
Happy Reading...
Hari-hari berlalu, namun Dewa belum menemukan keberanian untuk mengatakan semuanya. bahwa kini Dewa memiliki tanggung jawab untuk merawat wanita lain.
Mengingat wanita lain, membuatnya menyadari betapa brengseknya ia. Dewa merasa lebih brengsek dari saat ia menjadi manusia kotor yang kerjanya keluar masuk klub malam dulu. seorang pria beristri, memperhatikan wanita hamil lainnya, apa ada yang lebih kurang ajar dari itu.
Tapi semuanya itu hanya bentuk dari rasa bersalahnya saja. keadaan Elvira yang labil sangat membahayakan janin yang di kandungnya. wanita itu berkali-kali mencoba menggugurkan kandungannya. dan Dewa tak akan membiarkan itu terjadi. bayi itu sekarang adalah tanggung jawabnya.
Dua minggu berlalu, Dewa telah memutuskan untuk menceritakan semua kejadian satu setengah bulan terakhir. yang membuatnya memangkas waktu ke bersamaan mereka.
"Gila lo, mau sampai kapan lo sembunyiin masalah lo?"
"Gue takut dia marah Lex," suara Dewa melemah.
"Nyonya bakal lebih marah kalo dia tahu dari orang lain."
"Gue takut dia salah faham."
"Dia bakal lebih salah faham lagi kalo sikap lo kayak gitu."
Dewa mengingat ucapan Alex padanya dua minggu yang lalu.
Hari ini Dewa sengaja pulang lebih cepat, hari-harinya bukan hanya untuk bekerja, tapi sekali-kali ia harus mencuri waktu untuk menemui Elvira. yang mengakibatkan ia harus mengambil waktu lebih banyak dari jam kerja biasanya.
"Cinta,, Sayang, di mana kamu." Matahari masih terik, tapi Dewa sudah sampai di rumah. tak biasanya ia akan pulang di atas jam sepuluh malam.
__ADS_1
Tak mendapati Cintya di dalam kamar, lantas Dewa membuka jas dan dasinya. lalu ia duduk di sofa single untuk membuka sepatu dan menyandarkan punggungnya.
Hari ini cukup melelahkan. Dewa tak datang ke kantornya. pagi-pagi Elvira sudah menelponnya dan memintanya datang. sebenarnya Dewa enggan datang, tapi ancaman menggugurkan bayinya selalu membuat Dewa tak bisa menolak.
Sekali lagi, itu hanya masalah tanggung jawab.
Dewa beranjak ke kamar si kembar, bayi-bayinya tampak lucu memakai jumper couple dan sepasang sepatu yang sama. mereka sangat imut dan lucu. Cintya benar-benar menjadi ibu yang baik buat si kembar. sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang manja, terkadang galak dan juga rusuh.
Cintya bahkan terkesan menganggap Bayi mereka seperti mainan. sama sekali tak ada keluh kesah yang berarti dari mulut ibu muda itu.
"Hey Twins, kalian lagi main apa nak? seru banget. Mami ke mana?" Dewa mendapati bayi-bayinya tergeletak begitu saja di atas karpet tebal berbulu di kamar mereka
Dewa menjatuhkan dirinya di samping Twins dengan posisi tidur miring bertumpu pada telapak tangan nya.
"Ini isinya apa sih, kok tembem banget anak papi," Jari panjang Dewa memainkan dan menekan pipi bayi lelakinya. membuat bayi itu tampak lucu dengan mulut pembentuk huruf O dan pipi kembang kempis.
"Cantik dan tampan anak Papi," pujinya. "kalian keren deh, liat aja sama kalian rambut coklat sama mata kalian mirip Papi. itu bukti kalo papi punya bibit berkualitas." Ucapan narsis Dewa sama sekali tak bermanfaat, bayi-bayinya bahkan tak merespon ucapannya. tahu apa mereka tentang bibit berkualitas.
Tanpa sepengetahuan Dewa,Cintya sudah berada di ambang pintu yang memang terbuka. posisi Dewa yang membelakangi pintu membuatnya tak mengetahui keberadaan Cintya di sana.
Cintya hanya memperhatikan apa yang di lakukan Dewa pada bayi lelakinya. terkadang mencubit hidung, terkadang dagu. dan mereka tampak senang. mungkin karena Dewa yang sangat sibuk dan mereka merindukannya.
"Ini juga, hidungnya mana dek, kok gak mirip papi sih?" Dewa mencubit pelan hidung akhza membuat bayi itu meringis. "kamu hianatin papi, semuanya punya Mami ini, jangan-jangan Mami mainnya sendirian."
Cintya mendelik.
__ADS_1
Apa-apaan pria itu, berbicara seperti itu di depan anak-anaknya.
"Pasti mami sering main sendiri kalo papi lagi ngantor."
Dewa benar-benar ngawur cari perkara saja.
"Kakak akky hasil papi seratus persen ya kak kak, kalo adek aza cuma sepuluh persen, sisanya mami buat sendiri."
Cintya makin melotot.
Di kiranya anak-anaknya itu barang buatan tangan apa sehingga Dewa mengatakan begitu. minta di apain sih pria ini.
"Tapi rambut aza keren, tebel, Papi punya ini sih." Dewa mengacak pelan rambut tebal putrinya.
"Tapi kulit kalian putih mirip_"
"Mirip tetangga!" sela Cintya dari belakang.
Siluman singa betina sudah datang.
Dewa nyengir garing.
***
Ngomong tuh di pikir Dewa,,,
__ADS_1