
Happy Reading...
Bugh!
Aww ...
Terdengar suara ringisan Seorang gadis yang Membentur dada bidangnya.
Terus tak bereaksi apapun kecuali memandang tajam pada gadis di depannya.
"Apa kau tidak bisa berhati-hati sedikit saja Nona?" Josh memandang marah "Kau tahu jika yang baru saja kau lakukan itu bisa membahayakan dirimu dan juga merugikan orang lain." gadis di depan Josh hanya terpaku mendapati dirinya di marahi orang asing. "dan ini, apa ini?" josh menunjuk ice cream yang di pegang oleh gadis itu dan gadis itu pun melihat ke arah Josh dan ice cream di tangannya bergantian. "Siapa yang mengizinkanmu membawa ice cream masuk kesini. kau bisa saja mengotori semua pakaian yang ada di sini dan perbuatan mu tadi bisa membuat botol-botol parfum ini berhamburan lalu pecah dan melukai orang lain." Cerca Josh bertubi-tubi pada gadis yang melongo di hadapannya.
Beberapa menit yang lalu saat Josh berdiri di sebelah rak kaca, tempat display parfum khusus pria dan memindai seluruh isi ruangan tersebut, secara tak sengaja pandangannya menabrak pada seorang gadis yang berjalan ceria dengan es krim di tangannya. sesekali gadis itu menatap keatas rak dan etalase toko seperti ada yang sedang di carinya. sesekali pula ia berjalan mundur dengan mengedarkan pandangannya. dan saat ia sangat dekat dengan rak kaca di sebelah Josh, gadis itu memutar. dengan gerakan cepat Josh menggambil langkah ke samping, jika tidak gadis itu akan membentur rak kaca itu dengan keras. dan bisa di pastikan kening gadis itu akan terluka lalu isi rak akan berjatuhan dan pecah.
Setelah memarahi gadis yang tak Josh ketahui namanya itu, Josh beralih melihat ke outfit yang sedang di pakainya. lalu kembali memusatkan pandangan pada gadis bermata bulat di hadapannya itu dengan pandangan melotot marah.
"Lihat ini?" Josh menunjuk tumpahan es krim di pakaiannya lalu kembali menatap marah pada gadis yang sedang memasang muka tak berdosa-nya. justru dengan santainya ia menikmati sisa es krim di tangannya sambil membalas tatapan Josh tanpa rasa bersalah dan cuek. tentu daja itu berhasil memompa darah Josh naik ke ubun-ubun.
"Apa maksudnya melihat seperti itu." sepertinya Josh masih memiliki kalimat cadangan untuk marah-marahnya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Jacinta tak tinggal diam. ia bereaksi dengan senyum tipis penuh rencana.
Jacinta maju selangkah lebih dekat di hadapan pria yang menatap marah padanya. menyadari gadis di depannya itu tak takut padanya justru bereaksi menantang, justru Josh yang sedang ketakutan sekarang. ia mundur selangkah dengan tatapan bingung.
"Mau apa;" bentak Josh sok galak. padahal sekarang ia yang malah di buat keki oleh gadis yang sepertinya berusia lebih dari setengah usianya itu.
Jacinta tersenyum jahat, lalu dengan santainya ia menjatuhkan cone di tangannya dan_.
Huaaaa....
Jacinta menangis histeris mengundang perhatian penghuni distro yang kebanyakan laki-laki.
"Kenapa malah nangis?" Josh bermonolog sekaligus bertanya.
__ADS_1
Huaaaaa....
Alih-alih menjawab, Jacinta semakin mengeraskan suaranya. dan itu berhasil menarik atensi para pengunjung Distro.
Semakin bingung saja Josh di buatnya.
"Diam kamu," Josh kebingungan sendiri. tak enak sekali sekarang ia yang malah jadi pusat perhatian.
Jacinta tersenyum jahat dalam hati. enak saja ia di marah-marahi di tempat umum oleh orang asing. memangnya siapa sih orang itu? memang sih ia bersalah jika ia sampai menabrak display parfum itu, tapi kan tak sampai kejadian. kenapa juga reaksi pria itu sangat_ ah seperti itu pokoknya.
Begitulah kira-kira yang di rasa kan Jacinta dalam hati. sebelum ia berpikir untuk membalas perbuatan lelaki asing di depannya. sudah telanjur malu sekalian membawa orang lain dalam rasa malunya.
"Huaaa... kenapa kau jahat sekali paman." Jacinta berkata di sela tangisannya.
"Aku kan gak sengaja menumpahkan es krim itu, hiks.. hiks.."
Akting yang bagus Jacinta. ayo lanjut kan.
"Lagi pula, pakaianmu gak akan rusak hanya karena es krim," Jacinta berusaha menyempurnakan kalimatnya di tengah isakan-nya. wajahnya masih penuh air mata.
"Padahal ibuku sudah sangat baik mengadopsi anak panti seperti mu menjadi adik angkatnya."
Josh melotot bingung dan juga marah. apa maksudnya dengan anak panti yang di angkat jadi adik oleh ibunya. bener-bener cari perkara gadis kecil ini. awas saja nanti.
Sedangkan para pengunjung yang sejak tadi menyaksikan keributan kecil itu memberikan reaksi berbeda. ada yang tertawa geli, ada yang tersenyum sambil menggelengkan kepala dan ada juga yang memandang tak suka pada Josh seolah yang di katakan oleh gadis itu adalah benar.
"Biar nanti aku adukan sama ibu, biar di kembalian ke panti asuhan saja paman jahat sepertimu . aku tak suka."
Semoga itu dialog terakhir dalam akting gadis itu.
"Apa maksudmu berkata seperti itu?"
Jacinta hanya terdiam tak berniat me jawab. memang nya ia akan menjawab apa. itu kan hanya akting saja.
__ADS_1
"Anita!" tak pendapat jawaban atas pertanyaannya Josh pun memanggil manajer distro itu untuk mengatasi masalah itu. "Bereskan!" titah Josh pada Anita.
"Baik!" Manager distro itu menunduk hormat.
"Urusan kita akan sangat panjang setelah ini."
Josh menggerutu panjang pendek masuk ke dalam sebuah ruangan yang sepertinya ruang pribadi. meninggal kan Jacinta yang sedang menunduk menyembunyikan senyum.
"Jadi dia paman anda Nona,?" tanya Anita.
"Bukan, dia calon suamiku." Jawab Jacinta sembarangan. membuat Anita tersenyum.
"Silahkan lanjut kan belanja nya, dan mohon maaf atas ke tidak nyamanan ini." Anita berucap di depan para pengunjung yang masih berdiri menyaksikan kejadian tak terduga dan lucu itu.
"Dan anda Nona, secara khusus mendapat diskon tiga puluh persen dari pemilik distro ini."
Jacinta menganga tak percaya, bukankah tadi ia sudah membuat masalah. tapi kenapa ia sekarang mendapatkan diskon.
"Siapa pemiliknya?" tanya Jacinta penasaran.
"Paman anda."
"Hah! Jadi yang tadi adalah pemiliknya?" Anita mengangguk. "tampan sekali." Segera Jacinta mengenyahkan kekagumannya. "tapi tadi aku sudah berbuat salah. ah ini pasti jebakan. diskon itu pasti bohong" perasaan Jacinta mulai tak enak. "Sebaiknya aku kabur saja."
"Tak perlu nona, bilang saja aku berterima kasih atas tawaran diskonnya."
Jacinta berjalan cepat keluar dari Distro membuat seseorang yang sedang melihat ke dalam layar monitor tertawa keras.
"Lucu sekali, tapi kok... mirip."
***
jangan bingung dulu apalagi bilang tak terarah.
__ADS_1