
Happy Reading...
"Sudah gue peringatin, lupakan dia dan lanjut kan hidup lo."
Josh tersenyum getir. ingin sekali ia menuruti saran dari Leo. tapi perasaannya lebih kuat dari keinginannya. ia merasa mengkhianati dirinya sendiri jika melakukan itu mengkhianati perasaannya selama 8 tahun. ia masih belum rela untuk melakukan itu. ada keinginan untuk meraih semuanya meraih tujuan dari kepulangannya.
"Kak!"
Josh menoleh cepat, ia sangat berharap panggilan itu di tujukan untuknya. tapi sayang, itu tak akan pernah terjadi.
"Memang sulit melepas kan orang yang kita cintai begitu saja, tapi akan lebih sulit jika memaksanya untuk melihat kita." Leo mengikuti arah pandang Josh yang menyaksikan bagaimana Cintya tertawa ceria dan berlarian mengejar ombak.
"Gue butuh waktu." jawab Josh pelan. ia seperti kehabisan nafas saat melihat interaksi Dewa dan Cintya.
"Lo akan semakin sakit jika bertahan di sini." Leo menasehati. bagaimanapun ia tak bisa menyalahkan perasaan Josh. karena ia tahu bagaimana Josh menyukai Cintya sejak lama.
Josh tersenyum sinis men-tertawai dirinya. "Gue benar-benar gila rasanya. berkali-kali gue mencoba membuang perasaan ini. dan berkali-kali gue gagal."
"Usaha lebih keras lagi, gue tau lo mampu." Leo menepuk pundak Josh lalu beranjak pergi.
"Berusaha lebih keras lagi, heh!" Josh tertawa miris. "untuk apa? untuk melupakannya atau merebutnya." tanya-nya pada diri sendiri.
Untuk sejenak ia hanya melihat Cintya yang bersenang-senang di tepi pantai. hatinya gerimis, andai saja ia berada di posisi Dewa, ia pasti juga akan merasa sebahagia Dewa.
Lalu Josh merogoh kantongnya dan mengambil ponselnya. pria itu tampak serius berbicara pada seseorang di seberang telpon. terkadang ia terlihat mengangguk lalu tersenyum. seperti ekspresi orang yang sedang puas melihat hasil kerja anak buahnya.
"Bagus, lanjut kan. aku mau semua berjalan sesuai rencana." ucap Josh sebelum mengakhiri panggilannya.
***
Di pantai, Cintya sedang membuat istana pasir bersama Dewa di samping nya.
"Kak, apa kakek tak memiliki pulau pribadi?" tanya Cintya pada Dewa. tangannya lincah membuat tembok istana dengan pasir yang Dewa kumpulkan.
"Enggak kenapa?" Jawab Dewa singkat.
"Kenapa tidak membeli, apa uang kakek tidak cukup?"
__ADS_1
"Bukan begitu Cinta,"
"Lalu kenapa?"
" Untuk apa membeli pulau jika kita memiliki satu rumah saja jarang berkumpul bersama."
"Bukankah itu merupakan aset."
"Kakek Lebih menyukai menyimpannya dalam bentuk lain." Cintya mengangguk mengerti atas penjelasan Dewa.
Di tengah keasyikannya membuat tanah pasir, Leo datang bersama Lilian. di ikuti Josh.
"Kalian seperti ini, gak kangen sama Twins?"
"Twins aman, sama ibu." jawab Cintya cuek. ia tahu jika leo hanya dingin mengganggunya saja.
"Seharusnya kalian ajak mereka kemari."
"Mana ada honey moon rombongan, ngarang deh."
"Kak, aku gak liat Delon deh?" Cintya bertanya pada Dewa. tentu saja itu hanya untuk membalas Leo.
"Delon gak bisa ikut, dia kan harus sekolah."
"Twins juga masih bayi," tutur Cintya tak ingin kalah.
Dua orang kakak beradik itu masih bertengkar. tapi Dewa justru pergi menjauh. sudah lima hari mereka berada di pulau pribadi milik keluarga Josh. dan Dewa menyerah kan srmua pekerjaan pada Papa Rendra dan Alex.
"Ya kenapa lex?" ternyata Dewa sedang menjawab telpon dari Alex yang setiap hari memberinya laporan.
Tapi kali ini, wajah Dewa tampak serius. wajahnya sampai memerah terlihat marah.
"Bagaimana bisa Lex?" tanya Dewa menahan Geraman nya.
"Entahlah, sepertinya ada yang masuk ke kantor lo semalem."
"Apa sudah ada titik terang siapa pelakunya?"
__ADS_1
"Sepertinya orang dalam."
"Apa lo ada curiga sama seseorang?"
"Gue belum ada pandangan."
"Coba lu lihat CCTV"
"Semua sistem dimatikan sepertinya pelakunya adalah benar-benar orang dalam yang mengetahui seluk beluk kantor lo."
Dewa menggeram frustasi. Proyek itu adalah proyek yang sangat penting yang ingin ia hadiahkan kan untuk kedua anaknya saat ulang tahun pertama mereka. jika dulu ia gagal memberikan di waktu yang tepat, karena kelahiran mereka yang terlalu cepat. tapi kali ini ia ingin memberikannya tepat waktu.
"OK gue kembali secepatnya."
"Bisa nggak lo kembali sekarang aja?"
"Gue usahain." Dewa memutus panggilan terlebih dahulu.
Dengan langkah cepat ia kembali mendekati Cintya. "Sayang, kalau kita kembali sekarang, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Dewa hati-hati. untung saja hormon kehamilan kali ini lebih bersahabat. jika seperti itu, mungkin saat ini si bu hamil itu sudah mengamuk.
"Kenapa kak? jangan bilang kakak terpengaruh dengan ucapan kak Leo."
"Bu_bukan seperti itu, tadi_"
"Padahal aku masih mau di sini!" Cintya pasang muka sedih, sengaja untuk membuat Dewa merasa bersalah.
"Sayang, tadi Alex telpon ada masalah di perusahaan." Dewa menjelaskan petlahan.berusaha membuat Cintya mengerti.
"Baiklah, kita pulang." Cintya sedikit cemberut.
"Kalau kamu masih mau di sini, gak pa pa. kakak balik duluan."
Dewa melirik ke arah Leo meminta persetujuan yang di tanggapi dengan anggukan kepala.
Josh menarik sudut bibirnya pembentuk sebuah senyuman. ia sungguh merasa di untungkan dengan keberadaan Cintya tanpa Dewa.
***
__ADS_1