
Happy Reading....
"Kakak akky hasil papi seratus persen ya kak kak, kalo adek aza cuma sepuluh persen, sisanya mami buat sendiri."
Cintya makin melotot.
Di kiranya anak-anaknya itu barang buatan tangan apa sehingga Dewa mengatakan begitu. minta di apain sih pria ini.
"Tapi rambut aza keren, tebel, Papi punya ini sih." Dewa mengacak pelan rambut tebal putrinya.
"Tapi kulit kalian putih mirip_"
"Mirip tetangga!" sela Cintya dari belakang.
Siluman singa betina sudah datang.
Dewa nyengir garing.
"Hey sayang, dari mana?" Sambut Dewa pada Cintya, aura-aura singa mengaum sudah terasa di dalam kamar itu.
"Dari maen." jawab Cintya ketus.
Dewa mengulum senyum, di lihatnya istrinya itu sudah bertekuk wajah.
"Main apa?" melihat Cintya berlaku seperti itu, Dewa bernostalgia ke masa satu setengah tahun yang lalu. di mana ia sering menggoda gadis muda yang ia panggil bocil hingga hampir menangis.
Dewa merindukan masa-masa itu. kini ia tak pernah menggoda lagi. yang ada justru ia secara tak sengaja sering membuat istrinya itu marah. tapi ia selalu menyukai hal itu. karena biasanya setelah ia membuat Cintya marah akan terjadi hal-hal manis di antara mereka.
Dewa akan merayu dengan sangat untuk merontokkan amarah arwah sang singa betina yang sedang bersarang di dalam dada istrinya. Dewa sangat menyukai saat istrinya mulai merengek dan manja. tak ada yang lebih menyenangkan dari itu. lalu mereka akan menyelesaikan masalah mereka di atas ranjang. dan tolong di garis bawahi bahwa ini bagian yang paling Dewa sukai.
"Main mainan biasa saat kakak ke kantor, ya kan dek,," jawab Cintya sambil cemberut. meminta persetujuan pada bayi-bayinya. yang di jawab dengan tawa lucu oleh si kembar.
Ah, bibirnya itu. membuat Dewa gemes ingin memakannya.
"Sini, kakak kangen sama kamu." Dewa menepuk lantai beralas karpet di samping nya.
__ADS_1
Cintya menurut. ia merebahkan diri di samping Dewa berbantalkan lengan suaminya.
"Kenapa kakak sudah pulang? biasanya malam baru pulang."
"Tadi kakak gak pergi ke kantor." Cintya menoleh memandang lekat ke mata Dewa.
Cintya merasa ada maksud lain dari ucapan itu.
"Bukankah tadi kakak bilang ada pekerjaan mendesak?" tanya Cintya menegaskan.
"Kakak ke luar kota."
"Jika aku boleh tahu, ada apa di luar kota. kenapa sekarang lebih sering keluar kota. dan apa karena alasan itu kakak lebih sering pulang terlambat?"
Pertanyaan Cintya yang beruntun mulai meresahkan. Dewa harus benar-benar mampu membaca situasi. karena hal yang akan ia bicarakan adalah hal yang sangat sensitif.
"Elvira,"
Degh!
"Elvira sedang hamil. dan kakak harus bertanggung jawab pada anak itu karena itu memang harus. dan_"
Drrt...
Drrtt..
Drrt...
Getaran panggilan di ponsel Dewa menginterupsinya.
Raut wajah Dewa mulai terlihat panik saat mengangkatnya. dan kekhawatiran mulai mendera.
"Jangan berbuat buruk pada bayi itu, aku mohon." pinta Dewa oada orang di seberang telpon.
Jantung Cintya mulai mencelos, Bayi siapa itu. kenapa suaminya itu terlihat sangat cemas
__ADS_1
Pikiran-pikiran buruk mulai menghampiri. Dewa tak pernah sekhawatir ini. bahkan ketika dulu Delon yang adalah anak angkatnya sakit, ia akan cemas. tapi tak terlihat setakut ini.
Tak akan ada satu wanita pun yang tidak curiga jika di suguhi dengan cerita kehamilan wanita lain apalagi lengkap dengan raut keemasan yang berlebihan.
Cerita Dewa yang terdengar sepotong-potong dan ambigu menimbulkan persepsi persepsi negatif. mungkin Dewa sudah menyalahinya atau suaminya itu sedang Khilaf. atau ketidak sengajaan.
Coret di bagian terakhir, tidak ada yang namanya tidak sengaja dalam hal seperti itu.
Cintya menyebut perasaan ini sebagai kecurigaan.
Mungkinkah Dewa menghianatinya?
Tidak salah bukan, jika Cintya berpikir seperti itu melihat sikap Dewa akhir-akhir ini. lebih banyak diam dan kembali merokok. lalu kejadian bentakan malam itu. dan Cintya mulai menghubung-hubungkan masalah ini dengan seringnya Dewa berangkat pagi pulang malam dan membawa aroma parfum lain.
Sedangkan Dewa sendiri masih sibuk dalam pembicaraan dengan orang di seberang telpon yang entah siapa.
"Cinta, kakak harus pergi. nanti kita bicara lagi oke," Dewa pergi begitu saja setelah ia memberikan kecupan di kening Cintya.
Apa Elvira yang memintanya datang?
Dewa berjalan tergesa tanpa mengganti pakaiannya. Cintya hanya menatapnya bingung. siapa Elvira itu. sepenting itukah sampai Dewa tak menyapa bayinya lagi.
Suara sepatu Dewa yang menghentak lantai memberi tahu bahwa pria itu sedang berlari.
Sesak kembali Cintya rasakan, perasaan sakit yang mulai memudar kini kembali menyeruak.
Siapa Elvira.
Bayi siapa itu.
Dua pertanyaan itu berputar-putar di benaknya.
Dengan gontai, Cintya menyeret langkahnya menuju balkon hanya untuk memastikan suaminya itu tak akan menolehnya lagi. dan benar adanya. Dewa hanya memutar balik mobilnya. melesat keluar melalui gerbang tinggi rumah yang baru saja mereka tinggali.
Tak terasa bulir air mata mengaliri pipinya. bukan karena ia tak mempercayai Dewa. tapi menyadari bahwa perhatian suaminya terbagi dengan orang lain tak dapat ia terima.
__ADS_1
***