
Pagi-pagi sekali Dewa sudah di buat sibuk. Telpon dari Cintya semalam berhasil membuatnya kembali tak bisa tidur.
"Lex, jadwal gue tolong di undur semua, gue mau nyusul Cinta."
Alex menghentikan kesibukannya lalu beralih menatap Dewa.
"Jadwal lo padat, bisa berantakan semuanya."
"Gak peduli,Cinta minta jemput. gue khawatir sama mereka." Dewa hanya datang untuk membubuhkan tanda tangan. selain itu, ia tak ingin melakukan apa-apa. tapi hari ini juga ia harus mendapatkan alamat persembunyian wanita tengil yang membuatnya kerepotan.
"Emang lo udah tau nyonya dimana?"
"Belum, kenapa? lo tau?"
"Apalagi gue, abang lo tuh ngeselin."
"Ck, dasar jelmaan Abu jahal dia itu. awas saja nanti jadi sodara gue."
Mengingat saat kemarin sore Dewa dan Alex terjebak dalam pekerjaan yang seharusnya bukan tanggung jawab mereka demi sebuah alamat, namun yang mereka dapat adalah kebohongan, membuat Dewa dingin sekali membakar kantor Pria yang ia sebut jelmaan Abu jahal itu.
"Sekarang kalian udah sodaraan perasaan,"
"Sayangnya lo bener." Dewa memberikan semua berkas yang ia telah tanda tangan. "sekarang gue mau cari Cinta."
"Gue ikut dong Wa, kangen gue sama nyonya."
Dewa menatap Alex dengan tatapan membunuh. sedangkan Alex memasang wajah puppy Eyesnya. dingin sekali Dewa menendang bokong Pria itu. ama maksudnya bengal kata kangen itu tadi.
"Berani banget lo kangen sama istri gue, udah bosan hidup lo!"
"Ya gimana, gue kan ngidam." jawab Alex tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Bohong banget lo!"
"Beneran Wa, suerr!" Alex mengacungkan dua jarinya pembentuk huruf V.
__ADS_1
"Ngerepotin, mirip benalu."
"Simbiosis Mutualisme. saling menguntungkan."
"Gak ada untungnye buat gue."
Meski berdebat di mulut, tapi langkah mereka selalu beriringan. semembingungkan itu memang mereka berdua.
"Jo! Jojo!" Dewa memanggil dengan syara keras, membuat supir yang sedang minum kopi di pos depan itu tersedak hingga terbatuk-batuk.
"Ya, ada apa Pak memang_ huk.. huk!"
"Kenapa lo?"
"Tidak apa-apa hanya tersedak minum." jawab Jojo yang baru berhenti batuk tapi masih menyisakan sedikit batuk.
"Ada apa bapak manggil saya?" tanya Jojo dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. sebisa mungkin ia menghindari bertatap muka dengan Dewa.
"Kamu pasti tau dimana Fira kan?" tanya Fewa to the point.
"Kenapa?"
"I_itu pak, nyonya menyuruh saya untuk tak bilang apa-apa pada bapak." jawab Jojo sedikit takut.
"Aku gak tanya dimana Cinta, tapi di mana Fira."
"Hah!" tentu saja Jojo tahu jika Dewa sedang membohonginya.
"Aku tanya di mana Fira!" Dewa mengulang pertanyaannya.
"Bu_buat apa Bapak tanya tentang Fira?" meski takut, setidaknya Jojo memiliki jawaban jika Cintya bertanya nanti.
"Aku mau tanya keadaan si kembar."
"Fura sedang pulang ke jawa."
__ADS_1
"Jawa luas Jo!"
"Fira berada di Gresik!"
"Apa!"
Jojo sampai harus memeriksa jantungnya apakah masih berdetak normal apa tidak.
"Tunggu, Gresik itu rumah siapa Jo?"
Jojo menelan ludah, ia semakin bingung mau menjawab apa.
"Ru_rumah saudara Fira."
Dewa mengusap wajahnya kasar. bagaimana bisa a terdampar di tempat asing yang jelas bukan saudaranya. apa ia tak khawatir berada di tempat asing dan orang-orang asing.
"Berikan alamatnya, biar aku susul ke sana." pinta Dewa dengan memasang wajah galaknya.
"Sepertinya tak perlu pak."
"Kenapa?" Suara Dewa meninggi. ia sudah sangat khawatir karena telpon semalam dan sekarang Jojo malah mencegahnya.
"Hari ini mereka balik ke jakarta. kemarin neng Aza demam kata Fira."
"Apa!" semakin tidak enak saja perasaan Dewa.
"Lex, cari tau jam berapa penerbangan mereka!" titah Dewa.
"Gimana caranya?" Alex makin bingung.
"Pikirkan sendiri caranya!"
"Dasar titisan Fir'aun!"
***
__ADS_1
Dikit ya gess