
Happy Reading..
Dewa menjatuhkan tubuhnya di tengah ranjang king size-nya. tempat dimana ia biasa menyatukan diri bersama istrinya. ngomong-ngomong soal penyatuan, mereka tak hanya melakukan di dalam kamar. bahkan di sofa, di meja makan di lantai. bahkan di dalam bathup sekalipun. di manapun mereka mau maka mereka akan melakukannya.
Mengingat kehidupannya yang sangat sempurna selama satu tahun bersama Cintya, tentu saja Dewa tak akan rela membiarkan satu masalah kecil merusak segalanya. ia juga bukan pria bodoh yang akan menukarkan istri sempurna-nya dengan wanita sampah yang bahkan belum jelas asal usulnya. tidak! Dewa tak akan pernah melakukan kebodohan itu.
Dewa hampir saja terlelap sesaat sebelum ia ingat jika ia harus segera menyusul Cintya dan anak-anaknya.
"Boro-boro selingkuh, punya istri satu aja bikin capek, nyebelin, apalagi cerewetnya gak ketulungan. udah gitu jahilnya gak kelar-kelar lagi." Dewa dengan segudang gerutuan yang ia tumpahkan untuk Cintya. yang sayangnya wanita itu tak ia dengar. bahkan mungkin saat ini wanita itu sedang asik berselancar di dalam mimpinya.
Tangannya lincah memasukkan beberapa potong pakaian yang tersisa di dalam lemari. toh ia bukan pergi untuk masalah pekerjaan. jadi tak masalah baginya hanya membawa kaos dan kemeja casual. ia hanya membutuhkan jacket. mungkin bisa ia beli di jalan nanti. tak masalah karena ia memiliki uang. dan itupun jika tak ada drama lain.
Malam memang belum terlalu larut. jadi bukan masalah bagi Dewa untuk langsung pergi saat ini juga. penerbangan yang ia pesan lalu sudah pasti terlambat. dan tak masalah baginya untuk kembali memesan tiket. hanya ke Lombok tak ada perbedaan waktu yang lama ia rasa. ia bisa sampai hanya dalam beberapa jam saja.
Dewa telah siap dengan koper kecil di tangannya. pria dengan setelan kaos ketat hitam dan jeans hitam itu kembali memeriksa bawahannya.
"Oke, sayang siapkan dirimu!" Dewa bermonolog. Ia sangat bersemangat untuk menyusul keluarga kecilnya. semua sudah terancang dengan epiknya di dalam otak. dan hukuman untuk sang nyonya yang berani kabur dengan membawa si kembar pun telah di persiapkan.
Tapi Dewa lupa jika dirinya juga sedang dalam masa hukuman. tapi tak masalah,Dewa hanya perlu pasrah dan menyiapkan segudang rayuan jika nanti bertemu dengan Cintya.
"Gue nyusul Cinta, lo handel kantor selama gue pergi." pesan yang Dewa kirim pada Alex.
"Oke, tapi apa lo yakin nyonya di sana?"
"Lo yang bener kasih info!" balas Dewa dengan emot marah.
"Kan gue juga kagak tau, bini lo kan ajaib."
"Kalo dia gak ke sana, menurut lo dia kemana?"
"Gue gak tau, lakinya kan elo. harusnya lo lebih tau lah tentang teman-teman dan keluarganya."
Sungguh sangat sialan. balasan terakhir dari Alex berhasil mengerdilkan keyakinannya.
Meski seperti itu, Dewa tetap pergi. padahal hatinya juga ragu. untuk apa Cintya jauh-jauh melarikan diri ke Lombok. sedangkan jika hanya untuk membuat Dewa kapok, Cintya cukup mengadu ke Eyang Herlambang. dan bisa di pastikan Dewa akan jera dengan hukuman dari mereka.
Dewa sudah berada dalam taksi. ia sengaja tak membawa mobilnya. dan di tengah perjalanan ia ingat harus mendapatkan satu barang.
Melangkah tergesa ke dalam store khusus pria, Dewa cepat-cepat mencari apa yang di butuhkan nya. dan tepat saat ia harus membayarnya, baiklah, Cintya benar-benar telah menyempurnakan pelariannya.
__ADS_1
Bahkan Dewa kehilangan seluruh kartu kredit dan ATM nya. yang tertinggal hanyalah ATM milik si kembar yang baru saja ia buatkan.
Jika bukan di tempat umum, Dewa sudah pasti akan berteriak. betapa malunya ia harus membayar dengan ATM junior dari salah satu bank dalam negeri.
Ya Tuhan, Cintya sungguh luar biasa.
"ATM nya lucu pak," suara dari si mbak bagian kasir semakin membuat Dewa ingin menghilangkan diri.
Pria tampan berpostur tinggi tegap berbelanja dengan ATM khusus anak, apa kata dunia?
Dengan sedikit rasa malu yang menghiasi wajah tampannya, serta senyum polos yang ia paksakan, Dewa menerima belanjaannya dan kartunya kembali.
"Istri saya sedang merajuk dan ini adalah aksi protesnya." alasan yang tak di buat-buat. meski ia ragu siapa yang bakal percaya.
Orang yang tak akan mengenalnya pasti menuduhnya pria tua tak tahu malu yang berbelanja dengan uang anaknya.
Ya Tuhan, Dewa Herlambang sedang di cekik rasa malu saat ini.
Siapa yang salah? tentu saja dirinya.
"Istrinya baik ya tidak membawa kabur semuanya." tutur wanita itu sembari tersenyum.
Sedangkan Dewa sudah tak dapat mengelak lagi. rasa malunya semakin membuatnya ingin secepatnya kabur dari sana.
***
Setelah membersihkan diri, Dewa ingin secepatnya merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang. ia merindukan kasurnya, tapi ia lebih merindukan istrinya. bahkan belum dua puluh empat jam ia berpisah, rasa kangennya sudah di ambang batas.
Dewa menyesal. ia tak akan melakukan kesalahan yang sama. kepergian Cintya bisa saja membunuhnya. dan dia belum siapa untuk itu.
Gawainya bergetar sesaat setelah Dewa menutup matanya bersiap untuk menjemput mimpi.
"Kenapa Lex?" padahal ia sangat berharap Cintya yang menelponnya.
"Nyonya tak ada di lombok, tadi gue udah tanya sama Lucia." jawab Alex di seberang telpon.
"Apa?" Dewa terperanjat dan sontak berdiri. "kenapa lo gak bilang dari tadi Bego!" Dewa geram setengah mati. setelah perjuangannya berlarian mengejar waktu, dan asistennya yang kurang ajar itu baru mengabarkan ketiadaan Cintya di lombok. benar-benar Si Alex minta di hajar.
"Emang lo ada buka ponsel dari tadi?"
__ADS_1
Benar sekali, Dewa sama sekali tak mengaktifkan ponselnya. dan ia juga tak mengeceknya lagi setelah keluar dari bandara.
"Dari mana lo tahu, terus sekarang Cinta ada di mana?" tanya Dewa dengan gusarnya. ia samapi harus menyugar rambutnya berkali-kami. rasa kantuknya tiba-tiba hilang tergantikan dengan rasa khawatir.
"Dia masih di pulau yang sama dengan kita!" jawab Alex sengaja berteka-teki. anggap saja ia sedang ikut menghukum Dewa saat ini.
"Maksud lo Lex?"
"Dia masih di pulau jawa Bego!"
"Siapa yang bilang?"
"Abangnya, tadi dia suruh gue ambil motor gue di rumahnya."
"Jadi Leo tau Cinta pergi?"
"Sepertinya begitu." jawab Alex tak yakin.
Kurang ajar sekali. Dewa merasa di permainkan.
"Lalu kemana dia!" Dewa menaikkan intonasi suaranya. rasanya ia ingin menghajar Leo saat ini juga.
"Dia gak bilang sih, tapi jika Leo bilang di sini, pasti saat ini nyonya masih di jawa, itu artinya istri lo bersembunyi di rumah salah satu saudaranya."
"Masalahnya gue belum pernah ke rumah saudaranya di jawa Lex!" Dewa berteriak frustasi.
"Ya lo cari tau lah!" perintah Alex tanpa takut.
"Besok deh gue balik. sekarang gue capek banget!"
"Jangan!" cegah Alex cepat.
"Kenapa?"
"Sekalian lo periksa kerjaan di sana, sayang kan lo udah nyampe sana juga."
"Sialan lo!"
Untung saja Dewa tak melihat jika Alex saat ini sedang menertawakannya bersama Leo. jika tidak, pasti ia akan terancam kehilangan bonus bulanannya.
__ADS_1
***
Capek gak wa?