
Happy Reading...
Cintya berdiri dan langsung berlari, dan Dewa mengejar nya. akhirnya terjadi lah aksi kejar-kejaran di siang hari di bawah teriknya matahari.
"Bibi..." teriak Dewa setelah Cintya berhasil ia tangkap. "Bawa kesini!"
Cintya menatap tak percaya pada apa yang di bawa bibi dan satpam ke hadapan Dewa.
"Sayang, kita bersenang-senang." Dewa menyeringai.
Cintya menatap pilu pada Dewa dengan wajah memohon.
"Kakak, kau tak akan melakukannya," mohon Cintya dengan menggelengkan kepala.
"Ya sayang, kita akan melakukannya." tegas Dewa. saat ini Dewa tengah memperlihatkan kekuasaannya.
Dewa memang akan melakukan apapun untuk membahagiakan istrinya, meskipun itu akan sangat menyusahkan nya. tapi membiarkan Cintya bertindak anarkis itu bukanlah pilihan bijak.
Sebagai seorang suami dan Ayah dari anak-anaknya, Dewa harus menunjukkan contoh yang baik. apalagi masa lalu yang dia lewati sebagai anak yang luput dari perhatian membuatnya berpikir bahwa ia harus menjadi kepala keluarga yang baik untuk keluarganya.
"Aku gak mau kak," rengek Cintya mencoba merayu.
"Harus dan tak ada bantahan."
"Isssh, kenapa suami ku ini kejam sekali Ya Tuhan!" keluh Cintya hiperbola. kedua tangannya menengadah dengan wajah yang mendongak menghadap langit.
"Aww, silau men. lupa ding kalo lagi panas." ocehnya mengalihkan perhatian.
"Ya Tuhan, kenapa istri ku ini jahil sekali." balas Dewa menirukan perbuatan Cintya.
__ADS_1
"Plagiat no oke." cicit Cintya.
"Gak usah ngalihin perhatian, kamu mau kakak hukum lama atau sebentar?"
"Kalau bisa gak usah saja." Cintya nyengir. "itu gak enak kakak."
"Gak ada alasan ya, kamu badung amat jadi istri. gak ada potongan solehah sama sekali."
"Issh, mulutnya kalo ngomong gak kira-kira, emang tiap malam kita ngapain pake acara ngomong gak solehah." protes Cintya membuat Mang Ujang dan Bi Marni yang berada di sana tertawa sambil menunduk.
"Cinta ngomong apa?"
"Ngomong kenyataan kalo kakak minta jatah tiap malem."
Wajah Dewa memerah karena malu. ternyata ia masih tak mampu mengalahkan keceriwisan istrinya saat mendebat.
"Gak aku goda aja kakak ngintil mulu, apalagi aku goda?" gumamnya setengah mengatupkan mulut.
"Udah, gak usah berisik." saat Cintya lengah, Dewa menceburkan kaki istrinya ke dalam satu bak air yang berisi potongan es batu.
"Ampuuun!" jerit Cintya tak tahan karena rasa dingin yang menggigit membuat kakinya terasa kaku.
"Lima belas menit. gak kurang gak lebih."
Cintya hanya mampu terdiam mendengar ultimatum Dewa. dengan wajah bertekuk, cintya menikmati hukumannya. sesekali ia melempar Dewa dengan tatapan membunuh
Sedangkan si pelaku utama sedang menikmati perannya, duduk di kursi malas, menselonjorkan kaki sambil memegang ipadnya.
Di samping Dewa, di atas meja kecil sudah tersedia es kopyor yang sangat menggugah selera.
__ADS_1
"Kenapa? Haus?" tanya Dewa.
Cintya menggeleng untuk mempertahankan harga dirinya. karena ia memiliki misi lain yaitu setelah hukuman tak adil ini, ia berniat membalas Dewa.
Tunggu saja, pembalasan akan lebih kejam kisanak!
***
Di tempat lain, Elvira sedang mengamuk dan membanting barang-barang yang ada di atas meja rias nya.
Matanya merah dengan gigi yang beradu. penampilan nya yang masih sama sejak ia Kembali dari rumah Dewa membuat Elvira semakin meradsng.
"Dasar pelayan kurang ajar!" umpat Elvira yang ia tujukan untuk Cintya.
Elvira masih belum menerka jika orang yang membuat nya seperti orang gila adalah sang nyonya sendiri.
Entah ia yang terlalu bodoh atau apa, tapi yang jelas saat ini Elvira hanya menginginkan satu hal. yaitu ia dingin kembali ke rumah itu dan mengambil alih posisi sang tuan rumah.
Elvira menyeringai penuh dengan rencana. senyumnya yang lebih mirip senyum psikopat itu membuatnya srmakin menyeramkan.
"Aku akan kembali secepatnya, tunggu saja!" Elvira tersenyum jahat.
Elvira meninggalkan kamarnya yang sudah berantakan menuju kamar mandi. di rumah itu, ia hanya tinggal sendiri bersama seorang pelayan. sedangkan ibunya sendiri tinggal di rumah lama mereka.
Sejak Elvira mengandung, ia tinggal bersama Antoni. Elvira yang memilki tingkat emosional yang tinggi membuat nya sering melakukan perbuatan-perbuatan yang membahayakan orang lain. memaksakan kehendak adalah hal yang paling sering ia lakukan. dan seperti itu pula caranya mendapatkan Antoni. tapi kini sosok Antoni seolah hilang begitu saja dari otaknya. tergantikan keinginan untuk mendapatkan Dewa.
"Dewa, kau harus jadi milikku. harus!" Elvira mengepalkan tangan di dan dada penuh dengan tekad.
***
__ADS_1