
Malam ini akan ada pesta ulang tahun pernikahan mereka. Dewa tak lupa untuk meminta Alex menyiapkan pesta besar dan mewah yang di gelar di hotel mereka.
"Jadi istri yang manis dan jangan berulah."
Cintya merindukan pesan manis itu. dulu Dewa tak pernah lupa mengatakannya sebelum berangkat kerja. tapi semenjak ia keluar kota sebulan yang lalu, Dewa sering lupa mengatakannya.
Aku tak akan berulah jika kakak tak berulah tapi akan terjadi huru hara jika kakak membuat aku marah. sahutnya dalam hati.
"Aku adalah istri dan ibu yang manis, kakak."
"Ya benar sekali, kau yang terbaik milik.Dewa."
Tapi kau akan kehilangan milikmu jika kecurigaan ku sampai benar.
Bukan tanpa alasan Cintya mengatakan itu, itu karena Cintya mendapatkan telpon dari sebuah toko perhiasan untuk pembelian satu set perhiasan. dan yang membuat Cintya heran adalah pemesanan satu pasang cincin kawin polos atas nama Dewa.
Lalu untuk siapa cincin itu. tidak mungkin itu untuk lilian karena cincin pernikahan lilian, mereka telah memesannya sendiri.
Jika Dewa membelinya untuk Cintya, itu lebih tidak mungkin lagi karena satu pasang pengantin tidak memerlukan dua pasang cincin.
Di kantor Dewa tak seperti biasanya. Akhir-akhir ini ia lebih sensitif emosional dan meledak-ledak.
Alex sendiri sampai heran. sudah lama ia tak melihat bosnya itu bersikap seperti itu. bahkan ini lebih buruk dari Dewa sebelum kenal dengan Cintya.
"Lo kenapa sih Wa, gue perhatiin akhir-akhir ini kayak gak nyaman gitu?"
"Lo tau masalah itu kan?"
"Apa sih yang gak gue tau tentang masalah lo."
"Cinta belum tau."
__ADS_1
"Gila lo, mau sampai kapan lo sembunyiin masalah lo?" Suara Alex terdengar biasa tapi ada penekanan di dalamnya.
"Gue takut dia marah Lex," suara Dewa melemah.
"Nyonya bakal lebih marah kalo dia tahu dari orang lain."
"Gue takut dia salah faham."
"Dia bakal lebih salah faham lagi kalo sikap lo kayak gitu."
"Ibunya Elvira minta gue buat nikahin Elvira."
"Gila aja lo sebelum lakuin itu," sentahk Alex setengah emosi.
"Lo bener, lebih baik gue gila dari pada khianati Cinta. tapi anak itu. butuh nama bapaknya."
"Terserah lo tapi awas aja lo kalo sampai bikin nonik sedih, sebelum bang Leo gue dulu yang bakalan gebukin lo!" tegas Alex lalu meninggal kan Dewa dengan keresahan pikirnya.
Benar kata Alex, Dewa tak boleh menutupi apapun dari isterinya. bukankah pondasi rumah tangga ada pada kejujuran dan keterbukaan.
Dewa akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakan masalah ini pada Cintya.
Hari telah beranjak sore, tapi Dewa belum juga pulang. sedangkan pesta akan di mulai satu jam lagi. Hati Cintya mulai resah. ada kesedihan dan kecewa yang menderanya.
Mungkinkah Dewa akan membuatnya bersedih di hari ulang tahun pernikahan mereka. dan jika semua itu benar, maka Cintya bersumpah akan membalasnya. pikiran-pikiran negatif mulai merajai kepalanya.
Dengan langkah berat, akhirnya Cintya datang ke pesta beserta si kembar dan baby sisternya di antarkan oleh sopir yang di kirim dari hotel.
Selama perjalanan, tak henti-hentinya Cintya mengumpat dalam hati yang di tujukan pada suaminya yang tiba-tiba durjana itu.
"Ibu tenang saja, mungkin bapak segera menyusul." baby sister yang berusia tiga tahun lebih tua darinya itu mencoba menenangkan majikannya yang tampak gusar.
__ADS_1
"Kakak, tuh sekarang nyebelin banget tau nggak mbak."
Seperti biasa, mode merengek sangat di perlukan di saat seperti ini.
"Kakak juga aneh akhir-akhir ini?"
"Aneh bagaimana bu, saya melihat bapak masih biasa saja. masih baik dan perhatian sama ibu dan juga anak-anak."
"Baik apanya? dia baik akhir-akhir ini saja."
"Maksud ibu gimana?"
"Sewaktu mbak kemarin pulang kampung, kakak sering berangkat pagi dan pulang malam. dia juga pernah membentak ku."
"Tidak mungkin bu. bapak kan selalu lembut sama ibu sama Twins." baby sister yang bernama Fira itu tampak tak percaya.
."Tidak mungkin gimana, saya sendiri yang mengalaminya."
Fira terdiam.
"Aku curiga suamiku memiliki hubungan dengan orang lain."
Fira tampak Shock mendengarnya, "Itu lebih tidak mungkin lagi karena bapak sangat mencintai ibu."
"Aku tahu itu, tapi jika sampai benar, maka aku bersumpah akan menghancurkannya dan juga membuatnya sangat menyesal karena melakukan itu."
Fira menelan ludah.
"Dari mana ibu mendapatkan pikiran itu?" tanya Dokter Fira dengan kegugupan luar biasa.
"Aku mendapatkan telpon dari sebuah toko perhiasan untuk pemberian sepasang cincin pernikahan."
__ADS_1
Fira meremat jemarinya gugup. apalagi saat melihat wajah Cintya yang mengeras penuh amarah.
Kurang dapet feelnya, si bocil lagi bikin emak emosi, sama kaya' si sableng.