Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Penyelesaian masalah.


__ADS_3

Happy Reading..


"Aku harap aku yang salah faham di sini. tapi awas saja jika ada hal yang membuat kesalahpahaman ini benar, maka bukan aku yang akan menyesal. tapi kalian yang akan menyesal. akan ku pastikan Elvira menyesal telah menyebut namamu dengan mulut kotornya itu."


Dewa mematung di tempatnya. jujur ia tak mengerti dengan maksud Cintya tentang menyebut namanya. tapi untuk menanyakannya saat ini hanya akan mengundang emosi wanita itu lebih buruk lagi.


Cintya naik ke lantai dua di mana kamarnya berada. secepatnya ia ingin membersihkan diri. ia ingin mengguyur tubuhnya dengan air dingin. otaknya sudah mulai mengebul. emosinya sedang di uji saat ini. tapi untuk menghadapai Dewa yang sekarang semakin menyebalkan, ia harus menumpuk stok sabarnya terlebih dahulu.


Dengan langkah gontai Dewa menyusul Cintya ke lantai atas. terdengar gemericik air dalam kamar mandi. itu artinya Istrinya masih di dalam.


Ada pertanyaan dalam benak Dewa kenapa ia begitu marah. yang pasti itu bukan karena hukumannya. bahkan jus pahit kemarin tak membuat Cintya marah, tapi kali ini kenapa ia bisa semarah itu. pasti ada hal lain yang tak Dewa ketahui.


Bergegas melucuti pakaiannya sendiri, lantas Dewa menyusul Cintya masuk ke dalam kamar mandi. jika ia menunggu Cintya selesai untuk bertanya, pasti istrinya itu akan berkelit. Dewa pikir di dalam kamar mandi, Cintya tak akan mampu mengelak.


Masih di bawah Shower yang mengaliri tubuhnya, Cintya merasakan belitan tangan di pinggangnya. ia sedikit berjangkit saat tangan itu memeluk semakin erat dan mengeksplor setiap inci kulitnya.


"Maaf," Dewa berkata dengan suara berat yang teredam perpotongan leher istrinya.


Cintya bergeming, ia masih membiarkan Dewa dengan segala aktifitasnya.


"Apa hukuman kakak menyakitimu?"


Cintya masih enggan menjawab. justru ia tengah menikmati perlakuan lembut dari Dewa.


"Maafkan kakak sayang, kakak lakuin itu karena kakak tidak mau kamu jadi kasar."


Hanya suara Dewa yang bercampur suara gemericik air yang terdengar, karena Cintya hanya mendengarkan tanpa berniat menjawab. hatinya masih kesal.


"Jawablah, kamu marah?"


Ya marah lah! sekarang aku makin kepanasan.


Batin Cintya mendongkol. Dewa selalu tahu titik kelemahan istrinya. di saat ia ingin marah, Dewa selalu menemukan cara untuk merayunya.


"Kebisuan mu bisa menghentikan nafas ini."


Tak ada lagi yang bersuara di antara mereka. hanya suara air yang mengisi kekosongan di dalam ruang empat kali empat meter itu. mereka berdua sama-sama terhanyut dalam harmoni kebersamaan.


Merasa tak mendapatkan penolakan, Dewa memberanikan diri mengeksplor lebih luas, hingga ia menemukan celah kecil yang menjadi favoritnya. meski merasakan terjepit, Dewa sangat menyukainya. ia memberanikan diri menelusupka satu jari dan mengusapnya dengan pelan dan lembut. hingga lenguhan kecil di antara nafas yang tak beraturan mampir ke telinganya.


"Apa itu sebuah kode sayang?" goda Dewa yang merasa mendapatkan lampu hijau.


Apa me*um itu menular? kenapa aku jadi me*um begini? Cintya mengutuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku lagi marah, minggir sana!" mulutnya berkata ketus tapi matanya terpejam menikmati.


Dasar Cintya,


"Nanti saja di lanjutin marahnya. sekarang kita lanjutin yang ini. di bawah itu lagi sangat marah sayang."


Absurd sekali.


Dewa membalik tubuh Cintya dan mendorongnya hingga punggungnya membentur kaca penyekat kamar mandi. Dewa mengikis jarak di antara mereka, hingga nafas mereka yang memburu saling beradu. dan akhirnya mereka melewati acara pembersihan diri di iringi dengan ritual panas. tak cukup hanya di sana, mereka melanjutkan di dalam kamar, di atas ranjang mereka. dan bersamaan dengan peluh di tubuh mereka berdua sore itu, satu masalah teratasi.


"Jadi kamu marah karena itu?" Dewa membelai lembut punggung Cintya yang tak tertutup oleh selimut.


"Elvira terlalu melambungkan harapan


untuk menjadi ratu di rumah ini."


Benar sekali, Cintya telah menceritakan semua yang Elvira ucapkan padanya. tentang keinginannya untuk menikah dengan Dewa.


"Kamu harus percaya tak akan ada hal seperti itu sayang?"


"Aku tidak tahu, mungkin saja kakak akan kasihan dengan keadaannya, atau ia menuntut rasa terima kasih kakak untuk menggantikan Antoni."


"Pernikahan seperti itu tak mudah sayang, ada hal-hal mendetail yang harus di perhatikan."


"Seperti apa contohnya?" Cintya memandang lurus ke dalam tatapan Dewa yang juga sedang menatapnya.


"Benarkah?"


"Penjara tak begitu menakutkan. karena kehilangan cinta dan dan kepercayaan mu lebih buruk dari itu semua. siksaan mereka dalam penjara tak akan lebih menyakitkan daripada kebencian mu. kehilangan mu dan jauh dari mu, dari kalian akan membunuh kakak perlahan. jangan lakukan apapun yang membahayakan mu, karena jika kau sakit, kakak akan merasa lebih sakit."


Dewa mengusap bekas cakaran Elvira dan memar yang ada di leher dan bahu Cintya dengan ibu jarinya. menatap nanar pada gurat merah tampak kontras dengan kulit Cintya yang seputih susu.


"Apakah terasa sakit?"


"Sedikit." tapi bibirnya meringis.


"Manja." ejek Dewa.


Cintya cemberut. "tapi kan ini memang sakit, meski tak sesakit hatiku." ujarnya sewot.


"Lagian mana ada cerita siluman singa kena cakar."


"Namanya juga berkelahi, pasti ada dong jejaknya. kalo dak ada ya gak seru sih. lagian ini mah kecil. besok di bawa salon di laser juga ilang bekasnya."

__ADS_1


"Pake duit kakak?"


"Ya iyalah, yang bikin gara-gara siapa?"


"Loh, kalian kan yang berkelahi. gak ada tuh kakak nyuruh kamu menyelesaikan masalah dengan kekerasan."


"Kakak juga kan tadi, keras banget."


Eh,,,


Dewa spontan menoleh. bukannya tadi dia juga menjerit keni*matan.


"Lagian dia duluan yang mulai siram aku pakai air. ya aku balas dong. masak aku diam aja gitu, kayak orang lemah"


"Iya kamu kan jagoan."


"Gak ada yang boleh sentuh milik aku."


"Cie.. yang udah takut kehilangan."


"Gak usah kepedean deh, aku cuma gak mau berbagi harta nanti."


Dewa mencelos, sangat luar biasa sekali istrinya itu.


"Terus dengan kalian berkelahi, masalah ini selesai? gitu?"


"Paling gak dia gak menganggap mudah jalannya un_ ih jangan sentuh, perih ini." Cintya menepuk tangan Dewa nyang menyentuh lukanya sedikit menekannya.


"Besok bisa tuh ke korea buat jahit ini," mulut jahil Dewa benar-benar sangat ahli untuk merusak momen. padahal saat itu Cintya sedang ingin bermanja.


"Emang baju bolong di jahit, ini tuh kulit. ya harus oplas kan?"


"Plastik di dapur banyak kan, bekas tepung yang berantakan itu, kamu bisa tempel sendiri sama Fira nanti."


Cintya mendelik, apa tadi pria itu bilang, di tempel pakai plastik? oh Ya Tuhan, dasar Pria.


"Emang aku ember bocor apa!" Cintya membentak kesal.


"Bukannya tadi udah bocor ya? berapa kali tadi?"


"Kakaaaaak!"


Wajah Cintya semerah tomat karena ucapan Dewa yang sangat Vulgar. sedangkan sang pelaku sudah terbahak-bahak karena Cintya yang memukulnya bertubi-tubi dengan bantal.

__ADS_1


***


Jejak,,,


__ADS_2