
Happy Reading...
Josh tersadar. ia merutuki dirinya karena malah terlena dalam pertautan bibirnya. padahal awalnya ia hanya dingin menggoda saja tapi kenapa justru ia yang malah tergoda.
Tapi kok malah nagih ya...
"Siapa nama kamu Nona." Josh berjalan beberapa langkah di belakang Jacinta. ia tak berani menjajari langkah gadis itu karena sadar saat ini ia merasakan jantungnya berdebar.
Apakah karena ciuman tadi? lalu kemana jiwa playboy yang pernah ia banggakan dulu. ah sudahlah, Josh sudah lama menanggalkan gelar itu.
"Siti Maimunah." jawaban Jacinta membuat Josh harus berpikir sebentar.
Nama apa itu tanya Josh dalam hati.
"Yang benar saja, kamu bohongi aku kan?"
tanya Josh tak percaya, tentu saja. jika di lihat dari penampilan gadis itu,tentu saja ia sama sekali tak cocok dengan nama kampungan itu.
"Tadi paman tanya, sudah aku jawab dan sekarang tak percaya. terus aku harua apa paman." Jacinta menghentikan langkahnya mendadak, membuat Josh dengan segera menghentikan langkahnya juga.
"Kenapa berhenti mendadak!"
"Apa rumah paman masih jauh?"
See, kenapa anak ini tak ada takut-takutnya pada orang asing.
"Memangnya kapan aku mengatakan punya rumah di sini?"
Jacinta memandang dingin pada Josh yang juga sedang menatapnya. tapi Pandangan Josh berbeda. dalam diam Josh sedang menelisik wajah Jacinta. untuk sesaat mereka saling diam dengan pikiran masing-masing.
"Paman, coba mendekat kesini." Josh tak menghiraukan permintaan bernada perintah itu. ia tak tahu apa yang ada di pikiran gadis yang belum di kenalnya itu. mungkin saja gadis itu memiliki rwncana buruk padanya.
"Aku tidak berada di bawah perintah siapapun."
"Ayolah paman, menurut lah. aku sudah lelah sejak tadi berputar-putar di sini tapi belum juga melihat rumahmu."
Gerutuan Jacinta membuat Josh tertawa dalam hati. memang sejak tadi Josh membiarkan Jacinta pemimpin perjalanan mereka. jika harus berbelok, Josh membiarkan Jacinta berjalan lurus. siapa suruh ia menjadi gadis ya g sangat menyebalkan.
__ADS_1
"Aku kan mendekat, tapi ada Syaratnya." ucap Josh di bubuhi senyum penuh arti.
"Apa? cepat katakan, aku sudah sangat lelah dan mengantuk dan juga lapar tentunya."
Tanpa memikirkan jika gadis itu akan menjebaknya, Josh mendekat.
"Berikan aku satu ciuman." niatnya hanya menggoda tapi apa yang di lakukan gadis itu membuat Josh tertegun.
Cup.
Jacinta mengecup cepat rahang Josh. membuat darah pria itu tiba-tiba berdesir hebat.
"Kau dalam kuasaku gadis kecil." janji Josh dalam hati.
"Berbalik lah paman!" perintah Jacinta
"Hah!"
"Cepatlah paman!" meski bingung Josh hanya menurut. membalikkan badan memunggungi gadis cerewet itu.
"Berjongkok!" Josh masih menurut.
"Sudah paman, berdirilah!"
"Turun," Jacinta tak menghiraukan. gadis itu dengan santainya menempelkan kepalanya
di punggung Josh. "turunlah, Si_Siti." lidah Josh hampir terpeleset menyebut nama yang menurut nya aneh.
"Aku ngantuk, gendong aku paman. aku sangat lelah dan juga lapar. dua hari aku terdampar hanya memakan permen karet."
Josh terpaku mendengar suara lirih dari balik punggungnya. ia bahkan tak menduga jika gadis yang sepertinya sudah tertidur nyaman di punggungnya itu belum makan selama dua hari.
Dengan perlahan Josh menegakkan tubuhnya dan membawa tubuh gadis yang tertidur di punggungnya itu pulang ke villa.
***
Di dalam kamar, Dewa sedang bersiap menghadapi kemarahan Cintya akibat kejahilan Leo.
__ADS_1
"Sayang, jangan percaya ucapan Leo, dia hanya ingin mengganggumu saja."
Cintya terus saja membuka kancing kemeja Dewa tanpa berniat membuka suara. dengan teliti ia memindai setiap inci kulit tubuh Dewa. siapa tahu ada warna lain dia atas kulit bersih itu.
"Coba berputar."
Dewa menuruti perintah Istrinya. dengan pelan ia memutar tubuhnya membelakangi Cintya dengan tangan terangkat. seperti seorang penjahat yang tertangkap tangan sedang melakukan kejahatan.
"Bersih," gumam Cintya.
"Puas?" tanya Dewa dengan dengan geraman tertahan.
"Tidak." jawab Cintya sedikit ketus.
Dewa memutar bola mata malas. bisa saja wanita ini memulai drama.
"Baiklah, periksa lebih teliti, siapa tau kamu menemukan sesuatu." Sindir Dewa campur menggoda.
Cintya semakin mengerucutkan bibir. bukannya menenangkan tapi Dewa justru sengaja membuatnya mempercayai ucapan Leo.
"Coba lihat yang di bawah, siapa tahu saja lecet."
Dewa melotot, apa-apaan istrinya itu. tak tahukah dia jika perbuatannya itu akan memancing sesuatu yang selama seminggu ini ia paksa untuk tenang. dan sekarang dengan tenangnya wanita itu ingin memeriksanya. yang artinya wanita itu juga akan memegang dan merabanya. apa Dewa harua senang akan hal ini?
Baiklah, perdebatan selesai karena nyatanya Dewa tak akan tahan dengan pemeriksaan lebih lanjut. hanya karena sentuhan di kepala ikat pinggang nya saja Dewa sudah merasa kepanasan.
"Cukup sayang." Dewa menangkap tangan halus istrinya lalu meremasnya pelan.
Cintya melirik genit dengan senyum menggoda. yang Dewa tangkap sebagai kode.
"Ini akan sangat lama sayang."
Dewa dengan suara beratnya mulai meninggalkan jejak-jejak cinta di wajah Cintya. mulai dari bibir dagu dan meninggalkan jejak kepemilikan di leher hingga ke bawah. dan berakhirlah mereka di pusar ranjang dengan saling memberi dan menerima. melebur segala hasrat kerinduan dalam satu gairah cinta yang sama.
***
Dahlah kalian lanjutkan sendiri author takut dosa wkkk .
__ADS_1
Mak Othor mengucapkan, Marhaban Ya Ramadan, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan.
Mohon maaf apabila ada salah-salah kata yang menyinggung. sungguh tak ada maksud untuk menyakiti. anggap saja itu bagian dari kehaluan yang berlebihan.wkkk..