
"Kakaaaak!"
Terdengar suara jeritan disertai suara benturan, setelah itu keadaan menjadi senyap. lalu terdengar suara deru mobil yang bergerak menjauh dengan sangat kencang.
"Cinta..."
Dua tubuh pasangan suami istri itu tergolek dengan jarak yang tak begitu jauh. Mereka berdua sama-sama pingsan.
***
Dua brankar yang membawa dua pasien dalam keadaan darurat itu menerobos orang-orang yang berjalan di koridor rumah sakit.
Brankar yang membawa tubuh Dewa berada di belakang Brankar Cintya yang melesat karena wanita hamil itu tampak mengeluarkan banyak darah di antar kedua kakinya. sedangkan Dewa sendiri sudah tidak sadarkan diri sejak orang-orang mengerumuni mereka dan memanggil ambulan.
"Cepat-cepat pasien mengalami pendarahan hebat." Dokter Puspita yang adalah dokter yang menangani kehamilan dan kelahiran anak kembar Dewa dan Cintya tampak cemas.
"Dokter, detak jantung janinnya tak terdengar." ujar seorang suster.
"Tidak.. tidak.. tidak.. ayo bertahanlah jagoan." tutur dokter Puspita setengah Frustasi.
"Dokter.." Seorang suster berkata dengan nada yang penuh penyesalan.
Dokter Puspita menggeleng putus asa. "tidak mungkin,,, ini tidak mungkin. nyonya,, nyonya cinta bertahan demi apapun tolong bertahan. pertahankan dia nyonya."
Dengan terus memberikan semangat dokter Puspita menjalankan tugasnya dengan sangat cekatan. "Siapkan operasi segera."
***
Ruangan bernuansa putih itu di liputi aura kesedihan. bagaimana mereka tidak bersedih karena saat ini Cintya justru terbaring koma dan putranya meninggal dunia.
__ADS_1
Dewa tampak begitu terpukul. ia tak mempedulikan keadaan dirinya yang saat ini juga terluka parah. ia harus menggunakan kursi roda karena mengalami cedera punggung dan juga patah tulang kaki.
Sudah satu bulan Cintya tak sadarkan diri, tapi dokter menyatakan bahwa semuanya dalam keadaan baik. dan entah mengapa Cintya masih betah tertidur.
"Sayang, apa kau tak merindukan twins?"
Setiap hari Dewa tak pernah bosan mengajak Cintya untuk bicara. ia sangat berharap Cintya lelah tertidur dan segera membuka mata
"Apa kau tak ingin mendengar ia memanggil mu Mami?"
Dewa berusaha untuk kuat, meski ia harua berkali-kali mengusap air matanya.
"Bangun dong dek, apa kamu tega membiarkan kakak sendirian merawat tiga anak kita."
Mendengar Dewa menyebut anak-anak Jari Cintya bergerak halus. ia merespon ucapan Dewa di bawah alam bawah sadarnya.
"Akky, Azza dan Rama. mereka sangat membutuhkan Maminya." Dewa terus saja mengoceh hingga tak sadar jika saat itu Cintya telah membuka kedua matanya.
Cintya tersenyum penuh haru. ia tahu jika dewa sangat merindukannya karena ia juga sangat merindukan suaminya. dan ia ingin segera terbangun lalu memeluk tubuh suaminya. tapi ia tak kuasa melakukannya karena masih sangat lemah.
"Dan yang paling menderita dari semuanya ini adalah dia." Cintya sangat tahu siapa yang Dewa maksud dengan Dia, siapa lagi jika bukan kebanggaannya yaitu keperkasaannya.
"Dia sangat rindu untuk memasuki mu." Cintya memudarkan senyum seketika. bagaimana mungkin suaminya itu berkata tentang hal seperti itu sedangkan ia masih dalam keadaan koma.
"Dasar buaya cap cicak." Gumam Cintya yang sama sekali tak sampai di telinga Dewa.
Ingin sekali Cintya terbangun lalu menggigit telinga suaminya. ia sangat kesal karena Dewa sama sekali tak melihat kearahnya nya padahal ia sudah ingin bangun dari tempat tidur. Dewa nasih saja sibuk meratapi dirinya.
"Apa kakak di takdir kan menjadi Duda sekarang?"
__ADS_1
Makin ngawur saja ucapan Dewa. Cintya sudah tidak sabar, ia ingin segera terbangun dan membuat perhitungan dengan suami sablengnya.
"Kakak masih sangat mencintaimu Cintya Adisty." setelah di buat sangat kesal, dengan tiba-tiba Dewa melambungkan Cintya dengan ucapannya. Cintya sampai tersipu dengan wajah yang memerah. ia seperti kembali menjadi seorang gadis belia.
"Tapi bagaimana, dia juga harus mendapatkan kesejahteraan, kakak tak tahan jika harus menahannya terlalu lama."
Cintya memutar bola mata malas, suaminya itu betul-betul keterlaluan.
"Mungkin kamu membutuhkan waktu lebih banyak untuk istirahat, jadi kakak pikir akan mencari seseorang untuk merawat Twins dan juga menemani kakak." Dewa mengatakan itu dengan ringan tanpa beban. sedangkan Cintya sudah mengeratkan rahang. apa-apaan suaminya itu berniat mencari ibu pengganti untuk menggantikan tugasnya.
"Jangan bermimpi Dewa Herlambang!'"
"Kakak harus mulai memikirkan untuk mencari istri mulai sekarang, dan segera menikahinya." Dewa semakin menjadi-jadi, dan Cintya juga semakin ingin segera memiliki kekuatan super untuk bangun dan menghajar suaminya.
"Malam ini kakak akan melamar seseorang dan_"
Bugh..Bugh..Bugh..
Beberapa tabokan mampir di bahu pria yang masih menggunakan penyangga di lehernya itu
Entah kekuatan dari mana yang Cintya dapatkan karena saat ini ia sudah terduduk dan memberikan pukulan bertubi-tubi di tubuh suaminya.
"Dasar buaya, istrinya koma malah mau kawin lagi."
Dewa hanya menahan pukulan Cintya dengan ringisan dan senyum bahagia. sejak tadi ia ternyata menyadari jika Cintya sudah tersadar. dan Dewa sengaja melakukan itu untuk mengekspresikan kebahagiaannya. ia ingin menyambut Cintya dengan candaan yang biasa ia lakukan.
"Welcome back my dear."
***
__ADS_1
Hay pemirsaaahhhh... eh,,, salah ya..
Hay... pembaca setia aku, aku datang demi kalian,, masih betah dengan kesablengan mereka kaaan.. yuuk lanjut di cerita terbaru yg semoga bisa rilis bulan depan. hadir yaaa,,, di tunggu looh..