
Happy Reading...
Setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya, dan semua itu akan terjadi jika di bicarakan dengan baik tanpa membawa emosi ke dalamnya.
Begitu juga dengan pasangan suami istri Dewa dan Cintya, tak pernah ada masalah yang akan berlarut-larut karena mereka sudah cukup dewasa dalam menghadapi masalah. kendati pernikahan mereka masih seumur jagung, dan boleh di katakan jika mereka baru menapak di anak tangga pertama rumah tangga mereka, namun mereka mampu membuktikan jika mereka sanggup membawa biduk rumah tangga mereka ke arah yang mereka tuju.
Seperti biasa, setelah semua aktivitas pagi yang Cintya kerja kan, Dewa akan meninggalkannya di rumah, dan seperti hari-hari sebelumnya Cintya akan bertindak sebagai istri dan ibu yang baik.
"Kakak tidak ingin mendengar kejadian kemarin terulang, oke?" pesan Dewa sebelum ia berangkat ke kantor
"Tergantung bagaimana sikap.kakak nanti." jawab Cintya penuh makna.
"Cinta, kita sudah bicarakan ini." Dewa mengingatkan pembicaraan yang hampir setiap hari mereka lakukan. yang semuanya adalah tentang Elvira.
Cintya benci karena Elvira selalu menjadi topik yang menarik untuk di bicarakan dan berujung pertengkaran.
"Aku pun sudah mendengar ini." jawabnya bosan. tentu saja bosan karena Dewa selalu memperingatkan agar Cintya tak berbuat buruk pada wanita hamil itu.
Dalam pandangan Cintya, Dewa seolah-olah memberikan kesan bahwa Elvira adalah sosok yang harus ia jaga dari bahaya apapun. termasuk istrinya itu.
Sejak hari dimana Elvira membuat kekacauan yang mengakibatkan Dewa menghukumnya, Cintya menjadi lebih waspada. ia tahu Elvira akan kembali datang. dan Cintya sudah menyiapkan sambutan untuk manusia yang Cintya anggap benalu itu.
"Bagus, kalau begitu kita tak perlu memperjelas nya lagi."
"Memang tak perlu ada penjelasan apapun lagi, karena yang harus di perjelas di sini adalah Elvira bukan siapa-siapa yang berhak untuk menciptakan pertengkaran di antara kita."
"Tak akan ada pertengkaran jika kau tidak mengumbar emosi mu."
"Jadi aku yang paling bersalah di sini? begitu?" Suara Cintya naik satu oktaf. "jadi menurut kakak aku harus mengalah begitu? oh baiklah aku mengerti sekarang_ jangan menyela ucapan ku." sentak Cintya saat Dewa ingin bersuara. "aku akan diam saja dengan semua yang Elvira mau dan Elvira lakukan. dan semoga itu cukup untuk membuat rasa bersalah dan terima kasihmu itu sedikit berkurang."
Cintya meninggal kan Dewa yang masih mematung di samping mobilnya.
Pagi hari namun moodnya sudah sangat berantakan. pembicaraan tentang Elvira selalu berhasil menyulut emosinya.
Setelah bepergian Cintya, Dewa hanya mampu menghela nafas pendek. ia tak bermaksud untuk membela Elvira atau membuat Cintya merasa dirinya berpihak pada Elvira.
Dewa hanya tak ingin mereka tak berkelahi yang mungkin dapat melukai mereka berdua.
__ADS_1
***
Dua jam setelah kepergian, terdengar ada keributan di bawah, amarah yang baru saja mereka kini kembali tersulut. di lantai bawah Elvira sedang berperang mulut dengan Fira dan Bibi.
"Ada apa ini, dan kau apa yang kau lakukan di sini." tanya Cintya dengan menahan amarah.
"Apa kau tak lihat jika akau membawa koper, itu artinya aku mau tinggal di sini." jawab Elvira tanpa rasa malu.
"Atas izin siapa kau mau tinggal di sini." suara Cintya begitu tenang, tapi kedua matanya sama sekali tak melepaskan Elvira yang sedang berkeliling dan memindai seluruh ruangan.
Ruang dimana ia di buat babak belur oleh Cintya beberapa hari lalu.
"Aku sama sekali tak membutuhkan ijin dari kalian karena pemilik rumah ini sudah mengizinkan." jawabnya lagi. kakinya terus saja melangkah semakin dalam. dan kini ia duduk di atas sofa yang telah berganti baru.
Cintya menaikkan sebelah Alisnya. memandang remeh dengan sudut bibir terangkat.
"Siapa maksudmu dengan pemilik rumah ini?" tanya Cintya dengan senyum sinis tercetak di sudut bibirnya yang sama sekali tak Elvira lihat.
"Tentu saja Dewa siapa lagi?" tanya Elvira sok polos.
"Apa menurutmu Nyonya Dewa akan membiarkanmu tinggal di sini?" pertanyaan
Kedua tangan Cintya mengepal, mati-matian ia menekan keinginan untuk mencakar dan merobek mulut manusia tak tahu diri itu.
Baiklah, bermain cantik Cintya. batin Cintya mengingatkan.
Menghela nafas pendek untuk menghalau emosi yang mulai menguasainya, Cintya melangkah mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Elvira yang tampak lebih pendek darinya beberapa senti.
"Jika kau tak keberatan untuk menceritakan kembali bagaimana kamu dan nyonya bertemu, aku pun tak keberatan untuk mendengarkan."
"Kami tidak bertemu secara langsung, tapi kami sudah bicara melalai telpon."
Kebohongan apa lagi ini, bahkan aku tak menerima telpon dari siapapun sejak kemarin kecuali dari kakak dan kak Leo.
Batin Cintya membaui ada kebohongan di sini.
"Kapan kalian bicara, karena sejak kemarin aku belum bicara dengannya." selidik Cintya.
__ADS_1
"Tadi pagi aku ke kantor suamiku_ maksudku calon suami ku."
Tangan Cintya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
Calon Suami, baiklah jika kau ingin mendapatkan suami yang tak memiliki apapun. silahkan saja.
Batin Cintya mencibir jengkel.
"Tadi pagi aku sengaja menunggu Dewa di kantornya dan dia menyambut ku dengan sangat baik. bahkan ia juga menawarkan aku untuk istirahat di ruang pribadinya. ia juga menemaniku sarapan. dia sangat baik sekali menawarkan aku tinggal di rumahnya dengan syarat istrinya mengijinkan."
Kembali Cintya tersenyum sinis. tapi tak dapat di bohongi jika hatinya terasa teremas.
Awas saja jika semua cerita itu bohong. tapi untuk sementara aku anggap cerita itu benar. karena kalian berdua harus sama-sama di beri pelajaran.
"Jadi Pak Dewa yang menyambungkan telpon kalian?"
"Iya, meski awalnya ia terlihat berbisik dan sedikit bertengkar, akhirnya kami bisa bicara."
Mulutmu besar sekali.
"Jika pemilik rumah sudah memberikan ijin, lalu untuk apa aku melarang mu. silahkan nikmati, buat dirimu senyaman mungkin."
Cintya menampilkan senyum manis tanpa di buat-buat. tapi sungguh saat ini ia pun ingin menerjang Dewa. entah apa rencana suaminya saat ini. tapi yang pasti setelah ini, ia harus benar-benar bicara serius dengan pria berstatus suami itu.
Elvira berjalan mendekati Cintya yang berada beberapa langkah di sampingnya. tatapannya sangat merendahkan Cintya yang masih ia anggap sebagai pembantu meskipun saat ini nyonya muda itu berpakaian sangat indah.
"Aku memang belum pernah bertemu dengan istri Dewa, tapi aku tak peduli. karena aku yakin mampu membuatnya pergi dari sini. dan setelah itu aku juga akan menendang mu." ucap Elvira dengan penuh percaya diri.
"Mungkin kau juga lupa jika Pria yang sangat ingin kau miliki itu tak lebih dari manusia yang begitu mencintai istrinya. kau hanya perlu melihatnya sekali saja." sahut Cintya menekankan.
Menghadapi Elvira yang ternyata adalah ular membutuhkan strategi yang bagus. dan Cintya tak akan menggunakan kekerasan karena hal itu hanya akan membuatnya tampak rendah.
Elvira harus di sadarkan dimana tempatnya dan ia harus kembali ke tempat asalnya.
***
Dukungan kalian sangat berarti untuk kelanjutan cerita ini.
__ADS_1
Like komen and Vote.