
Alex menutup telponnya terlebih dulu. di lihatnya wajah Cintya sudah di naungi amarah yang memuncak.
"Pak Ken, lancarkan rencana kedua!"
Alex hanya mampu menelan ludah mendengar titah sang nyonya. rencana kedua yang Cintya maksud adalah memberikan hukuman untuk Dewa yang akan membuat pria itu sangat tersiksa.
***
Alex dan Cintya sampai terlebih dulu di rumah sakit. di lihatnya mobil Dewa baru memasuki basement, bergegas Cintya bersembunyi. ia dingin mengawasi Dewa dan Elvira lebih dekat.
Cintya menggeram tertahan,tangannya mengepal melihat Dewa yang begitu baik membuka pintu untuk Elvira sambil bertukar senyum.
"Awas kalian berdua!"
Cintya masih diam-diam mengikuti dua orang yang sedang berjalan bersisian masuk ke dalam rumah sakit. Dalam hati ia berharap ada genangan air yang bisa membuat Elvira terpeleset dan terjatuh. lalu kepalanya terbentur dan mengalami amnesia.
Brukk!
"Awww!"
Cintya terpekik manakala bahunya bersenggolan dengan tubuh tegap seorang pria tampan dan hampir limbung jika saja pria itu tak sigap menangkapnya.
__ADS_1
Cintya menyesali ucapannya yang berharap Elvira terpeleset tapi malah ia sendiri yang mengalaminya. suaranya yang lumayan keras sampai di telinga Dewa. pria itu menoleh, dan tatapan tajam pria itu tertangkap oleh pandangan Cintya. Sifat jahil yang di milikinya memberikan perintah untuk membalas Dewa saat itu juga.
"Hati-hati nona," tangan Pria asing itu masih melingkar di pinggang Cintya. siapapun yang melihat adegan itu pasti mengira mereka adalah pasangan kekasih yang harmonis.
"Maaf, saya kurang hati-hati," jawab Cintya malu-malu. menirukan gerakan Elvira jika sedang menarik perhatian Dewa.
"Sepertinya ini hari keberuntungan saya karena bertemu dengan bidadari tanpa sayap."
Cintya mengulas senyum malu, jemarinya gemulai menyelipkan rambut ke belakang telinga. seperti remaja yang baru bertemu orang asing lalu berkenalan.
Mata Dewa melotot tajam, Cintya dapat melihat dari ekor matanya. tak puas hanya sebatas itu, Cintya justru semakin mendalami perannya. ia menyambut hangat obrolan santai yang di lontarkan oleh pria yang baru pertama ia lihat itu.
"Cintya Mahendra." jawab Cintya masih bisa di dengar oleh Dewa. pria itu mematung di tempatnya membiarkan Elvira yang berjalan jauh di depannya.
"Apa kau sedang terburu-buru samapi tak berhati-hati saat berjalan?"
"Bahkan jika aku memiliki waktu sedetik aku tak akan menyia-nyiakan waktu untuk berbincang dengan pria seperti anda." jawab Cintya hiperbola. Membuat Pria di depannya itu seketika tertawa.
"Bisa saja anda ini," masih dengan senyum yang memabukkan jika di lihat oleh remaja berusia belasan tahun pria itu menjawab.
Sedangkan di tempat yang tak begitu jauh dari tempatnya berbincang, Dewa masih dengan kakunya berdiri mengawasi. tapi hanya sejenak karena selanjutnya ia melangkah cepat mensejajarkan langkah dengan Elvira.Cintya tersenyum smirk melihat itu.
__ADS_1
"Baiklah, mr..."
"Jorge Alvaro, panggil saja alvaro." pria itu memperkenalkan diri.
"Baiklah Mr, Alvaro saya permisi, teman saya mungkin sudah menunggu." pamit Cintya karena ia. juga tak ingin tertinggal jauh saat membuntuti Dewa.
"Tentu, senang berjumpa dengan anda, sampai bertemu nona Cintya." Alvaro mencium punggung tangan Cintya tepat saat Dewa kembali menoleh ke arahnya. Cintya merasa semakin sempurna membalas Dewa.
"See you, Mr. Alvaro.
" Bye, Cintya."
Cintya berjalan menjauh, di lihatnya Dewa sedang berdiri berhadapan dengan Elvira di depan ruang dokter spesialis obgyn. dan sepertinya mereka sedang berselisih. kelihatan sekali karena Dewa tiba-tiba meninggal kan Elvira sendirian. wanita itu masuk ke ruang dokter dengan menghentakkan kaki. sementara Dewa menuju kantin rumah sakit.
Cintya tak berniat untuk mengikuti Dewa, pasti pria itu ingin menemui Alex. Cintya lebih tertarik menunggu Elvira karena ia melihat Alvaro yang tiba-tiba mengikutinya masuk ke ruang dokter.
Apakah mereka saling mengenal pikir Cintya?
***
Dikit dulu, sambung siang. maafkeun kemarin draf tiba-tiba hilang. jadi aku harus ketik ulang.
__ADS_1