Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Manisnya jus Pare.


__ADS_3

Happy Reading...


Setelah Dewa pulang dari rumah Elvira dan mendapati Cintya yang menghilang tiba-tiba, kini mereka akan segera melakukan pembicaraan serius.


Alasan membersihkan diri adalah pilihan yang paling tepat untuk melarikan diri dari hukuman Dewa.


Cintya sengaja berlama-lama di kamar mandi karena Dewa sedang menunggu untuk menghukumnya. kesalahan Cintya adalah membawa motor. dan Dewa sudah memberi larangan kerasa padanya untuk itu.


"Cinta, sudah belum sih? lama banget!" Teriak Dewa di depan pintu kamar mandi.


"Sebentar, tanggung nih!" jawab Cintya mencari Alasan.


Cintya mondar-mandir di dalam sana. sedangkan ia sudah menyelesaikan acara mandinya sejak lima belas menit lagi. memang ia sengaja melakukan itu. Dewa belum pernah menghukumnya, dan ia tidak pernah tahu bagaimana cara Dewa melakukannya.


"Kamu cuma alesan doang kan? takut di hukum sama kakak?"


Tentu saja siapa juga yang mau di hukum.


"Eng_ enggak kok, aku kan gak salah, ngapain takut." jawabnya menantang, padahal Cintya masih belum menemukan keberanian untuk muncul di hadapan Dewa.


Marahnya orang sabar mah serem.


"Kalo gitu cepetan keluar, kakak pegel berdiri terus."


"Emang yang suruh jadi satpam siapa?" jawab Cintya setengah mengolok.


"Oke, kalo gak mau keluar kakak tinggal nih?"


"Tinggal aja!" teriak Cintya merasa menang.


Tuh kan, nyerah juga akhirnya.


"Yakin gak akan cari, kakak nginep lo di rumah Elvira?"


Eh, apa tadi dia bilang? nginep di rumah si Elvi Elvi itu? cari ribut ini emang.


"Iya nih, aku keluar." Cintya membuka pintu dengan keras.membuat Dewa yang sedang bersandar hampir terjerembab.


Dewa memindai Cintya dari ujung kepala hingga ujung kaki, tak nampak ia baru selesai mandi karena wajahnya sudah mengering.


"Ngapain aja sih kok lama?"


"Semedi," jawab Cintya asal sekaligus kesal. apa ada manfaatnya bertanya seperti itu?


"Itu mulutnya gak perlu di monyong-monyongin? kamu sengaja mau goda kan?"


"Idih, najis!"


"Ini mulutnya makin lemes aja, bilang najisnya fasih banget."


"Emang siapa juga yang mau goda? aku kan lagi Demo."


"Demonya nanti aja, sini kakak harus hukum kamu."


Cintya nyengir, meski begitu Dewa tetap memaksanya.


Langkah Cintya berat, ia sengaja menahan berat tubuhnya. belum apa-apa saja Cintya sudah ketakutan.


"Aku gak mau ya kalo di suruh berdiri satu kaki sambil jewer telinga ngadep bulan"


"Masih mending bulan, kamu paling suka kan nyuruh kakak hormat sama matahari?"


"Jangan fitnah deh, kakak kan pakai kaca mata."


"Biar kerenlah, kali aja ada Dewi khayangan yang melintas"

__ADS_1


Cintya mencebik, mana mungkin hal itu akan terjadi di jaman sekarang.


"Terus kakak mau hukum aku pake apa?" Cintya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu yang aneh yang mungkin akan di pakainya untuk menghukum Cintya.


"Gak perlu tau, pokoknya kamu harus di beri efek jera biar gak sembarangan bawa motor."


"Tapi kan itu darurat, Demi kebaikan kita bersama." alasan yang sebenarnya benar namun sayang Dewa menganggapnya tak masuk akal.


"Gak ada ya cerita kebaikan dari acara kebut-kebutan kamu itu?"


Cintya menekuk muka, Dewa sekarang lebih menyebalkan di bandingkan dengan saat pria itu menjadi buaya cap cicak.


"Ya sudah, cepetan aku harus ngapain!"


Dewa melipat tangan di dada, memandang penuh tantangan. "Kok jadi galakan kamu? padahal yang jadi tersangka di sini kamu kan?"


"Enggak, aku hanya melakukan misi penyelamatan."


"Misi penyelamatan untuk apa? ngarang kamu mah, sudah duduk sini."


Dewa menyiapkan kursi rias di hadapan Cintya, mintanya untuk duduk.


"Tunggu sebentar ya, setelah ini kamu pasti bakal minta ampun."


Setelah Dewa mengatakan itu, Cintya mendadak merasa takut. apa kira-kira hukuman yang akan pria ini berikan mengingat Dewa tak pernah menghukumnya selain hukuman di atas ranjang.


"Kak, kita gak akan melakukannya di kursi kan?" tanya Cintya yang wajahnya antara cemas dan juga penasaran.


"Emang kamu mau di hukum seperti biasanya?" bukannya menjawab, Dewa menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


"Ya kali aja kakak kan biasanya paling suka dengan hukuman modelan itu."


"Tapi kali ini beda sayang, kamu juga pasti suka."


Dewa meninggalkan Cintya yang masih duduk di kursinya. pria itu keluar kamar dan tak lama kemudian ia membawa satu gelas kecil jus yang berwarna hijau pekat.


Ah baiknya suamiku, batin Cintya sumringah.


"Apa itu kak?" tanya Cintya melihat cairan berwarna hijau itu yang tak pernah ia lihat atau cium sebelumnya.


"Ini hukuman buat kamu karena berani melanggar aturan." jawab Dewa tegas sambil menyodorkan minuman itu ke hadapan Cintya.


"Jadi cuma minum ini?"


"Iya cuma minum dan harus habis."


"Siapa takut!" jawab Cintya menantang sambil mengangkat dagunya penuh kesombogan.


Lalu dengan kesombongan yang masih sama, ia pun berdiri di hadapan Dewa sambil mengangkat cangkir hingga tingginya lebih dekat ke mulut Dewa.


"Hanya minum kan?"


Dewa mengangguk memasang wajah datar.


"Cintya gak akan mati hanya karena minum jus daun jambu." ujarnya membuat Dewa ingin sekali tertawa.


"Berisik! cepat minum."


Mendengus sebentar, lalu setelah itu ia segera mendekatkan bibirnya ke bibir gelas.


Pandangan mereka saling mengunci dalam tatapan garis lurus. hujaman mata elang Dewa menembus ke dalam manik mata Cintya. membuatnya terhanyut dalam pesona mata indah itu, yang membuatnya merasa berkali-kali jatuh cinta pada pemilik mata indah itu.


Cintya masih berada di atas keterpamuannya hingga membuatnya tidak sadar jika cairan itu masuk ke dalam mulutnya dan mengalir menuju tenggorokannya sebelum rasa itu membangunkannya.


Hekm!

__ADS_1


"Cintya ingin memuntahkan cairan pahit itu, tapi Dewa segera mencegahnya.


"Telan!" titahnya tegas.


Cintya menggeleng tegas dengan wajah memohon. air matanya sudah berkumpul siap meluncur.


"Telan!" titah Dewa lagi semakin tegas, "Atau kamu memilih makan jengkol?"


Ya Tuhan, kenapa pilihannya tak kalah buruk. Batin Cintya berteriak.


Ibuuu..


Kakak,,


Kakek,,


Papa Rendra,,,


Tolong Cintya


Twiiins, tolong Mami,


Hiks..


Cintya mengabsen satu persatu anggota keluarganya.


Matanya melotot nafasnya hampir habis. tentu saja ia harus mengambil nafas. tapi jika itu terjadi maka cairan itu akan menerobos melalui tenggorokannya.


Pada akhir nya Cintya pun harus kalah. ia membutuhkan oksigen.


"Habiskan!"


Cintya menolak dengan menggelengkan kepala.


"Kalau gitu makan ini."


Dewa menyodorkan semangkuk biji jengkol mentah yang sudah di bersihkan.


Cintya makin mendelik.


Dengan sangat terpaksa ia menelan sisa cairan pahit dalam mulutnya. lebih baik ia meminum jus pare dari pada harus mencium bau jengkol dari mulutnya. cintya bisa muntah karena itu.


Kejadian yang sama terulang, Cintya menahan jus pare dalam rongga mulutnya hingga ia pun hampir kehabisan nafas.


Melihat istrinya begitu menderita, Dewa tak sampai hati membiarkannya. lalu perlahan ia melangkah mendekat dan meraih pinggang Cintya. membuat tubuh mereka merapat.


Dewa memiringkan kepala. lalu dengan keahliannya ia mulai menc*cap dan menggigit bibir Cintya agar sedikit terbuka.


Saat penya*uan bibir mereka, Dewa merasakan cairan pahit itu mengalir ke dalam mulutnya. lalu ia menelan semuanya tanpa sisa. dan setelah itu mereka saling membersihkan cairan pahit itu dengan lum*t an-lum*t an dan kul*man.


Rasa pahit yang berasal dari jus pare itu tak lagi mereka rasakan karena teralihkan oleh manisnya bibir mereka berdua.


***


jadi gitu ya bu ibu mak emak, cara tercepat dan instan menghilangkan rasa pahit dari pare ya itu dengan saling bertukar manisnya bibir.


Bisa di coba nih buat kalian di rumah.


Dewa dan Cintya pinter nih cari perkara, eh solusi maksudnya.


Like komen and Vote...


la..la..la..


Lots of luv, Chanda 💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2