iya marah aja, tapi peluk dulu. kakak khawatir banget tadi."


"Gak mau ih, tadi habis di raba Elvira." tolak Cintya padahal tubuhnya sudah berada dalam pelukan suaminya.


Eh,,,

__ADS_1


***


Cintya, Waspadalah!!!


__ADS_2