Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Sambal terong.


__ADS_3

Happy Reading....


Enam bulan kemudian.


Sejak terakhir kali berpisah di dermaga, Dewa dan Cintya hanya satu kali bertemu dengan Josh yaitu di hari pernikahan mereka. pernikahan dadakan yang di lakukan satu bulan setelahnya.


Selama lima bulan ini kehidupan Cintya dan Dewa semakin bahagia seiring bertambah nya usia si kembar yang nampak semakin lucu dan menggemasakn. dan di tambah lagi kehamilan Cintya yang memasuki usia delapan bulan. Dewa dan Cintya menyambut antusias kelahiran bayi mereka yang di perkiraan berjenis kelamin perempuan.


Tak ada drama ngidam aneh yang Dewa alami. sehingga ia bisa menjalankan aktifitasnya sebagai kepala keluarga dengan baik. hanya saja Cintya yang semakin manja sehingga Dewa harus menghabiskan banyak waktu untuk menemani Cintya. dan tentu saja itu berpengaruh pada kehidupan Alex yang juga baru memiliki bayi laki-laki.


"Kak, aku pengen masak deh," Dewa mengalihkan pandangan dari bacaannya ke wanita yang bersandar manja di lengannya.


"Lagi?" tanya Dewa meyakinkan pendengarannya. jujur ia merasa sedikit ngeri mendengar kata memasak.


Memasak ala Cintya bukan seperti yang ada di acara televisi yang mampu menaikkan nafsu makan tapi membuat merinding dan takut.


"Iya,seperti menu kemarin" jawab Cintya sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit. yang artinya ia ingin memakan makanan yang di masak di rumahnya sendiri.


Mendengar lagi kata memasak dari mulut Cintya membuat Dewa meringis. ia ingat satu minggu yang lalu istrinya itu menginginkan hal yang sama. dan mengingat makanan yang harus ia makan membuatnya bergidik.


"Apa tak bisa jika menunya di ganti?" rayu Dewa dengan sangat lembut. ia berharap agar rayuannya berhasil agar tak perlu memaksa tenggorokan-nya menelan terong yang di panggang utuh sampai gosong.


"Aku mau itu " rengeknya seperti biasa.


"Sayang, kamu boleh masak apapun, segosong apapun asal jangan yang itu ya?" pinta Dewa sedikit menghiba. dengan harapan yang besar agar dapat terkabul.


"Kenapa? kakak gak suka?" tanya Cintya dengan nada sedih.


"Bukan masalah tak suka. tapi_" Dewa tak meneruskan ucapannya. ia sedikit malu dengan apa yang ingin di sampaikannya.

__ADS_1


Cintya menatap dalam wajah Dewa, menunggu hingga suaminya itu memberikan alasan kenapa ia tak mau lagi memakan sambal terong yang di panggang utuh.


Melihat bentuk sayur yang kulitnya yang tadi berwarna ungu cantik mendadak hitam dan berkerut membuat Dewa langsung meraba aset miliknya yang paling berharga melebihi perusahaan nya. dan sekarang ia akan melakukannya lagi dan lagi. seterusnya sampai Cintya bosan masak itu dan menyuguhkannya pada Dewa dengan alasan baby yang di kandungnya ingin papinya memakan itu.


"Kenapa? kenapa tak mau?" ulang Cintya menuntut penjelasan.


"Emm.." Dewa tampak berpikir bagaimana menuruti keinginan istrinya tanpa membuatnya ngeri atau pun menolak tanpa menyakiti perasaannya. "Mungkin sayurnya akan lebih enak di lihat jika di kupas dulu lalu di goreng." Dewa meringis setelah mengatakannya. ia sangat takut menyinggung perasaan Cintya yang akhir-akhir ini tampak sering melamun dan menangis.


"Jadi kakak tak suka? padahal tadinya aku sangat ingin kakak yang melakukannya dan aku yang memakannya." makin ngilu saja Dewa mendengarnya. membayangkan ia mencuci miliknya lalu menaruhnya di atas pemanggang. apa yang lebih mengerikan bagi seorang pria selain melihat barang paling berharga miliknya mengkerut di atas api.


Melihat wajah sedih Cintya adalah hal yang paling tak Dewa inginkan. dan dengan sangat terpaksa ia pun menurut meski dengan hati yang bimbang.


"Ya sudah, kita lakukan sekarang."


Baiklah Dewa, sebaiknya memakai kaca mata hitam saat memasaknya. agar tak terlalu jelas saat melihatnya mengkerut dan loyo.


Dewa membantu Cintya untuk berdiri lalu menggandeng pyjaan hatinya itu ke arah dapur.


"Oke, kakak ambil kunci mobil dulu. kamu tunggu di sini." Cintya mengangguk mengiyakan. ia duduk di sofa sambil mengelus pelan perutnya yang sudah besar.


Dewa menatap heran. tak seperti biasanya Cintya yang akan berceloteh riang, menceritakan bagaimana ia bermain-main dengan si kembar. lalu bercerita bagaimana bayi dalam kandungannya yang bergerak aktif. bahkan ia dengan sangat antusias menyiapkan nama serta pakaian cantik untuk calon bayi perempuannya itu.


Tak berapa lama, Dewa sudah kembali dengan pakaian non formalnya. namun yang di lihat justru semakin membuatnya heran. ia melihat Cintya yabg berurai air mata sambil menata foto USG bayinya.


"Sayang kenapa malah menangis?" tanya Dewa khawatir.


Cintya mengangkat wajahnya, membalas tatapan Dewa.


"Kak, aku akan baik-baik saja kan?"

__ADS_1


Pertanyaan yang justru membaiat Dewa heran dan juga sangat khawatir.


"Tentu daja kau akan baik-baik saja. begitu pula baby caca." terang Dewa menenangkan. ia sengaja membawa baby Chaha dalam ucapannya. nama yang sudah Cintya siapkan yaitu Chantika.


"Tapi aku merasa ada hal yang tak baik yang akan terjadi." Dewa mengerutkan dahi tak mengerti dengan pemikiran istrinya. "Aku merasa aku tak akan bisa melihatnya, hik.."


Cepat-cepat Dewa memeluk tubuh yang masih pas dalam pelukannya itu untuk menenangkannya.


"Ngomong apa sih, kalau kamu takut dengan persalinan normal, kita operasi saja."


Bukannya benar malah makin salah. Cintya semakin sesegukan. makin bingung saja Dewa di buatnya.


"Kakak tega gitu aku di sayat-sayat."


Bolehkan jika Dewa membungkam mulut istrinya itu sekarang juga dan tak perlu terjadi acara memasak yang di awali drama ini. dalam keadaan sedih pun Cintya masih mampu menciptakan kedongkolan.


"Bukan begitu, kan tadi kamu yang bilang takut. kakak hanya memberikan ide saja sayang." ujarnya menenangkan.


"Tapi aku mau normal saja. tak ingin di sayat. aku sudah seperti ayam sayur saja di sembelih gitu." dengan nada merajuk oun wanita hamil itu mampu merangkai kata yang membuat siapapun ingin tertawa. tapi tertawa yang akan di lakukan Dewa justru akan menjadi hukuman untuknya. karena pasti si wanita yang masih suka menjelma menjadi singa buas itu akan marah padanya.


"Baiklah kita berangkat, biar tak terlalu panas." ajak Dewa tentu daja juga sebagai usaha untuk menghentikan drama.


"Kita naik motor kecil biar lebih romantis."


Lihat bagaimana ia berubah dari akting sedihnya lalu berubah ceria begitu saja.


"Sayang kita naik mobil saja ya, lebih nyaman."


"Gak mau,aku mau ke pasar tradisional. mobil gak bisa masuk."

__ADS_1


Eh, apa Dewa tak salah dengar, Cintya akan mengajaknya ke pasar tradisional yang becek dan kotor itu? lalu ia akan menjadi pusat perhatian karena wajahnya yang tampan khas bule seperti beberapa waktu lalu. dan yang paling menyebalkan dari hal itu adalah ia harus tersedia di ajak kenalan oleh seorang pengaman banci. sungguh Dewa membenci hal itu. tapi menolak pun tak mungkin.


***


__ADS_2