Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Kerusuhan.


__ADS_3

Lewat tengah hari, Dewa sedang sibuk-sibuknya di kantor. matanya fokus menatap layar bercahaya di depannya. kedua tangannya lincah menari di atas keyboard.


Dering gawainya menghentikan tangannya yang sedang mengetik.


Di raihnya benda pipih berlogo apel di gigit itu. sejenak Dewa membiarkan benda itu tetap berkedip. ada nama Fira calling tertera di layar itu.


Ada apa pengasuh anaknya itu menelpon siang-siang begini. apa ada masalah serius pada mereka. kenapa tidak Cintya sendiri yang menelponnya. atau jangan-jangan istrinya yang bermasalah. tiba-tiba saja kecemasan melanda.


Di raihnya gawai yang masih menampilkan id penelpon itu.


"Apa?" pertanyaan dengan nada panjang keluar dari mulut Dewa. sejurus kemudian ia membereskan pekerjaan.ia bersiap untuk pulang. cerita yang ia dengar dari Fira cukup membuat Dewa khawatir.


Cintya berkelahi? oh Ya Tuhan, apa-apaan istrinya itu.


Helaan nafas panjang keluar dari mulut Dewa. lalu ia memakai jas dan menyambar kunci mobilnya. ia ingin cepat sampai si rumah. ia harus melihat sendiri apa yang terjadi.


Setelah sampai di rumah, ia melihat ruang tamunya sudah berantakan penuh tepung. tumpahan air di mana-mana serta cangkang telur berserakan.


Helaan nafas kasar kembali keluar. tidak mungkin Cintya melakukan ini jika tak ada pemicunya. yang Dewa tahu, istrinya itu memang rusuh dan bar-bar. tapi ia juga sangat memperhatikan tentang kebersihan. jadi pastilah terjadi sesuatu yang membuatnya sangat marah sehingga ia bisa sampai seperti ini.


"Fira, Fira!" panggil Dewa pada pengasuh anak-anaknya.


Kenapa Dewa tak langsung menemui Cintya, itu karena Dewa tahu saat ini pasti Cintya sedang bersembunyi.


"Bapak sudah pulang?" pertanyaan yang sebetulnya tak perlu di pertanyakan. Dewa tahu, saat itu Fira hanya sedang mengalihkan perhatian Dewa. terlihat sekali jika wanita itu sedang gugup dan sesekali menengok ke belakang.


"Di mana ibu?"


Fira terdiam dengan raut cemas. wanita itu tersenyum kaku. memandang takut-takut ke arah Dewa yang sedang menatapnya.


"Ibu, Ibu sedang_"


"Jangan bilang aku sedang sembunyi kalo kakak datang ya Fir," Suara teriakan dari arah dapur terdengar. jika benar-benar di perhatikan, suara itu berasal dari dalam ruangan sempit. seperti kolom meja atau lemari kecil.


Dewa tertawa tertahan. bisa-bisanya istrinya itu bertingkah konyol.


"Ibu sedang bersembunyi di dalam bufet dapur pak." jawab Fira dengan suara lirih. percuma jika ia berkata bohong, karena Dewa sendiri telah mendengarnya.


Dewa mengulum senyum, istrinya itu harus di hukum. ia tahu bagaimana caranya.

__ADS_1


Dewa membisikkan sesuatu yang yang di balas dengan anggukan kepala oleh Fira.


"Bu, ibu di dalam saja sebentar. bapak sudah pulang dan beliau sangat marah." bisik Fira di depan pintu bufet yang sedikit terbuka. ia memberikan air agar Cintya menyimpannya di dalam.


Dewa memperhatikan itu dengan kekehan kecil. mati-matian pria itu menahan agar tawanya tidak pecah. lalu ia keluar dari dapur dan di ikuti oleh Fira.


"Katakan apa yang terjadi?" tanya Dewa serius.


"Elvira datang kesini dan membuat ibu marah." jawab Fira.


Satu jam yang lalu.


"Fir, bibi mana?"


"Sedang belanja bu, ibu mau apa?"


"Sudah berangkat ya, padahal aku mau nitip sesuatu."


"Ibu mau apa? sini biar saya yang Carikan."


"Gak tau ya Fir, pengennya makan terus. aku laper mulu deh." keluh Cintya sambil mengusap perutnya.


"Ya sudah, aku mau lihat di kulkas ada apa."


Cintya berjalan masuk ke dapur. sedangkan Fira berlalu ke kamar si kembar. jam siang-siang begini biasanya mereka akan terbangun.


Tak ada yang di dapatkan di dalam lemari es selain ice cream dan coklat. ia sedang tidak ingin makan itu saat ini. ia ingin makanan yang lain. yang bisa mengganjal perutnya yang selalu merasa lapar meski sudah makan.


"Kroket enak nih," gumamnya pada diri sendiri saat ia melihat beberapa butir kentang di kotak penyimpanan sayur.


Cintya mengambil tiga butir ukuran sedang. tangannya yang tak pernah menyentuh peralatan dapur itu tampak kesulitan mengupas kentang. tangan kirinya memegang pisau sedangkan tangan kanannya memegang tentang. nyonya muda itu sama sekali tak tahu bagaimana cara bekerja di dapur.


Setelah berhasil dengan kupas mengupas, ia mengambil ponselnya. ia harus mencari resep serta cara memasaknya. setidaknya masakannya itu tak akan membuatnya sakit perut.


Setengah pekerjaan sudah ia rampungkan. bibi yang di pekerjakan Dewa di dapur belum juga kembali. tapi rasa laparnya sudah teralihkan dengan acara masak-memasak yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.


Tiba saatnya ia mencampur tepung dan kentang yang sudah di haluskan, terdengar bel berbunyi. karena tak ada orang lain, maka Cintya sendiri yang keluar untuk membuka pintu. tak peduli jika wajah serta pakaiannya sudah kotor belepotan tepung, ia tetap keluar. Cintya pikir yang datang pasti bukan tamu Dewa. karena suaminya itu tak pernah menerima tamu di rumahnya kecuali Alex. pasti salah satu keluarganya yang datang.


Ceklek!

__ADS_1


Cintya membuka pintu, dan bertapa terkejutnya ia melihat wanita hamil berada di depannya. berdiri dengan angkuh tanpa menyapanya dan menyelonong masuk tanpa di persilahkan.


"Di mana Dewa?" tanya wanita itu yang adalah Elvira.


Cintya menarik sebelah alisnya ke atas.


Dewa? memanggil tanpa embel-embel? akrab sekali. gerutu Cintya tak suka.


"Aku ingin bertemu tuanmu, di mana dia?"


Tuanmu? oh, jadi Elvira melihatnya sebagai pembantu karena ia memakai afron dan banyak tepung di pakaian nya. Cintya menarik kesimpulan sendiri.


Cintya masih diam dengan wajah datarnya.


"Di mana nyonya kalian?"


Fira yang sudah berada di sana karena mendengar bel berbunyi tampak terperangah. ia ingin segera menjawab namun Cintya segera menghentikannya.


"Tuan sedang keluar negeri dan nyonya sedang keluar, mungkin sebentar lagi akan kembali." jawab Cintya sangat bohong. tentu saja mempermainkan wanita tak tahu diri ini akan sangat menyenangkan.


Fira terdiam pendengar ucapan Cintya. ia sudah merasa kan aura-aura tak mengenakkan di ruang ini.


Di dekatinya sang nyonya, lalu berisik "anda mau apa?"


"Matikan AC dan penyedot panas." pintar Cintya pada Fira. tanpa berkata apapun, Fira melakukan perintah sang majikan.


"Apa masih lama? kenapa panas sekali? apa majikan mu tak mampu membeli AC?" pertanyaan dan keluhan hampir tak dapat di bedakan. Elvira tampak berkeringat. apalagi rambutnya yang tergerai itu semakin menyiksanya.


Cintya hanya diam memperhatikan.


"Hey, kenapa kau diam? aku sedang kepanasan?" keluh Elvira sengit.


Bodo, batin Cintya mencibir.


"AC nya sedang di perbaiki nona?" jawab Cintya asal.


"Kenapa kau memanggilku Nona, sebentar lagi aku menjadi majikan mu dan biasakan untuk memanggilku Nyo nya!"


Elvira mengatakan dengan penuh percaya diri. dan percayalah, Cintya ingin sekali merobek mulut itu saat ini juga "

__ADS_1


***


__ADS_2