
happy Reading...
"Tadi lo bilang Cinta berencana pergi dua bulan, dan itu artinya lo tahu dan lo gak mengatakan apapun." Alex gelagapan. ia sudah tak dapat meralat ucapannya lagi.
"Dasar Asisten durjana jelmaan Abu nawas!"
"Enak aja, emang kapan gue nipu lo?" sanggah Alex tak terima.
"Yang tadi itu apa Lex?"
"Yang.. yang. tadi itu, gue terpaksa. iya gue terpaksa nurutin perintah nyonya." Alex nyengir bodoh.
"Kuciiiiing! yang jadi atasan lo siapa? gue apa cinta?"
"Ya elo lah, masa gitu aja lo pakai nanya?"
"Terus kenapa lo malah nurutin maunya Cinta!"
"Daripada gue yang jadi sasaran, lah mendingan elo." Cicit Alex sebelum Dewa kembali memarahinya.
"Bukan begitu juga konsepnya dodol!"
Dewa meremas udara, geram sekali pria itu. ternyata pengkhianatnya ada di sampingnya.
"Pantesnya lo ganti nama aja Lex!"
"Siapa?"
"Terserah elo, Geraldo Alexis terlalu bagus buat lo."
"Nanti deh suruh si Rosalinda bikin tumpeng.'"
Adu mulut dua orang itu masih berlanjut dan tanpa terasa mobil mereka mulai masuk ke dalam kepadatan lalu lintas.
Hari mulai senja, di antara deru dan debu Alex masih berada di belakang kemudi sementara Dewa duduk bersandar sambil memainkan ponselnya.
"Lex lo udah dapat info jam berapa penerbangan Cinta?"
Alex terlonjak, dan sontak menoleh. lalu menelan ludah. baru saja perdebatannya bersama Dewa terhenti, apa mereka akan kembali berdebat karena Alex lupa tugasnya.
"Gue lupa." jawab Alex lirih memasang wajah polos seperti siswa sekolah dasar yang lupa membuat PR.
"Alexxxx!" terdengar geraman dari mulut Dewa hingga tanpa sengaja Alex menginjak rem yang mengakibatkan tubuh Dewa hampir terjerembab.
"Gila lo ya!"
"Sebenarnya enggak!"
"Lalu tadi?"
"Gak sengaja Wa!"
"Berhenti jawab gue Lex!"
"Lo nanya gue jawab."
__ADS_1
"Ck, gak sopan lo sama gue,"
Entah berapa kali dalam sehari dua pria itu berdebat seperti anak kecil. bahkan sampai lupa jika seharian mereka tak bekerja melainkan kelayapan.
Hari sudah gelap saat Dewa dan Alex masuk ke ruang kerja Dewa. bahkan para karyawan sudah pulang semuanya. di dalam gedung itu hanya tinggal sang Direktur dan Asisten yang harus menyelesaikan pekerjaan yang terbengkalai.
"Besok lo jadi nyusulin nyonya?"
"Tunggu info dari Jojo, kalo mereka gak pulang yan terpaksa gue susul. dan lo gak perlu undur jadwal gue, lo gantiin gue aja."
"Oke!"
Larut dalam pekerjaan membuat Dewa tak mendengar saat gawainya bergetar. ia membiarkan saja hingga benda pipih itu berhenti mengeluarkan suara. dan hari semakin malam mereka seolah tak ingat apapun saat keduanya sangat bersemangat dalam berkerja.
Alex menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri untuk melenturkan ototnya. sementara Dewa menegakkan punggungnya yang terasa kaku.
Duduk membungkuk selama beberapa jam setelah perjalanan ternyata cukup melelahkan.
Dewa melipat lengan kemejanya sampai siku. dan bersamaan dengan itu ia melihat jam yang melingkar di tangannya. ternyata hari sudah malam dan seharusnya mereka pulang dua jam yang lalu.
"Balik Lex, Jojo kirim pesan. Fira sudah sampai."
Dewa cepat-cepat membereskan kerjanya yang berantakan lalu mereka pulang tanpa menunggu waktu lagi.
Dalam satu jam, Mobil Dewa telah sampai di rumahnya. rumah yang ia tempat bersama Cintya. ia sangat yakin jika Cintya pulang ke sana. jika tidak, Leo pasti sudah menelpon dan memarahinya.
Di ruang tamu, Dewa di sambut oleh asisten rumah tangganya. wanita itu tampak mondar mandir gelisah.
"Akhirnya Aden pulang juga," Bibi menyongsong Dewa yang baru melangkah masuk.
"Tadi Non Cinta bertengkar sama Elvira lalu pergi lagi dengan membawa si kembar."
Dewa mengepalkan tangan. belum apa-apa Elvira sudah membuat Cintya kembali marah.
Sebenarnya Dewa sangat ingin menegur, tapi Dewa masih harus menahan agar rencananya berjalan lancar.
"Apa bibi tau kemana Cinta?"
"Non Cinta bilang mau di villa saja." jawab Bibi bermaksud agar Dewa segera menyusul Cintya dan anak-anaknya.
"Ya sudah Bi, aku mau susul ke sana."
Bibi tersenyum lega. jujur wanita itu lebih suka jika Dewa tak berada di rumah itu. agar Elvira tak memiliki kesempatan untuk memanfaatkan situasi.
"Sekarang Den?" tanya Bibi.
"Iya Bi,"
"Tapi Aden pasti lelah."
"Tak apa, besok juga libur. aku sudah kangen sama mereka."
Bibi mengiringi Dewa kembali ke luar dari rumah dan menunggu sampai mobil majikan yang telah ia rawat sejak remaja itu menghilang di balik pintu gerbang. dan udara malam menemani perjalanannya menemui pujaan hatinya.
***
__ADS_1
Di atas ranjang yang luas dalam kamar mewah itu, Cintya tampak gelisah. ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya.
"Kakak, mau peluk!" keluhnya sedih.
Cintya berusaha menyamankan tubuhnya agar dapat segera menjemput mimpi. tapi kerinduan pada sang suami yang tak ia lihat selama tiga hari ternyata begitu menyiksa.
Akhirnya setelah bertarung dengan perasaan rindunya, Cintya terbawa arus kantuk yang membuatnya terlelep.
Sementara Dewa masuk ke dalam kamar itu, Cintya tampak sedang meringkuk di bawah selimut seperti seorang bayi.
Dewa ingin sekali menerjang saat itu juga, untuk meredakan rasa rindu yang menggelora dalam dadanya. serta melepaskan rasa berat yang sangat menganggu. namun demi melihat Cintya yang terlelap, Dewa memilih tak egois. yang ia lakukan hanya duduk berjongkok di hadapan wajah cantik yang sedang terpejam itu. menikmati rindu yang terkikis oleh pemandangan indah di hadapannya.
"Dasar gadis nakal." Dewa mengusap ujung hidung Cintya dengan hidungnya. antar gemas dan kesal menjadi satu. betapa inginnya Dewa menggigit pipi yang masih selembut bakpao itu. lalu ia terkekeh sendiri.
"Cuma tiga hari, tapi kamu sudah membuat kehebohan dan hampir membuat gila semua orang."
Dewa terus saja mengoceh meski ia tahu Cintya tak akan menjawab.
"Kita honeymoon sayang," ujarnya lalu melabuhkan kecupan sekilas di bibir Cintya. kemudian ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya agar dapat segera mendekap tubuh istrinya dalam pelukannya.
***
Pagi masi buta, namun dinginnya angin pantai terasa menggigit. Cintya menggeliatkan tubuhnya mencari kehangatan yang segera ia temukan lalu melanjutkan tidurnya.
Saat udara semakin menghangat karena sang surya telah menampakkan diri, Dewa terbangun lebih dahulu. bibirnya mengulas senyum bahagia karena pagi harinya, ia di sambut muka bantal Cintya yang masih tampak cantik. lalu kaki panjangnya melangkah menuju kamar mandi. ia ingin segera menikmati hari libur bersama anak-anaknya.
Cintya menggerakkan tubuhnya, ia sempat tertegun. paginya di sambut oleh aroma yang selama tiga hari ini tak menyapanya.
Wanita itu berusaha menggali ingatannya tentang hangat yang menyelubunginya semalam.
"Apa kakak di sini?" Cintya bermonolog sendiri lalu menggeleng mengenyahkan pikiran yang menurutnya konyol.
"Ternyata aku kangen banget sampai merasa di peluk semalaman."
"Tapi kok seperti nyata?" tanyanya pada diri sendiri lalu kembali menggeleng."Tapi gak mungkin. tapi aroma ini? ah mungkin ada jin yang berusaha menggodaku."
Cintya bergidik lalu turun dari tempat tidur, dengan langkah cepat ia masuk ke dalam kamar mandi.
Langkahnya terhenti di depan pintu karena sosok tinggi yang menjulang di hadapannya.
"Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma inni 'audzu bika minal khubutsi wal khobaits.”
Cintya dengan ejaan yang berantakan membaca do'a masuk ke dalam kamar mandi. ia berpikir bahwa itu jin penjaga Villa yang menyamar menyerupai Dewa. dan. berniat menggodanya
Bukannya takut, Jin abal-abal itu justru tersenyum jahil.
Ternyata ada juga jin yang bengal." geramnya lalu meniupkan udara setelah ia membaca Do'a
"Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma inni 'audzu bika minal khubutsi wal khobaits.”
Mungkin ejaan yang tadi salah, jadi Cintya membaca ulang Do'a nya.
"Tapi kenapa jin ini tampan sekali dan juga wangi?"
***
__ADS_1
Si Sableng jadi Jin botol parfum genks,,, Wkkk...