Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Awal terjadinya huru hara


__ADS_3

Happy Reading...


Menghela nafas kasar, lantas Dewa menyandarkan punggungnya. menghadapai Cintya dengan kekerasan bukan Dewa sama sekali, ia belum siap jika Cintya balik menyerangnya. bisa saja istrinya yang pola pikirnya ajaib itu nekat pergi dan membawa si kembar karena menganggap Dewa tak peduli lagi. tapi jika tak memberikan efek jera, Istrinya itu akan selalu membuat huru hara.


Cintya juga tak dapat disalahkan sepenuhnya. kedatangan Elvira sudah pasti menyulut emosinya.Cintya bukan tipe penyerang, ia hanya tipe pelindung. Dewa sangat tahu itu. Isabel contohnya.


"Apa kamu melihat kejadiannya?" tanya Dewa pada Fira yang duduk di hadapannya sambil menunduk.


"Iya."


"Apa Cinta yang melakukannya?"


"I_iya, maksudnya tidak."


"Yang jelas Fira!" hardik Dewa, membuat Fira kehilangan nyali untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Ibu hanya membalas."


Tiga kata yang di ucapkan Fira sudah cukup memberikan jawaban. Dewa percaya Cintya tak akan berbuat jahat. istrinya itu hanya sedikit, jahil.


"Kalian pasti habis bersenang-senang," tuding Dewa dengan mata memicing, apalagi melihat seragam suster yang di pakai oleh Fira juga terdapat bekas adonan yang mengering.


Fira tersenyum kaku, "Ibu meminta saya membantunya." Fira menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal.


"Kalian ini" Dewa menghela nafas kasar. dengan manik mata abu-abunya, ia memandang Fira lekat-lekat. ia tak habis pikir, bagaimana para wanita ini bisa melakukan semua itu. apa lagi mereka juga sedang menjaga dua anak kecil. apa tidak memberikan contoh yang buruk itu namanya.


"Masuk, lihat anak-anak." titah Dewa pada Fira.


Benar saja, Fira langsung berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Dewa yang masih termenung. dalam hati, Fira juga tak menyesali apa yang ia perbuat bersama majikan nya pada Elvira. Fira tersenyum geli setelah nya.


Dewa menuju dapur, tapi ia tidak menemui Cintya. ia masih membiarkan Istrinya itu bersembunyi. Dewa melewati begitu saja Cintya yang sedang mengintip keluar dari dalam. meski ia tahu tapi Dewa memilih pura-pura tak melihat. Dewa terus saja mondar mandir di depan Cintya. ada saja yang Dewa lakukan, mulai dari mengambil air lalu meminumnya. lalu, dengan sengaja ia memakan Ice cream milik istrinya itu dan duduk tepat di atas meja dapur yang Cintya gunakan untuk bersembunyi.


"Kalo makan ice cream siang-siang begini segar ya bi," tanya Dewa pada bibi yang baru tiba di dapur setelah membereskan kekacauan di ruang tamu.


Bibi hanya tersenyum karena Dewa mengkode bibi. Dewa tahu, pasti Cintya capek dan bosan berada di dalam sana. sudah dua puluh menit istrinya itu duduk di ruang sempit dan pastinya juga pengap.


"Bi," Dewa memanggil dengan melambaikan tangan lalu membisikkan sesuatu.


Bibi hanya mengangguk, meski ia tidak yakin Dewa akan tega melakukan hukuman itu, tapi ia tetap melakukannya.


Tok.. tok..


Dewa mengetuk pintu bufet.


"Ayo keluar," titah Dewa.


Cintya masih terdiam. ia tahu Dewa ajan menghukumnya.

__ADS_1


"Mau di sana saja sampai malam? bobo sama tikus, iya?"


Cintya membelalakkan mata


Tikus, semut kecoa, tidak! Cintya menggeleng kuat masih di dalam ruang sempit itu.


Perlahan Cintya menyembulkan kepala keluar dari dalam bufet. Dewa membantunya. betapa terkejutnya ia melihat penampilan Cintya yang tak karuan. gaunnya robek di bagian lengan dan rambutnya yang tergerai di curly bagian bawah itu tampak acak-acakan dan lepek. penjepit rambut berbahan emas putih 18 karat kesayangan nya patah.


Cintya pasti ngamuk karena hal itu. penjepit rambut berbentuk orchid itu ia desain sendiri. warna ungu untuk bunganya ia dapat dari batu ametys. dan Dewa dengan senang hati menuruti kemauan tak masuk akal istrinya itu dengan memesan khusus penjepit rambut di toko perhiasan langganannya.


Cintya nyengir garing, siapa tahu yang ia lakukan itu bisa sedikit meringankan hukumannya. ia merasa tak bersalah. salah kan saja Elvira yang tiba-tiba memperkenalkan diri sebagai calon nyonya di rumah itu. sedangkan Cintya masih segar bugar dan Sehat wal afiat.


"Sini," Dewa mengayunkan tangan memanggil wanita yang sedang menunduk dengan meremat dress nya yang sudah compang camping.


Cintya mendekat dengan wajah ketakutan sesekali ia mendongak menatap Dewa yang memandangnya tajam.


*


*


*


Cintya duduk di kursi meja makan di bawah terik nya matahari di tengah taman. tatapan Dewa yang mengintimidasinya tak memberikan ia kesempatan untuk membela diri. sudah sepuluh menit ia di sana menghadap ke arah barat. matanya silau dan ia mai kehausan.


"Ayo ngaku, kamu apakan Elvira?" pertanyaan yang salah, tentu saja Dewa tahu itu salah. ia sengaja memancing agar Cintya sendiri yang bercerita.


"AC nya sedang di perbaiki nona?"


"Kenapa kau memanggilku Nona, sebentar lagi aku menjadi majikan mu dan biasakan untuk memanggilku Nyo nya!"


Cintya kembali kesal mengingat awal pertengkaran mereka.


"Pak Dewa sudah memiliki istri. dan Beliau tak mungkin menikah lagi."


"Kenapa kau yakin sekali, buktinya aku ada di sini dan lihat aku mengandung anaknya."


"Anda bohong, lucu sekali."


"Hey, aku tidak bohong. lihat saja kami pasti menikah."


Uh, Cintya menggeram karena perkataan wanita itu.


Ingatan Cintya melayang pada kejadian sebelum huru-hara terjadi.


"Di sini panas sekali, aku harus cepat kau buat kan aku minum." Elvira duduk dengan pongah, menyilangkan kaki.


"Anda mau minum apa?" tanya Cintya masih dengan peran pembantu.

__ADS_1


"Apa yang di suka Dewa."


"Katanya kalian akan menikah, kenapa anda tidak tahu kesukaan pak Dewa." Cintya memasang senyum paling menyebalkan


"Eng, aku lu pa."jawab Elvira gugup.


"Bapak sangat suka jus wortel."


"Baiklah, buat kan aku jus wortel."


Cintya hendak pergi, namun Elvira mencegahnya dengan cepat.


"Tunggu, apa benar kau pembantu Dewa?" tanya Elvira dengan wajah tak percaya.


"Apa saya terlalu cantik untuk jadi pembantu?"


Elvira diam menelisik penampilan Cintya dari ujung rambut hingga ujung kaki yang hanya menggunakan sandal bulu.


Satu kata untuk pembantu, Sempurna.


Begitulah ungkapan hati Elvira.


"Apa Dewa tak pernah menggodamu?"


"Saya sangat ingin menggoda pak Dewa namun sayangnya saingan saya terlalu berat, saya tidak sanggup."


Elvira terdiam, ia tahu Dewa sudah menikah, tapi ia tak pernah tahu secantik apa istri Dewa.


Jika pembantunya secantik ini, apa lagi istrinya. hati Elvira mulaii tak tenang.


"Coba lihat," Elvira mengambil tangan Cintya dan melihat cincin pernikahannya. dengan cepat Cintya menyembunyikan di belakang tubuhnya.


"Ini cincin imitasi."


Elvira tersenyum mengejek, lalu ia memperlihatkan cincin berliannya. cincin yang di berikan oleh Antoni padanya.


"Ini Dewa yang memberikan nya sebulan yang lalu."


Oek, Cintya ingin sekali muntah. mulut besar Elvira mengeluarkan aroma fitnah yang sangat busuk.


"Anda tidak tahu saja koleksi perhiasan nyonya Adisti." ujar Cintya bangga, ia benar-benar berperan sebagai pembantu yang setia pada majikannya.


"Benar kah?" tanya Elvira terlihat tidak suka.


"Tentu saja benar, bapak sangat memanjakan istrinya. meskipun tengah malam nyonya bermimpi membeli perhiasan lalu memintanya, bapak pasti langsung menuruti. tak peduli jika ia membangunkan pemilik toko. bapak tak keberatan membayar mahal yang penting nyonya bahagia."


***

__ADS_1


Scroll...


__ADS_2