Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Suasana baru.


__ADS_3

Happy Reading...


Matahari telah meninggi saat Dewa benar-benar meninggal kan rumah untuk mengantarkan Elvira.


Tak kalah cepat, Cintya pun berlari keluar rumah. sudah ada seseorang yang menunggunya di sana.


Dewa melajukan mobilnya tak begitu cepat . tapi ia tak menyadari jika ada seseorang yang mengikutinya di belakang.


"Jangan terlalu dekat!" Cintya memukul punggung pria yang memboncengnya.


Si pengendara motor melambat, cukup jauh dari mobil Dewa.


"Jangan terlalu jauh juga!" protes Cintya lagi karena mobil Dewa hampir hilang dari pandangan.


"Bawel ih, lo aja yang bawa." pinta pria itu. kesal sekali ia mendengar ocehan Cintya. bukannya duduk saja diam, dia malah membuat gaduh.


"Ih ogah, entar kakak tahu aku di hukum lagi." tolak Cintya mentah-mentah.


"Ya makanya diem, gak usah berisik."


Cintya mengatupkan bibirnya meski ia kesal dengan cara Pria mengemudikan motornya.


"Loh.. loh.. mereka itu kemana, ini bukan arah rumah sakit. juga bukan arah tempat dokter praktek yang sering aku kunjungi dulu."


Cintya masih mengoceh lantaran mobil Dewa berbelok dari arah yang sering mereka lewati.


Mobil Dewa meluncur tenang sedangkan Motor yang membawa Cintya harus menjaga jarak aman agar Dewa tak sampai mengenali motor yang mereka gunakan.


Saat jalanan sepi, Mobil Dewa berlalu lebih cepat. dan motor Cintya pun dengan gesit mengejar.


"Cepetan dikit napa, berasa naik siput aku tuh," Cintya tak henti-hentinya menggerutu membuat orang yang memboncengnya mengeratkan gigi menahan geram.


"Udah diem, ini jarak paling aman. kalo kita lebih deket, di sableng bisa ngenali kita."


Akhirnya Cintya mengalah, ia hanya menurut saja bagaimana cara pria itu mengikuti Dewa.

__ADS_1


Setelah acara kejar kejaran selama beberapa menit, akhirnya mobil Dewa berhenti di depan sebuah hotel yang bukan miliknya.


Mata Cintya membola dengan jantung berdegup kencang. mau apa suaminya itu datang ke hotel bersama Elvira.


Cintya dan temannya menghentikan motor mereka beberapa meter dari area hotel namun apa yang di lakukan Dewa masih dalam jangkauan pandangannya.


Darah Cintya semakin mendidih tatkala Dewa dengan manisnya membuka pintu mobil dan membantu Elvira keluar dari sana.


"Mau apa mereka?" Cintya bertanya pada Pria yang masih bertengger di atas motornya.


Tak menghiraukan pertanyaan Cintya, pria itu malah sibuk dengan gawainya.


"Pak Ken!" Cintya mengguncang lengan Alex karena tak menghiraukan pertanyannya.


"Apa sih Nya," tanya Alex kesal. ia sampai tak mampu memegang ponselnya dengan benar.


"Itu mereka mau ngapain?" Cintya gemes, ingin sekali ia mencak-mencak saat itu juga jika saja ia tak sedang dalam penyamaran.


"Tau, telpon saja sono laki lo!" masih dengan ketidak pedulian yang sama Alex menjawab.


"Dari pada penasaran!"


"Oh ya benar," Cintya menyetujui ide yang Alex berikan. ia langsung mengambil ponsel yang ia kantongi di jaketnya.


"Aduh, ponsel ku gak ada," Cintya mencari di semua kantong yang ada di pakaian nya.


Alex hanya memperhatikan tingkah konyol dari istri bosnya itu. bagaimana bisa ia juga terjebak dalam permintaan sang nyonya yang sebetulnya tak berhak untuk memerintah nya itu. dan dengan bodohnya ia menyetujui begitu saja tanpa berpikir. dan jika Dewa sampai tahu hal ini, pasti besok ia tak akan di biarkan menganggur.


Sial! sangat sial sekali.


"Pinjam punya pak Ken saja." tanpa menunggu persetujuan dari empunya ponsel, Cintya merampas begitu saja ponsel yang ada di genggaman Alex. padahal saat itu ia sedang berbalas pesan dengan Sherryl.


Alex melongo takjub, ternyata bukan hanya Dewa, bahkan dirinya yang tak ada hubungan apapun dengan sang nyonya Direktur pun tak mampu menolak keinginan wanita itu.


Jika bukan karena ia yang tiba-tiba aneh, dan begitu menyukai Cintya, ia tak akan mau di suruh ini itu demi menuruti kekonyolan wanita dua anak itu. hormon kehamilan Sherryl benar-benar membuatnya menjadi pria aneh.

__ADS_1


"Hallo!" sapa Dewa di seberang telpon.


Setelah memastikan Dewa yang menjawab telponnya, Cintya memberikan ponsel itu dan meminta Alex untuk bicara dengannya. dan dengan kebodohan yang sama, Alex tak mampu menolak.


"Lagi dimana?" tanya Alex atas arahan Cintya.


"Di hotel," jawab Dewa jujur.


Cintya membelalakkan mata, Dewa tak menutupi apapun. Cintya dapat mendengar apapun yang ada dalam telpon itu karena Alex telah meloud speakernya.


"Ngapain?"


"Cari suasana baru!"


Oh pintar sekali Dewa memancing emosi ibu muda itu.


Cintya mengeram tertahan. ini benar-benar tak bisa di biarkan.


"Gue ke rumah lo sekarang."


"Jangan!" sergah Dewa cepat.


Semakin meradang saja Cintya mendengarnya.


"Cepetan, habis ini gue harus antar Cherry check up." alasan Alex yang kebetulan memang benar. ia sudah ada janji dengan Sherryl untuk me ngantarnya Check kehamilan.


"Oke temui gue di rumah sakit biasa."


Alex menutup telponnya terlebih dulu. di lihatnya wajah Cintya sudah di naungi amarah yang memuncak.


"Pak Ken, lancarkan rencana kedua!"


Alex hanya mampu menelan ludah mendengar titah sang nyonya. rencana kedua yang Cintya maksud adalah memberikan hukuman untuk Dewa yang akan membuat pria itu sangat tersiksa.


***

__ADS_1


yang ini tidak mengulang ya ges


__ADS_2