
Happy Reading.
Dengan wajah bercahaya mu, Kau menghias siang dan malam ku.
Seketika aku kehilangan kesadaran. dan yang Ku tahu aku sedang jatuh cinta.
Dalam setiap bayangan, dalam setiap gerak. aku hanya mampu melihatmu.
Seketika ku sadar bahwa aku telah kehilangan hidup ku .
Dalam setiap detak jantungku meneriakkan rindu atas nama mu.
Kita tak pernah bisa terpisahkan. seperti teratai yang slalu di dalam air, kau tetap dalam hatiku.
Seperti keinginan sungai untuk mengalir ke laut, aku membawa langkahku kembali menyeret ke dalam bayang bahagia.
Namun, Iringan mimpi harus terhenti ketika kau tak ada di sana, bahkan di saat itu.. ketika musim bunga mengembangkan kelopak seindah rindu.
Jika tak ada cinta, maka takkan ada apa-apa lagi.
Dentingan piano yang mengiringi suara hati yang terlantun dari bibir Josh membuat para tamu yang hadir dalam pesta malam itu terhanyut. pria itu sangat menikmati permainannya, pandangannya tak berpaling dari Cintya yang berdiri tak jauh darinya.
Permainan piano Josh masih sangat bagus, di tambah lagi saat pria itu mengungkapkan kalimat-kalimat penuh makna. Josh menolak saat Leo mintanya membawa kan sebuah lagu. namun ia bersedia jika hanya memainkan sebuah alat musik.
Josh mengakhiri permainan pianonya dengan tepuk tangan para tamu undangan. dengan seluas senyum melangkah, kembali bergabung bersama Dewa dan Leo.
"Gue kira lo udah lupa cara maennya."
Josh hanya tersenyum menanggapi perkataan Dewa.
"Gimana bisa lupa jika dalam setiap dentingan nya, gue menyebutkan namanya." bibirnya berkata, namun dengan satu lirikan yang mengarah ke arah Cintya.
"Gue jadi penasaran, wajah gadis itu, apa lo tau?" tanya Dewa pada Leo. pria itu tersenyum lalu mengangguk samar.
"Coba bilang sama gue, modelannya kek apa? Aww_ apa sih sayang?" Dewa mengelus pinggangnya yang panas karena cubitan Cintya.
__ADS_1
"Kok gitu banget sih pertanyaannya? kalau Kak Josh aja gak bisa lupa berarti dia wanita spesial." sungut Cintya kesalendengar ucapan suaminya.
Josh tersenyum samar, Kak josh, andai setiap hari dia memanggil seperti itu.
Brrr..
Entah dari mana datangnya burung gereja yang langsung melintasi sisi kepala Cintya. yang membuat wanita itu terperanjat.
"Burung.. burung.. kakak kejar..." ucap Cintya setengah heboh sambil berlari kecil mengejar burung yang sepertinya baru bisa terbang itu.
"Kakak.. ayo kejar!" Cintya menarik sembarangan tangan pria yang ada di samping nya.
Degh!
JantungnJos berdentum akibat apa yang Cintya lakukan. sedangkan Dewa tak mampu mencegah karena kejadiannya begitu cepat.
Tanpa melihat tangan siapa yang sedang ia pegang, Cintya begitu saja menarik untuk mengikutinya.
"Kakak aku mau burung itu." Cintya menunjuk burung yang terbang rendah itu.
Dewa mencelos, sedangkan Josh merasa tak enak dengan keadaan. apalagi saat tatapan tajam Dewa mengarah padanya.
"Cinta berhenti, jangan lari." Dewa mengejar dengan sedikit berteriak karena Cintya bukan hanya berjalan cepat melainkan setengah berlari dengan hells nya.
"Sayang,,"
Suara Dewa tertelan oleh luasnya bangunan. sehingga Cintya tak mampu mendengar panggilannya.
"Cinta berhenti, kamu sedang hamil sayang." Dewa mengeraskan suaranya. bukannya berhenti, tapi Cintya semakin menjauh, keluar dari area pesta. hanya Josh yang menoleh tapi ia tak menghentikan langkahnya. ia sendiri merasa bingung dengan apa yang menimpanya.
"Josh, buat dia berhenti." Dewa berteriak agar Josh mendengar nya. tentu saja Josh mampu mendengarnya. tapi ia seperti sengaja menulikan pendengaran nya.
Hingga akhirnya Cintya berhenti di sebuah ruang yang luas. jauh dari tempat berlangsung nya pesta.
"Yah, burungnya hilang." suara Cintya terdengar sedih.
__ADS_1
"Biar kakak yang cari." Josh yang menjawab.
"Tapi cepetan ya kak," pintar Cintya tanpa menoleh. tangannya bahkan masih menggenggam jari Josh.
"Iya, kamu tunggu di sini saja." pesan Josh lalu menjauh dari Cintya. bukan untuk mencari burung itu melainkan memadamkan lampu.
Plak!
Seketika keadaan mulai gelap. Cintya terpekik dalam. dengan kebingungan yang sama dengan kejadian beberapa tahun lalu, Cintya berusaha menggapai apapun untuk membantunya mencari jalan.
"Kakak, tolong."
"Apakah dia gadis yang sama." gumam Josh semakin tak mengerti dengan keadaan hatinya.
"Kakak tolong, aku takut!" Cintya berteriak dengan suara bergetar. ia sudah menangis sekarang.
Meskipun Josh berada tak jauh darinya, ia sengaja hanya menatap dalam kegelapan. ia sedang menunggu kejadian setelahnya.
"Kakak, tolong.. aku takut!" suara Cintya melemah. persis seperti kejadian waktu ia kecil dulu.
"Sayang, kakak di sini."
Josh mempertajam pendengarannya. ia sampai membulatkan mata dengan bibir bergetar menahan gejolak batinnya.
"Kakak kenapa lama sekali." Cintya berusaha bangun dari posisi dimana berjongkok nya.
"Tadi kakak kehilangan jejak kamu. sini gendong."
Josh hanya mampu terdiam melihat Dewa menggendong Cintya keluar dari sana. hingga punggung Dewa menghilang di balik tembok penyekat ruangan.
"Bagaimana mungkin, apa ini hanya kebetulan. tapi tak mungkin sama persis." pertanyaan yang ia tujukan untuk dirinya sendiri dan ia sendiri yang berusaha menemukan jawaban.
"Ini mustahil sangat mustahil." Josh meremas frustasi rambutnya.
Josh memegang dadanya. sulit di percaya. sungguh kebetulan yang indah.
__ADS_1
***
Loh.. loh.. loh...