Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Umpatan Dewa.


__ADS_3

Alex dan Dewa terburu-buru keluar dari gedung bertingkat Herlambang Corp. mereka seolah ingin adu kecepatan setelah mendengar berita dari Leo.


Dalam beberapa menit saja mereka telah sampai di kantor Leo. bahkan rasa lelah yang Dewa rasa kan terlupa begitu saja setelah ia mendapat kabar tentang istrinya.


Cintya hilang? ya Tuhan. Dewa harus menghadapai drama apalagi ini.


"Lex lo tau apa tentang bepergian Cinta?" di antara langkah cepat nya, Dewa ngasih sempat menuduh Alex lewat pertanyaanya.


"Gak ada, gue gak tau apa-apa, sumpah!" Alex sampai harus mengangkat jarinya demi membuat Dewa percaya.


"Awas aja lo sampai ketauan ikut andil kepergian Cinta. gue potong gaji lima puluh persen." Ancam Dewa tepat di dekat telinga Alex hingga membuat pria itu harus memiringkan kepalanya.


"Biasa aja kali ngancamnya, gak usah segitunya. bikin gue takut aja lo!"


"Mana ada orang ketakutan cengar-cengir kayak lo, yang ada gue ngeri liatin muka mesum lo, jangan-jangan lo udah mulai bosan sama lubang? demen batang lo sekarang?"


"Jijik gue denger lo ngomong!" tak tanggung-tanggung kedua tangan pria dewasa itu mulai saling memukul kepala lawannya. tak peduli jika saat itu mereka jadi bahan tontonan para karyawan yang masih lembur.


Tibalah mereka di nyang kerja Leo. di sana mereka di sambut oleh pria yang menjadi tersangka utama dalam hilangnya Cintya.


"Kalian sudah datang rupanya." tenang sekali ucapannya. jantung Dewa sudah hampir melorot mendengar berita hilangnya istri dan anaknya. dan sekarang, lihatlah! bertapa menyebalkan nya pria yang berstatus kakak iparnya itu.


"Kok lo masih tenang aja?" tanya Dewa sengit. ingin sekali ia mengacak-acak meja yang penuh dengan tumpukan berkas-berkas itu.


"Emang gue harus apa nangis? emangnya gue elo? cengeng."


Kalian dengar apa yang di katakan pria jelmaan Abu jahal itu? sungguh Dewa ingin sekali meremukkan rahangnya.


"Apa maksud lo ngomong Cinta hilang?" itu bukan pertanyaan tapi tuduhan. tidak tahu saja Dewa hampir kehilangan jantungnya hanya karena berita itu.


"Yang ngomong siapa?" Leo mendongak menatap dua pria dengan wajah khawatir di depannya.


"Dia!" tunjuknya pada Alex.


"Tanya aja sama dia, ngapain ngomong begitu?"


Mata Alex membola mendengar itu. bisa-bisanya Leo menumpahkan kesalahan padanya.


"Tadi abang bilang?"


Duh bisa-bisa mati di gantung sama Dewa nih kalo sumber beritanya oleng gini.


Dewa sudah menatap tajam pada Alex bersikap menerkam.


"Lex!" tanya Dewa dengan pandangan membunuh.

__ADS_1


"Beneran tadi gue denger abang bilang nyonya hilang?" Alex berusaha membela diri. posisinya benar-benar tak menguntungkan saat ini.


"Bang!" panggil Alex mencari dukungan dari Leo.


"Oh, yang tadi itu?" wajah Leo sama sekali tak menampilkan penyesalan. "Tadi gue ada sambungan lain, mereka bilang ponsel Cintya yang baru ilang kecebur empang."


Alex dan Dewa memekik, apa yang istrinya lakukan di empang, Dewa semakin tak mengerti dengan ulah istrinya itu.


"Sekarang cinta di mana bang?"


"Gue gak mau bilang sama lo."


"Maksud lo?"


"Itu permintaan bini lo!"


"Gak mungkin!"


"Tanya aja sama orangnya nanti."


Ck, Dewa berdecak. ia merasa di permainkan. padahal dia sudah kalangan kabut dengan kaburnya Cintya.


"Niat banget lo kerjain gue." Dewa menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang kerja Leo. tak peduli dengan dua orang paling menyebalkan itu, Dewa lebih memilih memejamkan matanya.


"Lo kalo mau tidur jangan di sini, pulang sono!"


Begitu juga dengan Alex yang juga kesal, ia pun turut duduk di sofa tunggal di depan Dewa.


"Daripada kalian gak guna, mending kalian bantuin gue."


"Ogah!" jawab Dewa dan Alex kompak.


Leo sampai harus mendongak pendengar jawaban tanpa di komando itu.


"Ya sudah, biar aja Cintya ngadem dulu. lo kan gak butuh tau tempat tinggal mereka sekarang."


Pendengar ucapan Leo, Dewa sontak berdiri. apapun akan dia lakukan drmi pendapat alamat Cintya.


"Oke gue bantu!" tawarnya penuh semangat.


Leo tersenyum jahat, mudah sekali memanfaatkan otak cerdas Dewa demi memuluskan rencananya.


"Kalian bantu gue selsaiin ini." Leo memberikan tumpukan berkas di atas mejanya.


"Harus selesai malam ini juga."

__ADS_1


"Sialan lo, kalo gini aja lo minta bantuan, gak yakin gue serahin Lilian sama Lo!"


Tak urung juga Dewa mengambil apa yang di serahkan oleh Leo meski mulutnya sambil mengomel.


"Gak usah berisik kalo gak mau pusah lama sama Cintya."


"Bener-bener lu! Lex bantuin kakak ipar gue yang durjana itu."


Alex yang sedang bersantai hanya mendengus mendengar oerintah Dewa.


"Baru juga mau istirahat." keluh Alex.


"Jam kerja lo belum kelar, kecui.lo mau potong bonus."


"Ngancam mulu perasaan dari tadi."


Dengan sedikit malas, dua pria itu tunduk di bawah perintah Leo.


Di surabaya, Cintya sedang bersantai menikmati liburan dadakannya.


Berada di halaman luas belakang rumah yang tampak asri, sepertinya Cintya benar-benar lupa dengan suaminya.


"Non Yakin mau dua bulan di sini?" tanya Fira. mereka sedang duduk di balai bambu menghadap kolam ikan air tawar.


"Maunya sih, tapi bentar lagi kan nikahan kaki Leo."


"Jadi kapan kita balik." tanya Fira sedikit takut.


"Bilang aja kalo kamu kangen Jojo." Fira tersenyum malu-malu.


"Aku juga sih sebenarnya." ungkapin Cintya dengan wajah sendunya. "padahal baru dua hati kita kabur." lalu terkekeh lucu.


"Namanya juga Cinta Non, himana dengan Bapak ya Non?"


Cintya tetkikik, "Malam ini aku mau telpon dia, coba lihat reaksinya kek gimana."


***


Malam pun tiba, dengan ponsel yang baru saja ia beli, Cintya menelpon Dewa.


"Kakak, jemput aku!" Belum juga bertanya kabar, Cintya sudah mematikan panggilannya. sedangkan Dewa hanya mampu melongo.


"Aku mau jemput ke mana cinta?" tanya Dewa putus asa. bagaimana tidak putus asa karena nyatanya Leo membohonginya. Pria itu tidak benar-benar memberikan alamat Cintya.


"Dasar kakak beradik gak ada akhlak!"

__ADS_1


**"


__ADS_2