Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Rencana penuh siasat.


__ADS_3

Part sebelumnya sudah di Revisi, jika tidak keberatan boleh di baca ulang.


Happy Reading...


"Om Jin, I love you!" tutur Cintya setelah ciumannya berakhir.


"I Love you more, baby." Dewa memeluk Cintya untuk meyakinkan jika dia adalah Dewa. dan pagi itu mereka lalui dengan memanggang tubuh di atas ranjang.


***


Setelah perburuan kenikmatan di pagi hari itu, Dewa masih berada di atas tempat tidur memainkan ponselnya. sementara Cintya membersihkan diri. dan beberapa menit kemudian wanita yang semakin terlihat cantik itu keluar dengan rambut yang masih basah dan hanya mengenakan bathrobe.


Dewa menarik pelan tangan wanita itu hingga membuatnya terduduk di pangkuannya lagi.


"Jangan kabur-kaburan lagi, kakak gak suka. apalagi membawa twins."


Cintya mencebik, "Apa cuma Twins yang di khawatirkan, aku tidak gitu?"


"Ini apa, gak usah di monyong-monyongin gitu. mau goda siapa coba?" Dewa mencubit gemas bibir yang mengerucut itu.


"Mau goda Om Jin." jawabnya asal.


"Om Jin udah tergoda ini," tanya Dewa menatap Cintya penuh minat. dan tangannya perlahan merayap masuk ke dalam belahan jubah mandi. dan secara naluriah bermain-main di daerah sedikit lembab itu.


"Tangannya tolong di kondisi kan" cegahnya dengan merapatkan kaki.


"Duduknya tolong di kondisi kan." Dewa menahan pinggang Cintya yang terus bergerak di atas pangkuannya.


Cintya tersenyum merasa menang, karena merasakan sesuatu yang keras di bawahnya.


"Sudah ah, aku mau lihat anak-anak." Cintya berlalu tanpa dosa meninggalkan Dewa dengan rasa tak nyaman di bagian bawah tubuhnya.


"Tanggung jawab dulu cinta," Dewa setengah berteriak.


"Om jin masuk lagi aja ke dalam botol." Jawab Cintya samar terhalang pintu.


Dewa mengeram, lalu pergi ke kamar mandi dengan menahan kepalanya yang pening.


***


Angin laut berhembus pelan. melambaikan surai-surai yang tak terikat oleh ikat rambut Cintya. sepasang suami istri itu berjalan dengan bergandengan tangan menyusuri pantai berpasir putih itu dengan sesekali bercanda.


"Seberapa pun besarnya rasa kesal kamu, tolong jangan pernah pergi, kakak bisa gila." Dewa menyelipkan rambut Cintya yang menghalangi pandangannya.

__ADS_1


"Aku tak akan pergi jika Elvira tak mengganggu kita." jawab Cintya tanpa melihat Dewa.


"Hanya sebentar Cinta." jemari Dewa dengan lembut mengelus pipi Cintya.


Angin pantai masih menemani ke bersamaan mereka. hari semakin terik membakar. dan pasir yang tak terjangkau air laut semakin menggigit kulit.


"Kandungan Elvira masih lima bulan, apa aku harus menunggu empat bulan lagi?"


Kini pandangan Cintya terarah ke wajah Dewa. Mereka berdiri berhadapan, membiarkan angin menerpa tubuh mereka yang madih berjarak.


"Sayang, apa maksudmu?"


"Apa aku harus membiarkan Elvira mendapatkan perhatianmu, sementara kami harus menunggu sepekan demi sehari bersamamu?"


Dewa tersenyum lembut. kedua tangannya melingkar di pinggang Cintya yang terbuka. karena saat ini wanita itu hanya mengenakan kaos pendek sebatas atas pinggang dan celana yang tak bisa di katakana celana karena terlalu pendek di bawah pantat.


"Setelah ini hanya ada akan ada dua belas jam selama lima hari dalam sepekan, karena sisanya seluruh waktu hanya untuk kalian."


Dewa merapatkan tubuhnya dan menuntun lengan Cintya untuk melingkar di leher kokohnya lalu mendarat kan satu kecupan lembut di bibir ranum istrinya.


"Lalu bagaimana dengan Elvira, dengan janji kakak pada Antoni." tanya Cintya penuh maksud.


"Janji tetaplah janji, tapi Elvira bukan tanggung jawab kakak lagi."


"Anak dalam kandungan Elvira bukan anak Antoni. dan pesan terakhir Antoni bukan menjaga Elvira. melainkan adiknya."


Cintya tersenyum manis. "aku sudah tahu itu."


"A_apa?" tanya Dewa terkejut.


"Ayah bayi itu aku juga tahu?" Cintya dengan pandangan seolah menuduh.


Dewa menggeleng kuat, menyanggah ucapan Cintya. "Bu_bukan kakak Cinta."


"Aku tahu?" jawab Cintya santai sambil mengulum senyum.


"Apa?"


"Alvaro, ayah bayi itu."


"Alvaro siapa?" Tanya Dewa dengan raut wajah keinginan tahuan.


"Pria yang ku temui di rumah sakit."

__ADS_1


"Jadi?" Dewa mengerutkan dari, menatap menuntut penjelasan.


"Ya, kami sudah bicara."


"Lalu kenapa pergi?"


"Hanya cari perhatian." jawab Cintya tanpa dosa lalu memasang wajah imut agar tak kena marah.


"Bagus dan kamu berhasil membuat kami semua hampir gila dan kakak hampir kehilangan jabatan."


"Maksudnya?" giliran Cintya yang bertanya.


"Eyang akan menarik semua fasilitas jika kakak tak membawa kalian kembali dalam dua hari."


"Pfft" Cintya tertawa tertahan. "Tau gini aku tak akan pulang dulu."


"Semua itu tak begitu menakutkan di bandingkan kehilangan kalian."


"Jadi apa kami akan di pertahankan?"


Mereka masih saling bertukar tatapan.


"Apa masih perlu mempertanyakan hal itu?"


"Aku tidak bertanya, tapi mencari pembenaran."


"Tak perlu lakukan itu, karena yang akan terjadi sekarang adalah keinginan kalian."


"Aku mau Elvira pergi."


"Sure."


"Biar aku yang lakukan"


"Tidak dengan saling menyakiti."


"Sure!"


Cintya tersenyum jahat di balik punggung Dewa saat pria itu memeluknya. rencana penuh siasat sudah tertata rapi dalam otaknya. Cintya hanya sedang menunggu waktu yang tepat.


Sedangkan Dewa sendiri tak ingin di pusingkan lagi dengan masalah Elvira. tak peduli apapun yang ingin Cintya lakukan, karena baginya cukup dengan kembalinya Cintya ke rumah.


***

__ADS_1


__ADS_2