Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Agung


__ADS_3

Pagi itu, Agung dan Elvira sudah duduk di meja makan. mereka sedang menunggu pasangan yang hampir delapan belas jam tak menampakkan diri. tapi nampaknya pagi ini pun kedua pasangan itu masih enggan untuk menampakkan diri. berbeda dengan Agung yang pagi itu tampak sangat bersemangat. ia bahkan telah bersiap dengan kostum terbaiknya untuk mendukung akting terbaiknya.


Beberapa menit kemudian, suara dua pasang kaki menapak di undakan tangga. semakin dekat dengan undakan terakhir, langkah itu terdengar semakin malas. tepat sekali, Dewa melangkah dengan sangat malas. dan alasannya masih sama, takut dengan keberadaan Agung.


Dewa tak akan lupa bagaimana Agung mengejarnya hingga ia harus merelakan wajah tampan dan tubuh modelnya bermandikan lumpur karena tercebur ke dalam kolam ikan milik orang tua Alex demi menghindari wanita dadakan yang membuatnya merinding setengah mati.


"Selamat pagi," sapa Agung dengan seluas senyum.


Wajah pria itu bahkan sudah sangat sempurna sebagai wanita. cantik dengan polesan tebal namun bernuansa natural. yang membuatnya benar-benar tampak seperti wanita. hanya saja otot-otot lengannya saja yang masih menonjol namun tertutup oleh lembutnya kulit karena perawatan Ekstra.


"Selamat Pagi Nyonya," tanpa canggung Cintya menyebut pria berwajah cantik itu dengan sebutan yang memposisikan dirinya sebagai pemilik nama keluarga itu.


"Apa tidurmu nyenyak Cinta?" tanya Jagung dengan lirikan malas.


"Sangat nyenyak, apa anda tidak." jawab Cintya dengan wajah berbinar.


"Yah tentu saja, terlihat dari corak di lehermu." cibir Jagung sedikit tak suka.


Katakanlah ia sedang cemburu sekarang. karena Dewa sepertinya lebih memilih untuk duduk di antara Elvira dan Cintya. ia jadi tak bisa mengambil kesempatan sekedar mencolek pria yang sangat membuatnya penasaran itu.


Tapi paling tidak saat ini Jagung bisa menikmati wajah Dewa sepuas-puasnya karena duduk mereka berhadapan.


"Oh ini, iya, tuan sangat perkasa sehingga ia tak dingin melepas kan aku barang sedetik saja." jawab Cintya dengan wajah malu di buat-buat.


"Lagi pula aku merasa rumah ini jadi kotor saat ini. aku melihat kecoa menjijikkan di sini." tutur Agung melirik ke arah Elvira yang juga memandang sinis padanya. "Padahal harusnya aku yang melakukannya." Agung terdengar sangat menyesal.


Uhuk! Uhuk!


Mendengar ucapan Agung, Dewa sampai tersedak kopi pahit yang sedang di cecap nya. membuat tenggorokan nya terbakar karena kopi itu masih lumayan panas. tapi telinganya lebih merasa panas. geli dan ketakutan membuat Dewa dingin sekali kabur dari tempat itu sekarang juga.


Jika boleh memilih, Dewa akan lebih memilih untuk sarapan lontong sayur di tepi jalan saja dari pada harus satu meja dengan makhluk yang lebih menakutkan dari makhluk astral itu. tapi sayangnya ancaman Cintya yang akan kembali kabur lebih lama membuat Dewa lebih ketakutan lagi.


"Kau tak apa sayang? jangan terburu, kita masih memiliki banyak kesempatan untuk itu." sungguh Dewa dingin sekali menyumpal mulut banci itu dengan sambal dari ayam goreng yang terhidang di depannya.


"Aku pergi dulu ada meeting penting." alih-alih menjawab, Dewa justru pergi meninggal kan tiga orang wanita yang baru akan memulai sarapan . sedangkan Dewa sendiri cukup dengan menelan cairan pahit yang telah membakar tenggorokan nya.

__ADS_1


"Bye honey." Dewa mendarat kan kecupan di kening Cintya.


Dewa hendak melangkah namun suara Jagung menghentikannya. "Apa kau lupa cara mencium ku di pagi hari suamiku sayang!"


Apa tadi wanita itu bilang? suamiku sayang? jika saja sopan santun tak di pindahkan lagi di rumah itu, mungkin Dewa akan memuntahkan seluruh isi perut nya. bahkan makanan yang ia telan dua puluh empat jam yang lalu pun akan ia keluarkan semua.


Pintar sekali Cintya menghajarnya karena berani mengajak Elvira naik mobilnya dan duduk di samping nya.


Baiklah itu pelajaran untuk Dewa agar tak sembarangan mengajak wanita asing menempati tempat pribadi Cintya.


Dewa mematung di tempatnya, sedikit meringis dengan maksud meminta bantuan Cintya.


Ogah sekali Dewa mencium wanita jadi-jadian itu. jangankan mencium, memegang pun tak sudi. namun apa yang di lakukan Cintya, istri itu lebih memilih membuang muka ke atas. mencari cicak.


"Sudah jangan bengong!" suara merdu Agung membuyarkan lamunan Dewa sekaligus kekesalannya.


"Aku pergi," dari pada mencium, Dewa lebih memilih mengusak rambut Agung yang tertata rapi. membuat pria cantik itu tersenyum kegirangan.


Setelah Dewa pergi, ketiga orang itu melanjutkan sarapannya.


"Aku sudah selesai." Elvira hendak melangkah, namun ia harus terhenti karena Agung membanting sendok ke atas piringnya yang menciptakan dentingan keras.


"Kurang ajar sekali kau, apa kau pikir kami pelayanmu yang harus membersihkan sisa makananmu?"


Suara Agung meninggi. bahkan Cintya sampai terkejut. belum pernah ia melihat wajah marah Agung.


Elvira mengangkat muka bermaksud menantang. dan yang di lakukan Agung selanjutnya adalah menyiram wajah Elvira dengan air yang bekum ia sentuh sama sekali.


Wajah Elvira merah padam, ia ingin marah tapi ia merasa tak akan menang di sini karena Dewa tak akan membantunya. lagi pula ia sendiri tak akan menang menghadapi dua wanita itu sendirian dalam keadaan hamil.


"Kalau kau tak bisa menjaga sikapmu, sebaiknya kemasi barang mu dan pergi dari sini."


Cintya masih diam menikmati sarapannya. ia meras tak harus repot dengan Elvira. lagi pula sudah ada Agung yang menggantikan tugasnya. membuat wanita itu tak nyaman.


"Aku akan pergi jika Dewa yang memintaku," jawabnya lantang. "lagi pula ia sudah berjanji akan menikahi ku setelah anak ini lahir."

__ADS_1


Ting!


Cintya menjatuhkan sendok nya, membuat Elvira menyunggingkan senyum sinis.


"Kalian tak tahu siapa yang kalian hadapi. aku sudah berada di sini, jadi aku tak akan keluar dari sini dengan mudah."


Cintya masih terdiam dengan wajah tenang. tapi Agung sangat mengerti dengan isyarat itu.


"Kalau begitu kau harus cepat melahirkan bayimu agar bisa secepatnya menikah dengan Dewa." seringai menakutkan muncul di bibir Agung.


Perkataan Agung yang ambigu itu berhasil membuat Elvira memusatkan pandangan pada wanita bertubuh tegap di hadapannya.


"Apa kau bermaksud untuk menggugurkan kandunganku?" tuduh Elvira yang di balas dengan gelak tawa menakutkan dari Agung.


"Aku bukan dirimu yang bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu." ejek Agung dengan bibir terangkat.


"Bibi!" teriak Agung.


Cintya sangat mengerti apa yang akan di lakukan oleh pesuruhnya itu, ia lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar menemani si kembar.


Permainan yang sudah terkoordinasi dengan baik itu berjalan tanpa menimbulkan kecurigaan.


"Ada apa nyonya?" jawab bibi dengan wajah biasa.


"Elvira harus segera melahirkan bayinya, jadi mulai saat ini tugas menyapu dan mengepel lantai menjadi tanggung jawabnya. dan tak ada yang boleh menggantikannya. dan jika ia menolak, maka kalian boleh membakar pakaiannya dan menyeretnya keluar."


Wajah Elvira pias seketika membayangkan membersihkan rumah dua lantai itu sendirian.


"Pergi atau bekerja!" tawaran terakhir Agung membuat Elvira harus menentukan pilihannya.


***


noooh si Agung, cantik kan??? 🤣🤣🤣


__ADS_1


__ADS_2