
Happy Reading.....
"Apa ini Lex?" tanya Dewa memperlihatkan sebuah undangan di tangannya.
"Undangan, lo gak bisa liat?"
"Gue tau ini undangan, tapi siapa? gue gak kenal."
"Gue juga gak tau, tapi lo kan bisa cari tau di internet."
"Gue ngerti bego, maksud gue kenapa undang gue, gue kan gak ada bisnis mainan anak begini?"
Dengan seksama Dewa membaca sebuah undangan peluncuran mainan anak dari China untuknya. sejujurnya ia sangat heran dan merasa tak masuk akal. kenapa ia mendapatkan undangan yang tak ia ketahui dari siapa.
"Lo sendiri aja gak tau, gimana gue?" alih-alih menjawab. Alex justru balik bertanya. "lo pergi apa gak?"
"Apa menurut lo gue harus pergi?"
Alex mengedik bahu pertanda semua keputusan ia serahkan pada Dewa.
dan Dewa sendiri tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya memutuskan.
"Oke gue pergi, tapi gimana jika ini jebakan. apalagi masalah kita sendiri aja belum kelar."
"Jebakan apa maksud lo? itu kan di hotel mana ada jebakan dengan alamat jelas gitu."
"Kalau ada apa-apa sama gue gimana?"
"Rasional Wa, lo itu Businessman, masa lo mikir cetek gitu?"
"Gue kan cuma berjaga-jaga aja Lex, gimana jika ada yang niat celakain gue di sana? di sini aja kita kecolongan gini?"
"Terserah elo sih, kan elo yang di undang. tapi kalau lo gak datang mana lo tau maksudnya apa dia undang elo."
Dewa membenarkan ucapan Alex. meski sebenarnya ia sendiri sedikit ragu.
"Jadi gue pergi nih?" Alex mengangguk meyakinkan.
"Lo yakin?"
"Ya elah Wah, ribet amat lo!"
__ADS_1
"Oke, gue pergi tapi siapin orang buat kawal gue."
"Sejak kapan berandalan jadi penakut?" Ledek Alex dengan senyum meremehkan.
"Buat jaga-jaga Lex, gak mau gue jadi sasaran empuk karena undangan ini." Dewa menunjuk muka Alex dengan undangan berbentuk persegi panjang warna merah di tangannya.
***
Dua kali putaran waktu Cynthia lewati tanpa Dewa di pulau itu. hatinya di liputi kegelisahan. bukan karena Josh, melainkan karena Dewa yang seolah lupa untuk menghubunginya. dan tepat di hari ke tiga, Dewa justru meninggalkannya ke Cina. bukan hanya kesal tapi Cintya sangat ingin marah. jika saja tak ada masalah yang mendesak, tentunya Cintya akan memintanya tetap tinggal. atau paling tidak ia akan ikut bersama Dewa ke negeri tirai bambu tersebut.
"Mau ke mana?" tanya Josh yang sejak tadi mengikutinya.
"Jalan-jalan sebentar." jawab Cintya melanjutkan langkah.
"Biar aku temani." tawar Josh setelah ia menimbang-nimbang kalimatnya. ia tak ingin kejadian beberapa malam lalu yang membuat Cintya berpikir dirinya mengambil kesempatan akan kembali terlintas di pikiran Cintya.
"Tak perlu, aku bisa menjaga diri." jawab Cintya ketus.
"Nanti kamu kesasar bagaimana?" peringat Josh bermaksud menggoda. namun apa yang di tampilkan Cintya sungguh berada di luar ekspektasi nya. wanita itu tampak cuek. tak memperlihatkan raut takut sedikit pun.
"Ini kan pulau pribadi, kalau aku hilang kalian tinggal cari di pulau ini. kalian pasti akan menemukan aku. kecuali jika aku di mangsa hiu. atau kau memelihara buaya di tempat ini."
Bukankah akan lebih mudah mengatakan aku tak akan kesasar dari pada mengatakan kalimat panjang seperti itu. ah, sepertinya wanita itu berada di puncak Bad Mood nya.
"Aku kan hanya mengkhawatirkan mu, kenapa kau sangat marah?" Josh berusaha mengembalikan keadaan agar sedikit baik. ia tak ingin Cintya bersikap dingin atau ketus terhadapnya. Josh hanya memiliki waktu sebentar bersamanya. tentu saja ia tak ingin melewatkan kesempatan itu.
"Tak perlu, yang seharusnya mengkhawatirkan ku saja sedang bersenang-senang sekarang." jawab Cintya tanpa mempedulikan siapa yang sedang ia marahi saat ini.
"Suami kamu sedang bekerja, tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Bodo!"
Josh menggaruk kepalanya yang tak gatal. ia sangat tidak berpengalaman dalam membujuk wanita yang sedang marah. jadi ia tak tahu harus melakukan apa kecuali membuntuti Cintya.
"Jangan mengikuti aku!" Cintya berbalik cepat, hingga Josh yang berada di belakangnya hampir menubruknya.
"Aku gak ngikuti kamu." jawab Josh dengan seulas senyum.
Melihat Cintya yang ke kanak-kanakan hatinya merasa semakin ter-remas. ia semakin menyesali keterlambatannya untuk memiliki gadis impiannya.
"Tadi?"
__ADS_1
"Ini laut punya negara dan ini pulau pribadi keluargaku, jadi aku bebas pergi kemanapun sesuka hati dan sekuat kaki ku melangkah."
Cintya menekuk wajah kesal. memang benar yang di katakan Josh padanya. dan ia hanya tamu di sana.
"Ya sudah jalan sendiri-sendiri, jangan di belakangku."
Cintya melangkah terlebih dahulu dan Josh tetap mengikutinya dari jarak aman yang tak akan membuat Cintya marah padanya.
"Lucu sekali, Dewa sangat beruntung memilikinya." Josh tersenyum perih menyesali ketidak beruntungan nya.
***
Angin siang yang menerpa, membawa kehangatan yang menyengat. namun itu tak membuat Cintya membawa langkahnya kembali ke Villa. ia justru menikmati panasnya pasir putih yang menggigit kaki telanjangnya. karena setelah rasa panas itu, dinginnya air laut akan mendinginkannya. sama seperti amarahnya saat ini, ia yakin setelah ini Dewa akan menelponnya dan meredakan amarah dalam dadanya.
Hari kelima kepergian Dewa ke Cina, Dewa sangat jarang menelponnya. itu membuat amarah sang nyonya seperti mengkristal. dalam otaknya ia sudah menyiapkan kata-kata untuk mencerca dan memarahi Dewa jika suaminya itu pulang nanti.
"Dasar suami gak peka, Om-om tua gak pengertian." gerutu Cintya. ia dengan sembarangan melemparkan batu karang kecil ke air laut yang tergenang. sehingga menimbulkan suara gemercik dan cipratan air ke wajahnya sendiri
"Apa bagusnya Cina di bandingkan aku yang istrinya, menyebalkan." masih dengan intonasi yang sama, Wanita hamil itu menggerutu mengulang-ulang kalimatnya.
Berkali-kali Cintya mengumpat di depan ponselnya. berharap Dewa mendengar umpatannya. namun sayang semuanya sia-sia karena ponsel dalam genggamannya tak juga bergetar.
Cintya terus berjalan, menjauh hingga ia menjumpai batu karang yang besar berada di tepian pantai. ia lantas mendekat dan mendudukinya. membiarkan ombak dan riak-riak kecil menghantam sebagian tubuh nya. mungkin dengan seperti itu, rasa panas yang menempati rongga dadanya akan sedikit mereda.
Untuk beberapa saat lamanya ia masih terdiam, memandang jauh pada ombak yang menggulung di tengah laut lalu pecah di tepian pantai. hingga matahari telah berpindah ke sisi barat.
"Kenapa pergi terlalu jauh?"
Cintya tak menoleh ke sumber suara. Deburan ombak yang menghantam karang lebih menarik perhatiannya.
Semakin sore, air pasang naik semakin tinggi. ia tak keberatan meski kakinya kini bersentuhan dengan air laut.
"Belum terlalu jauh, aku malah mau pergi ke China dengan berenang."
Sang pemilik suara tertawa tanpa suara.
"Sudah sore, pulang Yuk." ajaknya tanpa mendekat. ia masih bertahan beberapa langkah di belakang Cintya.
"Gak mau, aku mau menginap di sini." jawab Cintya ketus tanpa mengalihkan pandangan.
"Kalau begitu biar ku temani."
__ADS_1
***