
Happy Reading...
Seorang wanita dengan penampilan yang luar biasa masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu.
Wanita dengan pakaian ketat warna merah bermotif polkadot warna putih itu tampak santai berjalan menuju ke halaman belakang di mana Dewa dan keluarga kecilnya sedang menghabiskan waktu.
Stiletto dengan hiasan bunga yang terlalu besar dari biasanya tampak kontras dengan warna gaun yang di kenakan nya. serta payung dengan ikon merk bumbu masak yang ia gunakan untuk melindunginya dari panas tak pernah ia turunkan meski saat itu cuaca sedang mendung.
Cintya menyembunyikan senyum. sedangkan Dewa hanya melongo, menatap Cintya penuh tanya.
Alex yang saat itu sedang berada di rumah Dewa bersama Sherryl hanya mampu memperlihatkan senyum konyolnya. tapi satu wanita tampak shock, memandang tak berkedip pada wanita yang baru datang yang ia tahu adalah Adisti, sang nyonya besar Herlambang.
"Hai, kenapa aku mendapatkan sambutan dari kalian?" ucapnya riang seolah seperti biasa yang ia lakukan dengan orang disekitarnya.
"Selamat datang nyonya, apa liburan anda menyenangkan?" tanya Cintya tak kalah riang.
"Di mana anak dan suamiku Cinta? kau menjaga mereka dengan baik kan?" tanya wanita bergincu maron gelap itu.
Dewa membelalakkan mata sambil menelan saliva nya yang terasa lengket.
"Sesuai perintah anda nyonya." Jawab Cintya sambil tangannya menangkup dada kiri lalu membungkuk hormat seperti penghormatan seorang pelayan pada majikannya.
"Baguslah kalau begitu, aku tidak menyesal memintamu menggantikan aku." wanita itu berjalan melewati Cintya masih dengan memakai payung bumbu masaknya serta tas tangan yang berhias manik-manik.
"Hai Twins, anak Mami yang tampan dan cantik," sapanya pada Si kembar.
Bayi-bayi itu langsung menangis serempak tanpa di komando. Dewa sampai berjangkit karenanya. lengkingan dari putrinya menyadarkannya dari keterpakuan. sekarang ia justru di hadapkan dengan drama tangisan anak-anaknya.
Sesuai perjanjian damai, Dewa harus mengambil alih tanggung jawab Cintya pada si kembar saat Dewa berada di rumah.
"Uhh, pasti kalian kangen yah sama Mami, sampai nangis gini. cup cup cup."
Dewa semakin meringis, karena bukannya diam, justru anak-anaknya semakin histeris berada dekat dengan wanita beralis tebal itu.
"Sayang, apa kau tak merindukan aku?" tanya wanita itu pada Dewa.
Tak tahu harus menjawab apa, yang jelas saat ini pria itu ingin menyeret Cintya ke dalam kamar untuk menuntut penjelasan dan memberikan hukuman. mungkin dengan beberapa ronde permainan panas di atas ranjang Cintya akan kapok.
Dewa hanya menampilkan senyum anehnya mendengar wanita aneh itu memanggilnya sayang.
"Sayang," panggil Dewa. bukan pada wanita bergaun polkadot melainkan pada Cintya yang sedang menenangkan putranya.
__ADS_1
Di pojok Gazebo yang lain, Alex menyembunyikan diri di balik punggung Sherryl sambil menahan tawanya yang ingin meledak. satu tangannya menutup mulut sedang tangan yang lain mengelus perut Sherryl yang mulai membuncit.
"Kenapa Tuan?" jawab Cintya seperti tak tahu penderitaan Dewa.
Jika tak malu pada semua orang, mungkin Dewa sudah terkencing di celana karena saat ini yang mengaku sebagai istri dan memanggilnya sayang adalah banci yang sangat ia takuti.
"Aku merasa pusing, bisa kau kondisi kan semua ini?" pintanya tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Sebentar tuan, den Akhas masih rewel." jawab Cintya tanpa melirik. padahal Dewa sudah bermandikan keringat.
"Lex, apa kita memiliki pekerjaan yang belum selesai di kantor?" tanya-nya pada sang Asisten yang berusaha meredakan tawanya.
Merasa namanya di sebut, Alex menegakkan punggungnya lalu berdehem.
"Hem! hem! tidak ada bos, kemarin sudah kita selesai kan semuanya. termasuk bahan untuk rapat besok." jawab Alex senormal mungkin. ia tak mungkin menertawai Dewa saat ini. bukan karena takut pada Dewa melainkan pada Cintya.
Dewa yakin ini semua adalah ide dari otak jahil Cintya untuk menghukumnya. dan tentu saja demi memberi pelajaran pada Elvira yang sedang terduduk kaku di tempatnya.
Merasa tak mendapatkan bantuan dari orang yang di inginkan, Dewa merasa harus memiliki sekutu yang berada di pihaknya. tentu saja Dewa tahu siapa sasarannya.
"Sherryl!"
Alex dan Sherryl kompak menoleh pendengar panggilan Dewa. termasuk juga Cintya.
"Sini kamu," seru Dewa dengan suara tenang, berbanding terbalik dengan jantungnya yang sudah melorot ke dekat hati.
Sherryl selangkah ragu, sesekali menoleh Alex yang hanya terdiam. "Ada apa om."
"Tolong jaga Twins, Om ada urusan sebentar." Dewa menyerahkan bayi dalam gendongannya pada Sherryl yang dengan sigap menerimanya.
"Saya harus apa?" tanya Sherryl sedikit kikuk dengan bayi enam bulan di tangannya.
"Jaga sebentar saja, Fira akan membantumu." jawab Dewa sedikit cepat. lalu menarik tangan Cintya agar mengikutinya. "Fira! temani anak-anak!" teriak Dewa sambil terus berjalan cepat.
Cintya menyeret langkah mengikuti langkah panjang Dewa tapi matanya memberikan isyarat pada Alex untuk melanjutkan permainan.
Alex berjalan mendekati Sherryl yang berdiri di dekat si nyonya palsu.
"Lakukan sekarang." bisiknya pada wanita itu tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Oke, tapi apa saya juga harus menginap?"
__ADS_1
"Jika di butuhkan lo juga harus melakukannya."
"Oke, tapi bayarannya dobel." pintanya tak tahu diri.
"Duit mulu isi otak lo!"
"Namanya juga bisnis." jawabnya dengan menggunakan suara pria.
Alex menatap jijik pada pria berpenampilan wanita itu, karena ia sedang tersenyum genit pada Alex. memandang penuh minat dengan tatapan lapar.
"Jangan liat gue seperti itu, atau gue colok mata lo!" tutur Alex dengan nada ancaman.
"Cucok bo.." jawabnya jumawa dengan gaya khas banci.
"Lakuin sekarang cepet!" usir Alex, risih sekali ia berdekatan dengan sesama jenis berwajah cantik.
Wanita bernama Asli Agung itu berjalan mendekati Elvira di tempat duduknya.
"Hai kau, kenapa kau tak menyambut ku?" tanya Agung dengan suara perempuan.
"Ma_maafkan aku, apa kau istri Dewa?" tanya Elvira kikuk.
"Hey, apa kau sadar dengan yang kau tanyakan barusan?" tanya Agung dengan suara meninggi. bahkan Elvira harus terlonjak karenanya. "Kau sama sekali tidak sopan, apa begini caramu berterima kasih!"
Sungguh, Elvira ingin sekali mengikat jantungnya agar tidak sampai terjatuh karena bentakan wanita yang ia tahu adalah istri Dewa Herlambang.
Sialan, wanita ini!
Elvira mengepalkan tangan sampai terlihat buku-buku jarinya. wanita itu sampai menipiskan bibirnya menahan gejolak amarah dalam dirinya.
"Ma_maafkan aku, aku belum terbiasa." tutur Elvira terbata. ia masih harus memainkan peran baik hatinya untuk saat ini.
"Aku akan melupakan ini, tapi kau harus melakukan sesuatu untukku?"
"Elvira merasakan firasat buruk mendengar kalimat itu.
" Me_melakukan apa."
"Menjadi pelayan ku selama satu bulan sebelum aku kembali keliling eropa."
Elvira membulatkan mata dan mulut bersamaan.
__ADS_1
***