
Dewa hanya mampu memejamkan mata tapi ia tak mampu tidur dengan nyenyak. ia membalik tubuhnya ke kanan dan kiri, tapi masih juga tak menemukan kenyamanan. ini pertama kalinya sejak Twins lahir, Dewa terpisah dari mereka.
"Pagi cepatlah datang!" Dewa mengeram kesal. tubuhnya lelah dan ia juga mengantuk. tapi nyenyak seolah menolaknya.
Pagi masih sekitar tiga jam lagi. dan ia sendirian di kamar hotel. itu adalah sesuatu yang jauh dari kata menyenangkan. dan setelah drama berguling ke kanan dan ke kiri beberapa menit, Dewa memaksa matanya untuk terpejam dan menyamakan tubuhnya. agar ia bisa istirahat.
***
Pagi menjelang, Dewa sudah tak sabar ingin segera menyelesaikan urusannya di sini. ia secepatnya harus segera memberikan pelajaran pada Alex. berani sekali ia membuat Dewa terdampar di pulau ini.
Kaki panjang nya melangkah tanpa ragu, ia sudah mengetahui dimana letak para petinggi. dan pagi itu juga ia sudah harus membri kejutan pada bawahannya
"Selamat pagi," Dewa menyapa dengan gaya Khasanya meski tanpa pakaian resmi yang biasa ia gunakan.
"Se_selamat pagi pak," Sapa Matias, General manajer yang di hotel itu.
"Bagaimana dengan hotel?" Dewa begitu saja mengambil tumpukan berkas-berkas dan laporan yang ada di meja kerja pria itu.
"Semua baik pak," jawab manager sedikit gugup. itu karena keterkejutannya saat mendapati inspeksi mendadak dari sang Direktur tanpa pemberitahuan. "maaf tidak ada penyambutan yang baik untuk bapak." sesalnya dengan wajah sedikit menunduk.
"Tak apa, aku hanya mampir sebentar." pria itu tersenyum maklum. "Bagaimana keadaan keseluruhan?" tanya Dewa masih membolak-balik kertas-kertas di tangannya.
"Semuanya baik Pak, itu karena letak hotel kita yang strategis jadi banyak wisatawan yang menginap di hotel kita." jawab Manager menerangkan.
"Bagus sekali, jadi aku tak akan menyesal untuk memperluas usaha di sini."
__ADS_1
"Tentu, saya yakin anda tidak akan menyesalinya."
"Matias, di mana aku bisa mendapatkan oleh-oleh di sini." Dewa meletakkan berkas-berkas di tangannya lalu beralih duduk di sofa panjang di ruangan itu.
Sifat rendah hati yang di milikinya membuat Dewa mampu membaur dengan cepat dengan cara bawahannya. tidak seperti Papa Rendra yang terkesan dingin dan tak banyak omong, Dewa justru sangat humbel pada para karyawannya.
"Anda sedang mencari apa?"
"Entahlah. karena aku sudah di sini, aku rasa sangat sayang sekali jika tak membawakan oleh-oleh untuk istriku. mungkin sesuatu yang khas di tempat ini. bagaimana menurutmu."
"Tentu saja Pak, anda tak boleh melewatkan untuk membawa cinderamata dari pulau ini. apa yang anda butuhkan." tanya manager masih dengan kesopanannya meski Dewa bersikap biasa. tak ada sifat arogan dan bossy yang ia tunjukkan.
"Entahlah, apa saja."
"Mungkin anda bisa membawakan songket atau tenun." tawar manager dengan seulas senyum.
"Ide yang sangat bagus. istri anda pasti akan sangat menyukainya."
Manager itu langsung menghubungi supir untuk mengantarkan Dewa berpelesiran di pulau lombok.
Setelah pemeriksa bagian-bagian lain. Dewa bergegas turun. tak banyak yang mengenalinya dalam balutan pakaian Casual. karena Dewa sendiri memang jarang memakainya kecuali saat di rumah. bahkan para pelayan pun tak menegur atau memberikan hormat saat bos tertinggi mereka melintas.
Hari belum terlalu terik. di lobi drpan masih tampak lenggang. hanya ada beberapa tamu yang sedang melakukan Check in atau oun Check out.selebihnya hanya para pelayan dan pegawai yang berlalu lalang.
Di meja resrpsionis, dua orang wanita tampak baru saja melayani tamu. mereka masih dalam posisi berdiri saat Dewa melintasinya.
__ADS_1
Lucia yang sedang bertugas pagi itu membulatkan mata. entah apa yang di rasakan nya. mungkin takut atau malu. yang jelas wanita itu tak ingin Dewa melihatnya. ia langsung menunduk begitu Dewa telat berada di hadapannya.
Berbeda dengan Lucia yang memilih tersembunyi, justru grafis di samping nya tak mampu mengedipkan mata.bahkan ia memandang Dewa dengan tatapan memuja.
Kedua tangan gadis itu saling menangkap di depan dada dengan senyum serta pandangan lapar. "Ganteng banget jodoh gue." ujarnya.
Lucia sontak menoleh pendengar kalimat temannya yang absurd itu. "Siapa?" tanya Lucia mengikuti arah pandang teman seprofesinya.
"Yang pake setelan hitam, fuh jadi ngiler?"
"Dia tamu VVIP." jawab Lucia lugas. tanpa mencari tahu pun ia tahu di mana letak kamar Dewa.
"Dia menginap disini?"
"Maksud lo apa?" Lucia heran. apa temannya ini tidak tahu siapa yang sedang ia bicarakan.
"Yang ganteng tadi itu, dia tamu di sini?"
"Coba kamu cari tahu siapa Dia." pintar Lucia. ia membiarkan saja temannya itu mencari obat dari rasa penasaran nya.
"Jadi dia?" matanya membola tak percaya. Lucia hanya mengangguk.
"Dia adalah pria yang tadi aku cerita kan sama lo tadi."
"Serius lo?"
__ADS_1
***