
Happy Reading...
"Dewa, kau harus jadi milikku. harus!" Elvira mengepalkan tangan di dada penuh dengan tekad.
Rencana-rencana jahat dan Drama memuakkan sudah bersarang di otaknya.
Elvira segera mempersiapkan semua yang harus ia bawa untuk merebut posisi sebagai Nyonya Herlambang. tapi ia sama sekali tidak tahu siapa yang akan ia hadapi nanti.
Elvira hanya manusia yang membawa obsesi dan emosi serta kelicikan dalam hatinya. tapi ia lupa, mungkin saja sambutan yang akan ia terima di tempat barunya adalah pelajaran yang tak pernah ia dapatkan di manapun.
***
"Kenapa? Haus?" tanya Dewa.
Cintya menggeleng untuk mempertahankan harga dirinya. karena ia memiliki misi lain yaitu setelah hukuman tak adil ini, ia berniat membalas Dewa.
Tunggu saja, pembalasan akan lebih kejam kisanak!
Cintya menelan ludah berkali-kali untuk membasahi tenggorokan nya. meskipun kakinya terendam air Es, tapi nyatanya udara juga lumayan panas. Cintya tetap berkeringat meski Dewa tak menghukumnya di bawah terik matahari langsung. tentu saja ia tak sampai hati melakukan itu. Cintya-nya adalah berlian yang harus di perlakukan dengan lembut. tapi kehadiran Elvira yang lebih dulu mengusik, mau tak mau Cintya harus memberikan peringatan.
"Bi,, bibi." panggil Dewa dengan nada panjang.
"Iya Den," Bi Marni berjalan tergopoh menghampiri Dewa. "ada apa Den?"
"Nyonya haus, ambilin makan gih?"
Bi Marni tercengang, kalau haus ya ambil minum, ini kenapa harus ambil makan?
"Makanan Den?" tanya Bibi ragu atas permintaan Dewa.
"Iya Bi, bibi gak lupa kan tadi saya suruh apa?"
"Oh itu Den, ia segera saya ambilkan."
Bi Marni kembali lari aje dapur untuk mempersiapkan permintaan Dewa. makanan untuk Cintya.
Di luar sana, Cintya mendengar dengan jelas apa yang di perintah kan Dewa. dan hal itu menimbulkan kecurigaan di hati Cintya.
"Kakak lagi rencanain apa sih?" tanya Cintya dengan memicingkan mata, menatap penuh curiga.
"Anak kecil gak boleh kepo," jawab Dewa acuh. Cintya tampak cemberut, menekuk muka hingga dagunya menyatu dengan leher. persis anak kecil yang di larang bertanya ini itu oleh ibunya.
"Siapa juga yang kepo, cuma mau tanya aja kok! gak kepo-kepo amat," gumam Cintya lirih. tapi masih dapat di dengar oleh Cintya.
"Awas aja nanti malam minta jatah!"
__ADS_1
Dewa menajamkan telinganya, berusaha mendengar apa yang di gumam kan oleh Cintya.
"Seminggu pokoknya," Dewa membelalakkan mata. sedikit takut dengan ancaman istri nya. ia yang menghukum, kenapa ia yang sekarang harus di hukum balik.
Dewa mulai takut dengan keadaan.
"Kakak denger kok gerutuan kamu," tegur Dewa sok tak terpengaruh ucapan Cintya.
"Bagus kalo gitu aku gak perlu ngulang."
Bersamaan dengan itu Bibi datang dengan membawa semangkuk es serut tanpa syrup maupun susu.
"Nih Den," Bibi menyerahkan mangkuk itu yang langsung di terima oleh Dewa dengan seringai menakutkan.
Dewa menghampiri cintya ysng masih sibuk dengan gerutuannya hingga ibu muda itu tak menyadari bahwa Dewa sudah berada di depannya, menyodorkan es tawar yang ia maksud dengan makanan tadi.
"Nanti, kalo mau berbuat kerusuhan ingat hari ini ya sayang?" Dewa menaruh mangkuk itu di pangkuannya lalu mengusap pucuk kepala Cintya dengan lembut. seolah wanita yang telah melahirkan anaknya itu adalah anak kecil yang meminta di perhatikan.
"Jadi aku harus habisin ini gitu?" Dewa mengangguk dramatis. "tanpa gula tanpa susu." kembali mengangguk dengan seulas senyum tipis.
"Ya sudah, biar aku kasih s*su aku sendiri aja."
Dewa melotot mendengar kelakar absurd istrinya itu.
"Ngomong apa Cinta."
"Cuma ngomong enak nanti susunya Adek tawar campur Es."
Dewa berdecak, "Teori dari mana tuh? perasaan gak ada teori itu di bu_"
Kress.
Dewa meringis mendengar Cintya mengunyah es batu tanpa peduli jika giginya pun ikut ngilu.
"Puas sekarang? kakak hukum aku hanya karena Elvira. itu belum seberapa karena apa.yang akan terjadi pada Elvira akan lebih buruk dari yang di alami Isabel."
Cintya membanting Mangkuk Es yang tinggal separuh ke dalam ember yang berisi air dingin setelah ia mengangkat kakinya dari sana. hingga percikan yang di hasilkan membasahi celana kerja Dewa.
Cintya menghentakkan kaki melewati Dewa. ia sengaja menyenggol Dewa yang sedang berkacak pinggang. menyebabkan pria itu bergeser ke samping dengan ekspresi melongo.
Cintya berhenti lalu membalik tubuh menghadap Dewa. ia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke arah matanya sendiri lalu ke arah Dewa dengan maksud mengancam.
"Kita lihat apa yang bisa aku lakukan pada si Elvi Elvi Tamasya itu." ancamnya garang.
Tapi bukan Dewa jika ia takut dengan ancaman Cintya yang seperti itu. bagi Dewa kelakuan istrinya itu tampak lucu daripada menakutkan.
__ADS_1
"Cinta," panggil Dewa namun sayang, Cintya yang sedang kesal terlalu malas untuk menjawab.
"Sayang," panggil Dewa lagi.
"Kamu marah?"
"Udah tau nanya?"
Dewa mengikuti Cintya dengan langkah cepat.
"Kenapa marah?"
Cintya berhenti dan berbalik.
"Kakak tanya kenapa? kakak hukum aku karena Elvira. aku tidak suka dengan sikapnya itu!"
"Emang dia apain kamu?"
"Whaat?" Cintya hisreris di buat-buat. "masih berani tanya? lihat ini, lihat ini!" Cintya menunjuk satu persatu semua bekas atau apapun yang ia rasa sakit akibat ulah Isabel. "Kalo dia berani kesini, aku pastikan kakak akan menyesal karena hari ini sudah membiarkan aku kelaparan dan kehausan."
Degh!
Dewa melupakan itu.
"Apa yang akan kamu lakukan!" terus terang Dewa sedikit khawatir dengan ancaman Cintya. istrinya itu adalah tipe orang yang tidak suka berbohong dan selalu melakukan apapun yang di ucapkan.
"Jadi kalau kakak masih berhubungan dengannya, lakukan satu hal!" ada emosi dalam ucapan Cintya. ia bahkan telah menghapus ekspresi cemberut di wajahnya. "peringatkan dia untuk tidak bermimpi terlalu tinggi."
Dewa sangat mengenal watak Cintya, jika istrinya itu cemberut maka ia tak benar-benar marah. namun jika Cintya sudah mengurangi kicaunya, maka percayalah, itu artinya wanita itu tidak main-main dalam ucapannya.
"Sayang,"
"Dan jangan pernah lupakan apa yang pernah aku bilang sama kakak, apapun yang di ambil dariku maka akan ku rebut kembali dan akan ku hancurkan hingga tak bersisa."
Untuk kali ini Dewa tak dapat berkata apapun. satu setengah tahun ia mengenal gadis yang sekarang berstatus istrinya itu, baru kali ini Dewa melihat sisi lain dari Cintya.
Sisi dingin dan kejam. bukan tidak mungkin Cintya akan melaksanakan ancamannya. bukan hanya Elvira tapi dirinya termasuk di dalamnya.
"Cinta, kamu salah faham sayang, kakak ha_"
"Aku harap aku yang salah faham di sini. tapi awas saja jika ada hal yang membuat kesalah fahaman ini benar, maka bukan aku yang akan menyesal. tapi kalian yang akan menyesal. akan ku pastikan Elvira menyesal telah menyebut namamu dengan mulut kotornya itu."
Dewa mematung di tempatnya. jujur ia tak mengerti dengan maksud Cintya tentang menyebut namanya. tapi untuk menanyakannya saat ini hanya akan mengundang emosi wanita itu lebih buruk lagi.
***
__ADS_1