
Happy Reading...
"Tentu saja benar, bapak sangat memanjakan istrinya. meskipun tengah malam nyonya bermimpi membeli perhiasan lalu memintanya, bapak pasti langsung menuruti. tak peduli jika ia membangunkan pemilik toko. bapak tak keberatan membayar mahal yang penting nyonya bahagia."
Anggaplah cerita itu berlebihan, tapi cerita itu benar adanya. cintanya hanya sedikit menambah kan bubuk-bubuk yang akan membakar hati.
"Itu tidak akan lama, karena aku akan menggantikan majikanmu itu." ketus Elvira.
Cintya mengepalkan tangan. percaya diri sekali manusia ini.
"Kalung yang kau pakai itu pasti juga imitasi kan?" Elvira menunjuk kalung putih yang sangat kecil, yang melingkar pas di leher cintya dengan bandul intan yang sangat mungil.
"Yang ini asli, nyonya yang kasih. atas perintah bapak. katanya cocok buat saya yang cantik ini"
Elvira mendelik tak percaya.
Kalung itu tampak sangat indah. pasti mahal. kenapa istri Dewa memberikan pada pembantu. lebih baik untuk aku saja. Elvira menggerutu kesal.
"Jepit rambut kamu juga ba_"
"Apa anda akan terus mengomentari penampilan saya? apa haus anda akan hilang hanya dengan melihat perhiasan saya?
Cintya mencegah tangan Elvira yang akan menyentuh jepit rambutnya.
"Cepatlah, buat kan aku jus wortel dan makanan. aku belum makan siang."
Cintya mendengus, tapi ia tetap menurut wanita hamil yang sebentar lagi akan jadi mangsa singa yang juga kelaparan itu.
Lima belas menit kemudian, Cintya datang dengan nampan yang berisi omelet panas dan segelas jus yang gelasnya mengembun sangat nikmat di pandang mata. apalagi dimakan. air liur Elvira hampir saja menetes.
Seperti orang yang tak memiliki sopan santun, Elvira langsung makan dengan lahab.
Khuk!
Elvira tersedak, omelet Cintya sangat pedas karena kebanyakan merica. dan dengan cepat ia meraih gelas jusnya, warna oren itu terlihat menyegarkan tapi sayang, ia harus lebih tersiksa karena jus itu sangat asin. Elvira sampai melotot.
"Omeletnya gak enak dan jusnya asin, apa kau dingin mencelakaiku?" hardiknya kasar.
"Maafkan saya nyonya, saya salah memasukkan garam aje dalam minumannya." Cintya memasang wajah bersalah, tapi dalam hatinya ia tertawa.
"Kau bodoh sekali, kenapa Dewa bisa mempekerjakan kamu."
"Karena saya teman istrinya."
"Aku tak peduli, sekarang buat kan aku minuman lagi."
"Wortel nya habis." alasan tak masuk akal. Cintya hampir saja mengigit lidahnya karena berbohong.
"Yang ada saja."
"Tomat mau?" tawar Cintya terlihat tulus.
"Baiklah jus tomat yang manis." Cintya menyeringai penuh rencana.
Lima menit kemudian Cintya kembali.membawa jus berwarna oren kemerahan.
__ADS_1
Elvira meraihnya cepat lalu meminumnya hingga tandas dan,
"pedaaaas!" teriak nya keras.
Elvira berlari ke arah dapur, ia ingin mengambil botol air dalam lemari pendingin dan sangat di sayang kan karena Cintya sudah menyembunyikannya terlebih dahulu. hanya ada satu botol di atas pantri, dan isinya pun telah terganti dengan air kran.
Cintya tertawa terpingkal, melihat itu, Elvira menyadari jika Cintya sedang membodohinya.
Apa mungkin ia saja yang bodoh sehingga tak berfikir jika ia salah telah mendatangi kandang singa. yang pemiliknya pun tak mampu melawan jika sedang mengamuk.
Cintya tertawa penuh kemenangan.
"Kau sangat tidak berkelas Elvira, bahkan air mentah kau minum?" Cintya berkata sinis.
Elvira menjauhkan bibirnya dari gelas, lalu melihat air yang sudah masuk ke dalam perutnya ternyata sudah banyak.
"Kurang ajar!"
Dengan marah ia menyiramkan sisa air yang tinggal separuh itu ke wajah Cintya.
Plak!
Cintya emosi, ia membalas dengan menampar Elvira. dan yang di lakukan Elvira selanjutnya adalah menjambak rambut Cintya yang mengakibatkan penjepit rambut nya patah karena Elvira membenturkannya ke pintu kulkas.
"Aww, Sakit sialan!"
Cintya mengaduh kesakitan. dengan penuh emosi ia mendorong elvira keluar dari dapur yang membuat wanita itu terjatuh di atas sofa.
Cintya kembali masuk ke dapur. ia mengambil tepung yang sudah ia buka kemasannya dan menumpahkan ke atas kepala Elvira.
Seluruh tubuh Elvira tampak memutih dengan tumpahan tepung di seluruh tubuhnya.
"Kau harus kan? minum ini!"
Dua gelas jus yang di suguhkan untuk Elvira pun turut menjadi korban keganasan siluman singa betina yang sedang bersarang di dalam tubuh Cintya.
"Lihat siapa kau, kau hanya oecundang tak tahu malu!"
Sang nyonya yang tengah di rundung emosi itu mengacak-acak rambut Elvira setelah ia menuangkan dua gelas jus bersamaan.
"Dasar pembantu sialan!"
Elvira membalas Cintya. kukunya yang tajam berhasil memberikan tanda di pipi kiri dan leher Cintya.
Tak ingin kalah, Cintya berlari kembali ke dapur. ia membawa semangkuk besar telur dan melemparkan satu persatu telur tersebut. hingga membuatnya berserak di lantai karpet dan juga sofa.
"Kau busuk, tetap akan jadi busuk! rasa kan ini!"
Elvira menggeram marah, ia berdiri dengan bringas berusaha membalas. namun karena ia sedang hamil dan tubuhnya lebih basah dan lengket, ia pun kesulitan. tapi ia tak menyerah, sekuat tenaga ia ingin membalas sakit hatinya dengan kembali mencakar wajah Cintya. untung Fira datang di saat yang tepat. pengasuh itu berada di tengah-tengah mereka.
Tubuh Fira tak kalah kotor karena ia menghalau dan menghalangi Elvira yang dingin menyerang Cintya.
Merasa kewalahan, ia pun menelpon Dewa. lalu ia mengusir Elvira dengan di bantu satpam.
"Pergi sebelum Pak Dewa melihatmu!"
__ADS_1
Elvira pergi dengan membawa kemarahan.
Bersamaan dengan taksi yang membawa Elvira, Cintya masuk ke dapur dan memilih tersembunyi. ia takut Dewa memarahinya karena berkelahi. bukan karena menyakiti Elvira.
Gadis kecilnya Om gak boleh nakal, gak boleh rusuh apalagi berkelahi.
Pesan Dewa kala itu melintas di kepalanya.
Cinta mesem-mesem. ia bahkan tak merasa bersalah sedikit pun. tak peduli jika Dewa saat ini sedang bertindak sebagai hakim yang akan menjatuhkan hukuman berat padanya.
***
Dewa menggeleng tak percaya. sebenarnya ia ingin tertawa. bagaimana Cintya menjaga haknya sebagai istri. mempertahankan dirinya sebagai pria yang hanya boleh di miliki oleh nya sendiri.
"Cinta, kamu tahu kesalahan kamu?"
Cintya mengangguk mantap, tak ada raut ketakutan lagi di wajahnya. tentu saja karena ia merasa benar.
Dewa akan tetap menghukumnya. ia tahu itu dengan jelas, jadi ia lebih memilih pasang muka berani.
Dewa tak akan memukulnya. palingan ia akan menyuruhnya meminum jus pare.
Lagi?
Ah Sudahlah!
Paling cuma pahit. tidak asin ataupun pedas.
"Ngapain senyum-senyum begitu?"
"Sedang merayu lah!"
Dewa geram, benar-benar istrinya ini menguji kesabaran.
"Kakak sedang marah cinta!"
"Tau, dari tadi juga?"
"Jadi?"
"Ya kabur."
Cintya berfiri dan langsung berlari, dan Dewa mwngejarnya.akhirnya terjadi lah aksi kejar-kejaran di siang hari di bawah teriknya matahari.
"Bibi..." teriak Dewa setelah Cintya berhasil ia tangkap. "Bawa kesini!"
Cintya menatap tak percaya pada apa yang di bawa bibi dan satpam ke hadapan Dewa.
"Sayang, kita bersenang-senang." Dewa menyeringai.
Cintya menatap pilu pada Dewa dengan wajah memohon.
***
Ayo, Cintya di hukum dengan apa???
__ADS_1