
Happy Reading...
Dewa telah sampai di tempat tujuan, kota yang menyimpan rahasianya yang sekaligus membuatnya merasa terpidana mati yang siap eksekusi.
Langkahnya tenang, tak nampak kekhawatiran yang berarti di wajahnya. keadaan dirinya lah yang lebih menghawatirkan.
Kejujurannya sedang di pertaruhkan saat ini. jika Cintya mengetahui ia merawat seorang wanita hingga ia mengabaikan anak dan istrinya sendiri, bahkan sampai membentaknya, dapat di perkirakan bagaimana wanita itu akan mengamuk.
Dewa langsung menuju kamar pasien kelas VVIP. bukan ia yang memilih tapi keluarga dari pasienlah yang memilih tempat itu. tak masalah jika semuanya tentang uang. tapi ini tentang panggung jawab.
Dewa rasanya lebih baik kehilangan seluruh hartanya dari pada ia harus berada di sini dan mengabaikan keluarganya.
"Bagaimana keadaan janinnya dokter?" Dewa bertanya dengan wajah paling panik. di samping nya ada seorang gadis terbaring lemah di atas brankar dengan wajah pucat dan sembab. perutnya terlihat sedikit membuncit karena tubuhnya yang tampak lebih kurus. yang terbalut oleh kulitnya yang pucat. ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada bayi itu.
"Keadaannya cukup stabil, tapi bisa membahayakan janinnya jika ia kembali menyakiti dirinya. saran saya sebaiknya anda membicarakan masalah ini. mungkin dengan menuruti keinginannya, nona Elvira akan kembali membaik." jelas dokter pada Dewa..
"Saya permisi pak Dewa,"
"Ya silahkan Dokter."
Setelah kepergian dokter, Dewa mendekati ranjang. ia melihat wajah Elvira yang sembab. dan itu membuat rasa bersalah Dewa kembali mencuat.
"Maaf elvira."
__ADS_1
Setelah itu, Dewa segera berbicara ibu Elivira. tampak perdebatan antara Dewa dan wanita paruh baya di sana. terlihat sekali jika Dewa sangat marah. dan wanita itu pun tak kalah berang.
"Anda harus bertanggung jawab. saya tidak terima ini semua terjadi pada putri saya." nada wanita itu meninggi.
"Tapi saya tidak bisa, saya memiliki keluarga. saya akan bertanggung jawab tapi saya tidak akan menyakiti istri dan anak-anak saya."
"Tapi anakku membutuhkan status yang jelas untuk anaknya."
"Jika hanya tentang status, maka saya mampu memberikannya. tapi untuk menikahinya itu sangat mustahil." Tegas Dewa dengan suara meninggi mempertahankan keinginan.
"Ini semua karena anda! jika tidak, Elvira tak akan seperti ini." ibu Elvira bersuara tak kalah tinggi.
"Sudah saya bilang, jika ini kecelakaan dan saya pun tak mengharapakan ini terjadi. saya juga sudah menawarkan pertanggung jawaban yang tepat untuk anda. tapi anda menolak. atau jangan-jangan anda mempunyai niat lain?" Dewa menatap curiga pada wanita paruh baya di depannya.
Dewa hendak pergi, tapi ia harus memutar langkahnya kembali karena Elvira terbangun dan ia kembali histeris dan mengamuk.
"Tenang, tenang Elvira."
"Aku tidak mau bayi ini." Elvira sesegukan.
"Tenang, tenang dulu. kita akan bicarakan ini." Dewa memejamkan mata sangat rapat. ia terlihat putus Asa dan bingung untuk mengambil langkah.
Setelah ia berhasil menyenangkan Elvira, Dewa kembali ke kantor yang lumayan jauh. Dewa membutuhkan waktu selama satu jam untuk bisa sampai ke kantor.
__ADS_1
Di kantor, ia di sambut oleh Alex dengan setumpuk pekerjaan.
Seharian, Dewa tak mampu memusatkan pikiran. itu membuat seluruh pekerjaan kacau dan semakin menumpuk. pikirannya terbagi antara Cintya dan Elvira.
Sore hari, Dewa benar-benar pulang cepat. tapi bukan untuk berbicara dengan Cintya. jadi itu artinya, keinginan Cintya untuk mendapatkan penjelasan dari Dewa pun percuma. Dewa sama sekali tak membahas masalah itu. sikapnya kembali hangat tapi Dewa terlihat lebih banyak diam. itu semakin membuatnya tampak aneh dan kecurigaan Cintya semakin bertambah.
***
Esoknya, Dewa kembali berangkat pagi-pagi. seperti biasanya Dewa akan mengatakan pulang cepat dan ia pasti menepatinya. dan ia juga akan mengatakan akan pulang terlambat jika memang di perlukan.
Sikap Dewa seperti telah di atur sebelumnya. Dewa juga sering menerima telpon tengah malam dan diam-diam. setelah itu, ia akan termenung dengan sangat lama. kebiasaan merokok yang telah lama ia tinggal kan kini selalu menjadi aktifitasnya tiap malam. dan semua itu tak lepas dari pengamatannya Cintya.
"Malam.ini kakak tidak akan terlambat kan?" Seperti biasanya, Cintya memakaikan dasi dengan Dewa yang membantunya.
Tinggi badan Cintya tak mengharuskan Dewa untuk menunduk saat memakaikan dari. tapi seperti biasa Dewa akan memeluk pinggang Cintya dan mengangkatnya. kebiasaan itu sudah sejak lama menjadi aktivitas pagi. tapi selama satu minggu perang dingin mereka Cintya tak mendapatkan perlakuan seperti itu. Dewa lebih banyak melamun.
"Kakak usahakan ya?"
Cintya terlihat kecewa saat Dewa mengatakan itu. ia sangat mengerti jika Dewa mengatakan akan mengusahakan, itu artinya Ia tak bisa memastikan. perasaan sakit dan marah kembali bercokol dalam batinnya.
Selama ini Cintya sudah cukup menahan diri untuk tidak bertanya lebih banyak. tapi setelah ini dia berjanji akan bergerak sendiri.
Dewa harus di ingatkan, istri seperti apa yang di milikinya itu. Cintya bukan gadis bodoh dan juga lemah.
__ADS_1