
Dengan wajah suram Elvira melakukan pekerjaan yang seharusnya di lakukan pembantu. sudah beberapa hari Elvira melakukan itu. wajahnya menunjukkan lelah yang tak.di tutup-tutupi lagi. tapi sikap arogan dan kemauan untuk bertahan sama sekali tak berkurang.
Sebenarnya Cintya tak tega melakukan itu, ia tahu bagaimana lelahnya sedang mengandung. namun sikap menyebalkan yang di tunjukkan oleh Elvira membuat rasa kasihan itu terkikis habis tergantikan oleh keinginan untuk membuat wanita itu jera.
"Sayang, apa ini tidak keterlaluan membiarkan si Jagung memperlakukan Elvira seperti ini?" tanya Dewa pagi itu saat Cintya membantunya bersiap kerja.
"Jagung siapa?"
"Siapa lagi, ya itu?" Dewa memberi isyarat ke arah pintu dengan matanya.
Cintya mengulum senyum. "Anggun, bukan jagung."
"Anggun apaan, gak ada anggun-anggunya tuh modelan begitu?"
"Anggun namanya kak, ih! sebel. tapi dia cantik kan, kakak gak pengen gitu di gr*pe-***** sama dia." goda Cintya sengaja memancing Dewa. ia sangat suka jika Dewa ketakutan saat di dekati pria cantik itu. wajahnya yang tegas itu berubah lucu.
"Najisss!" Dewa bergidik memandang jijik. "mending sama tante lux itu mah?"
"Katanya sih oralnya mantap." godanya lagi. ia yakin sebwntar lagi Dewa akan mengoceh.
Dewa mendelik, "Ngomong apa.Cinta?"
Cintya terkekeh sambil terus mengancingkan kemeja Dewa, "katanya, aku kan bilang katanya. gitu aja sewot!" dengan memanyunkan bibir.
Cup!
"Mubadzir di anggurin." Dewa terkekeh ringan, apalagi saat Cintya semakin cemberut.
"Dasar maling."
"Maling gimana, udah tunai ini."
Cintya tak protes lagi. untuk soal itu ia tak akan menang. jika ia menolak semua keinginan Dewa yang berhubungan dengan masalah itu, suaminya itu tiba-tiba bisa mendadak ustadz. yang akan menceramahi nya panjang kali lebar tentang kewajiban seorang istri. Cintya sampai bosan.
"Sayang, kamu belum jawab tadi."
"Apa?"
"Yang tadi, soal Elvira." jawab Dewa sedikit pelan. ia tak mau harinya berantakan karena merusak emosi wanita semakin suka merajuk itu.
"Ini bukan aksi protes kan?" dengan wajah curiga Cintya menjawab.
"Jangan sampai membahayakan bayi dalam kandungannya, kita bisa mendapatkan masalah jika itu terjadi." nasihat Dewa yang di jawab anggukan ringan oleh Cintya.
"Sampai besok, jika besok ia tak mau pergi aku yang akan memaksanya."
__ADS_1
"Caranya?" tanya Dewa sedikit curiga. ia sangat mengenal wanita cantik yang jahilnya ampun-ampunan itu.
"Ada deh, nanti."
"Cinta,,,"
Semakin tak enak saja perasaan Dewa. apalagi jika Cintya sudah berteka-teki dengannya.
"Apa sih, aku gak akan nakal gak kan bikin onar lagi, apalagi bikin masalah. aku kan cantik manis dan baik hati. kaya raya pula." ujarnya narsis membuat Dewa tertawa.
"Iya kamu cantik, paling cantik dan terbaik. istrinya Dewa."
Keduanya tertawa, lalu dengan melingkari pinggang Cintya dengan tangannya, Dewa bejalan bersisian keluar dari kamar.
"Nanti kamu ke kantor ya."
Cintya sedikit mendongak mensejajarkan pandangannya pada wajah Dewa.
"Jadwal Twins imunusasi kan hari ini."
"He em, apa kakak mau antar kita?"
Dewa mengangguk.
"Apa tidak sibuk?"
Cintya tertawa girang, sangat sit mengajak Dewa untuk keluar, tapi hari ini pria itu mengatakannya sendiri. tentu Cintya tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dewa tersenyum melihat Cintya yang sangat bahagia. tak ada yang lebih membahagiakan kecualimelihat istrinya tertawa bahagia. tapi di balik itu, Dewa menyimpan kejutan. ia harus berbohong demi membuat Cintya tak lari karena harus menjalani pemeriksaan. bagaimana pun ketakutan pada rumah sakit belum sepenuhnya hilang.
***
Di sudut ruang yang lain, Elvira mengepalkan tangannya. satu tanganya yang lain membanting alt pel lantai hingga menimbulkan suara benturan.
Semakin hari rencananya bukan mendekati keberhasilan melainkan tampak kegagalan semakin nyata.
"Kenapa? sakit hati?" ejek Agung dari arah belakangnya.
"Siapa kau?" tanya Elvira sengit. ia mulai mencurigai permainan antara Agung dan Cintya.
"Kenapa tanya itu? bukankah semua sudah jelas. jadi tak perlu di per jelas lagi bukan?"
"Dia istrinya Dewa kan?" tanya Elvira to the point.
"Siapa pun Dia, yang pasti posisinya kuat di sini. kau bisa lihat jika Dewa tak berkutik di hadapannya. bahkan keluarga besar Herlambang lebih memprioritaskan Cinta dari pada Dewa sendiri. jadi, daripada kamu tersiksa di sini, lebih baik kamu pergi. kamu tak akan memiliki kesempatan untuk merebut Dewa."
__ADS_1
Elvira mendengus, ia merasa bodoh hingga tak menyadari jika Cintya adalah nyonya di rumah itu.
"Tapi Dewa berhutang nyawa. padaku."
Lagi-lagi jawaban itu yang Elvira gunakan sebagai senjata.
"Bukan padamu, tapi pada Antoni." jawab Elvira semakin sengit. ia benci jika di ungkit masalah itu.
"Tapi Antoni adalah ayah dari bayiku." keukeuh Elvira tak ingin terlihat kalah.
"Tapi sayangnya kebohongan yang coba kau ciptakan itu tak mempan untuk Cinta." Agung tertawa lepas mengejek kepercayaan diri Elvira.
Mendengar tawa Agung yang keras, membuat Cintya meninggal kan meja makan dan menghampiri keduanya.
Selama Agung berada di rumah itu, Dewa tak lagi sarapan di rumah. ia hanya meminum kopinya yang Cintya bawa ke kamar. sungguh Pria itu berada di titik rasa takutnya.
"Ada apa.kau tertawa seperti itu?" tanya Cintya pura-pura bodoh.
"Aku hanya sedang membuat wanita ini sadar akan posisinya." jawab Agung dengan logat wanita yang sangat netral.
"Terlalu mengharapkan sesuatu yang tak pasti itu tak baik untuk kesehatan hati dan jantung Elvira." tutur Cintya penuh makna.
"Ku rasa itu semua tak ada hubungannya." balas Elvira yang tak dingin kalah berdebat.
"Coba kau pikir atau tanyakan pada dokter bagaimana cara kerja jantung dan hati."
Elvira bergeming. sama sekali tak berniat untuk berpikir.
"Sering marah-marah akan berdampak negatif pada kesehatan jantung. emosi dapat memicu perubahan fisiologis yang memengaruhi darah, sehingga dapat meningkatkan risiko serangan jantung. dan kau tau artinya apa? kau bisa saja terkena serangan jantung. dan mungkin saja kau bisa mati saat itu juga." Elvira melirik tak suka.
"Lalu hati, jika kau terus-terusan sakit hati, maka yang terjadi adalah kau akan merasa tak tenang. tak enak makan tak enak tidur. lalu ada perubahan fisik padamu. kau akan kurus karena kurang makan dan wajahmu akan jelek karena kurang tidur. dan yang terburuk adalah kau semakin tak menarik. dan yang paling buruk dari itu semua, kau lebih tak bisa menggoda suamiku lagi." tutur Cintya dengan gaya bicara yang sangat anggun.
Elvira masih mematung di tempatnya. tangannya terkepal menahan emosi. ia merasa kalah sekarang.bahkan Dewa tak pernah memperhatikannya lagi. ia semakin sulit untuk mencari perhatian karena Dewa langsung berada di kamar setelah tulang kerja.
"Wanita terhormat tak akan menggunakan penderitaan nya untuk melakukan seperti yang kau lakukan Elvira, apalagi kau hanya mengambil.kesempatan dari keadaan. asal kau tahu, aku sudah tahu semuanya, termasuk siapa ayah dari anakmu."
Elvira membulatkan mata. apa benar yang ia dengar. jika seperti ini, ia tidak hanya gagal mendapatkan Dewa tapi juga bisa tersangkut masalah pidana. tali ia sama sekali tak dingin menyerah. pasti ada satu cara yang bisa ia gunakan sebagai senjata.
"Kemasi barang-barangmu, kau bisa pergi saat ini juga. atau besok Anggun akan menyeret mu."
Cintya pergi dari tempat itu bersama Anggun. meninggal kan Elvira dengan segala penyesalan akan kegagalannya.
***
Slow up, ya genks...
__ADS_1
Alex up malam.