
Happy Reading...
Cintya kembali turun setelah ia terjebak selama dua jam dari ia naik tadi.
Elvira yang kebetulan sedang duduk di sofa ruang tamu mendadak tegang lantaran ia mendapati Cintya dalam balutan bathrobe, apalagi rambutnya yang basah seolah memberitahukan aktifitas apa yang baru saja ia lakukan.
"Kenapa muka kamu jelek begitu?" tegur Cintya seolah mengolok.
"Bukannya tadi kamu memakai baju pelayan dan ini kamu?" tudingnya pada bathrobe yang Cintya kenakan, "jangan bilang kamu habis_"
"Kamu wanita dewasa, aku rasa aku tak perlu mengatakannya bukan?"
Benar sekali, tepat seperti dugaan Elvira. Dewa memang telah mengacak-acak Cintya di atas ranjangnya. aktifitas malam yang seharusnya belum waktunya di lakukan itu pun terjadi saat itu juga.
"Apa ini?"
"Anda menyukainya tuan?" Cintya menggeliatkan tubuhnya dengan kerlingan nakal.
"Mau goda siapa hem?" Dewa menarik pinggang Cintya dan merapatkan tubuhnya.
"Apa ada yang lain di sini selain dirimu yang tampan ini?" godanya semakin menggila.
"Dasar penggoda kecil," Dewa meremas bokong Cintya lalu menepuknya.
"Awww, kau nakal sekali tuan." keluhnya dengan di iringi suara mende sah manja.
"Kalau begitu kau harus bertanggung jawab membuatnya kembali tenang."
Cintya mengakhiri ceritanya dengan wajah paling menyebalkan di mata Elvira.
"Oh andai kau tahu bagaimana ia membuatku berteriak di atas pangkuannya."
Cintya sangat menikmati wajah Elvira yang memerah.
"Aku sudah menduga kau semurahan ini." tuduh Elvira dengan senyum mencemooh.
__ADS_1
Tak ingin kalah, Cintya pun semakin bersemangat untuk membalas ucapan Elvira.
"Itu tidak benar Elvira, nyonya Adisti sendiri yang memintaku untuk melakukannya jika beliau sedang tak berada di rumah." Cinta bercerita dengan melipat sebelah tangan di dada. satu tangannya yang menganggur memilin-milin rambutnya yang basah.
"Apa kau pikir aku akan percaya? aku yakin kau yang duluan melempar tubuhmu ke atas ranjangnya."
"Kalaupun itu benar aku sangat pantas melakukannya. aku cantik tubuh ku bagus. tapi jika kamu yang melakukannya?" Cintya memindai tubuh Elvira dari ujung kepala sampai ujung kaki, "aku tidak yakin dia akan tertarik padamu."
Cintya tersenyum miring, apalagi Elvira yang tiba-tiba meraba wajah lalu perutnya.
"Dia sangat bringas, dia tak akan tertarik padamu karena itu akan menghalanginya." tunjuk nya pada perut Elvira.
"Jadi kemungkinan untuk Tuan melirik mu itu sangat kecil." Cintya sangat menyukai saat Elvira merasa rendah dan tak percaya diri.
"Kau hanya akan membuatnya ilfil." Cintya semakin gencar menyerang Elvira dengan ucapannya.
Cintya bukan wanita bodoh yang akan terus terusan berkelahi. Ia tentunya lebih suka menyerang mental Elvira dari pada raga wanita itu.
"Kau jelek dan tidak menarik!"
Cintya tersenyum menerima tamparan dari tangan Elvira. meskipun pipinya panas, tapi hatinya bahagia karena Elvira masuk perangkapnya.
"Ada apa ini!"
Elvira berjingkit dan spontan menoleh. Dewa berdiri di belakangnya dengan muka garang.
"Dia menamparku dan mengatakan aku murahan Tuan, Hiks!"
Cintya tersedu dengan memegang pipinya yang terasa panas sambil menunduk.
Dasar drama queen. kapok gak kena tampar.
Dewa tertawa dalam hati. tentu saja. dan ia tak akan terkejut dengan tingkah istrinya yang kadang-kadang suka mendadak artis.
"Elvira apa yang kau lakukan!" tegur Dewa.
__ADS_1
"Dia menghinaku lebih dulu!"
"Itu tidak benar, dia mengatakan aku murahan dan melemparkan tubuhku ke atas ranjang mu agar kau dapat menikmati tubuhku." jawab Cintya penuh drama.
Air matanya berurai semakin deras dan suara tangisannya semakin kencang. ia berakting persis protagonis yang sedang teraniaya.
Dewa ingin sekali tertawa terbahak-bahak. iseng sekali.
"Apa itu benar Elvira?" tanya Dewa seolah memastikan. padahal dia tahu jika Cintya yang lebih dulu memulai semuanya. termasuk tamparan yang terjadi itu pun pasti karena Cintya sudah melihat kedatangannya.
Elvira tak menjawab karena Cintya memang benar. tadi ia mengatakan apa yang di cerita kan Cintya.
"Elvira!"
"I_itu," lidahnya kelu. Elvira ketakutan setengah mati. di hari pertama ia sudah membuat kekacauan. ini semua karena Cintya yang membuatnya tak bisa mengendalikan diri.
"Sudahlah, aku tak ingin ada keributan lagi. dan Kau Elvira, istriku mengijinkan mu tinggal di sini karena aku yang memintanya. karena anak dalam kandungan mu adalah tanggung jawabku. tapi dia tak akan suka jika pengasuh si kembar kau perlakuan seperti ini."
Hiks! pengasuh? ish, mulutnya.
Cintya menggerutu dalam hati.
Dewa terkekeh dalam hati. ia tahu pasti istrinya itu kesal ia sebut pengasuh. salahnya sendiri yang suka sekali berpura-pura.
"Apakah masih sakit?" Cintya mengangguk sambil cemberut. pasang muka manja.
Untuk bagian ini Dewa tak berpura-pura. ia yakin istrinya itu benar-benar kesakitan.
"Sini peluk biar gak sakit."
Cintya meringsek dalam pelukan Dewa. pasang senyum mencibir ke arah Elvira.
Tangan Elvira mengepal. hari pertama sudah gagal, untuk selanjutnya ia tak boleh gagal. ia merasa harus meminta tolong pada seseorang.
***
__ADS_1