Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Obrolan santai.


__ADS_3

Dewa meremas rambutnya frustasi. jika Cintya sampai mengabaikan larangannya, itu artinya wanita itu sedang sangat marah. dan Dewa harus secepatnya menyiapkan amunisi menghadapi kemarahan siluman singa betina.


***


Mobil Dewa melesat cepat, berpacu dengan waktu. ia sangat tahu bagaimana gilanya Cintya jika sedang berada di atas kuda besi. tenaganya sama sekali tak sebanding dengan tubuhnya yang mungil. terbukti dari kekalahannya di atas sikuit lebih dari satu tahun yang lalu.


Tapi sekarang keadaannya berbeda, Cintya berada di jalan raya yang sedang padat-padatnya. berbeda dengan sirkuit ya g hanya di kuasai oleh para pembalap. caranya berkendara bisa saja membahayakan orang lain, ataupun dirinya.


Hari semakin terik, jalanan semakin padat dengan aktifitas jam makan siang dan juga para pelajar yang mungkin sudah waktunya pulang dari sekolah. namun rupanya itu tak membuat Cintya mengurangi kecepatan motornya. itu semakin membuat Dewa marah dan cemas. marah karena Cintya tak mempedulikan perintahnya dan juga karena juga tak memikirkan keselamatannya. terlebih dia sendiri yang memicu kemarahan itu. dan kecemasan semakin menjadi saat ia melihat Alex yang berdiri seperti orang orang terbuang di pinggir jalan.


Mobil Dewa terhenti tepat di depan Alex.


"Lo ngapain di sini!" umpat Dewa di depan Alex. namun sayang sang asisten yang masih memperhatikan punggung Cintya yang semakin menjauh itu tak langsung menjawab. dan tentu saja itu berhasil membuat Dewa ingin menjambak rambut Alex.


"Lex!" hardik Dewa sambil mendorong bahu Alex.


"Apa!" jawabnya tanpa menoleh.


"Lo ngapain di sini!" tanya Dewa dengan nada tinggi. menatap kesal pada sahabat sekaligus asistennya yang sedang menatap takjub pada istrinya.


"Woaah! Dia keren, gue suka!"


Bukannya menjawab dengan benar, Alex malah menunjukkan kekagumannya pada wanita tangguh yang membuangnya di pinggir jalan.


Dewa semakin ingin mengacak-acak Alex yang begitu mengagumi istrinya. ternyata efek kehamilan Sherryl lebih membahayakan dari pada Cintya dulu.


"Bini gue emang keren, ngapain lo di sini?"


Seperti tersadar Alex menoleh. mendapati Dewa yang sedang menatap tajam penuh murka padanya.


"Lo tanya gue?" tunjuk Alex pada dadanya.


"Gak, gue tanya sama gembel yang motornya di bawa kabur!" Dewa ingin sekali menghajar Alex saat itu juga. "gue tanya ngapain lo di sini?"


"Menurut lo gue mau apa panas-panasan di sini kalo bukan istri lo yang minim akhlak itu gak buang gue di sini."


Sepertinya Alex baru menyadari jika dirinya berada di kawasan anak jalanan sedang mengamen.


Bayangkan seorang pria tampan berwajah bule dengan kostum pembalap berada di tengah jalan sambil menenteng helm. jika dia tak mirip ojol yang kehilangan motornya lalu apa lagi yang pantas untuk di bandingkan dengan nya.


Pembalap yang kalah dan menjadikan motornya untuk bertaruh? pikirkan apa saja yang penting tidak terlalu buruk untuk Alex.


"Lo bego apa banci kalah sama perempuan!"


Itu pertanyaan apa pernyataan tapi itu terdengar seperti sebuah tudingan untuk Alex.


"Bini lo ngamuk, gue cuma cari aman." Alasan yang masuk akal. tentu saja ia takut dengan cara Cintya yang membawa motornya ugal-ugalan.


"Masuk!" Dewa mendahului Alex yang berjalan lambat.


"Cepetan Lex!" Dewa gusar sekali. apalagi Alex yang tampak ogah-ogahan masuk ke dalam mobilnya.


"Iya bawel!"

__ADS_1


Alex menjatuhkan bokongnya dengan kasar di atas jok mobil Dwwa sebagai bentuk protesnya. sebenarnya ia sangat malas mengikuti drama keluarga dari bos nya itu. tapi lantaran ngidam aneh yang di alaminya itu membuat Alex tak berdaya.


Di depan sana, Dewa sudah tak menemukan Cintya. ia sudah kehilangan jejak saat berhenti tadi.


"Lo tau kemana perginya Cinta?"


Dewa kembali melajukan mobilnya sangat kencang. ia menyayangkan tak membawa mobil sportnya saat ini. dan kalaupun itu ia lakukan, tentu saja itu tak akan banyak membantu. karena kecepatan Bugatti La Voitu Noire miliknya tak akan berguna di atas jalanan negara dengan langganan macet seperti Indonesia.


"Lo gak akan bisa bayangin." jawab Alex dengan wajah sedikit di buat menyesal.


"Gak usah bertele-tele. cepetan bilang!" tutur Dewa yang kehilangan setengah kesabarannya. entah kenapa asisten yang biasa tegas itu mendadak menjadi sangat lamban di saat seperti ini.


"Ke rumah Lucia."


Ciiit!


Dewa menginjak rem tiba-tiba. membuat tubuh Alex terjorok ke depan. hampir saja dahinya mencium dasboard jika saja tak ada sealbelt yang melindunginya.


"Bisa bawa mobil gak lo!" bentak Alex saking terkejutnya.


"Lucia siapa?"


Dewa sedikit khawatir dengan nama yang Alex sebutkan. pasalanya nama Lucia memiliki kesan yang luar biasa buat Dewa. mengerikan dan menggelikan.


"Lo kenal berapa Lucia?"


Dewa menelan ludah. jika Lucia itu yang Alex maksud tentu akan ada hal luar biasa yang akan di lakukan istrinya itu.


Klakson mobil di belakang membuat Dewa gelagapan sendiri. dengan tergesa ia kembali mengemudikan mobilnya. tak kalah cepat dari sebelumnya.


"Kita ambil jalan lain," Alex memberikan ide sambil menunjuk jalan lain yang tak seramai yang merela lewati saat ini.


"Lo yakin?" tanya Dewa ragu.


"Iya gue sering lewat sini kalo nganter Cherry dulu!"


Karena tak tahu tentang jalan itu, Dewa hanya mampu menurut. jika biasanya Pria itu menggunakan jalan utama yang jelas lebih luas karena takut mobilnya yang kotor atau lecet, tapi saat ini pengecualian. jalan tikus bukanlah ide yang buruk. dan benar saja setelah berbelok-belok dengan jalanan berlubang untuk beberapa lama, akhirnya Dewa berhadapan kembali dengan hiruk pikuknya jalan raya yang ia tahu jalan menuju kantornya.


"Noh lihat noh!"


Alex menunjuk satu orang yang dengan santainya duduk di sebuah kedai kecil berpayung tenda.


Dewa tersenyum lega karena ternyata istrinya itu sedang menikmati Seblak super pedas level iblis. semua ke khawatirannya tak terbukti. ia pikir istrinya akan melakukan kebut-kebutan sepanjang jalan. tapi nyatanya ia sedang menikmati makanan kesukaannya.


"Bini gue," Dewa terkekeh sendiri.


"Ngapain ketawa?" tanya Alex dengan senyum meremehkan.


"Bini gue meski sedang marah gak kehilangan nafsu makannya" tutur Dewa. ia menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil. melihat pemandangan indah di seberang jalan.


"Istri lo tuh aneh, anak sultan istri sultan makan pinggir jalan."


"Itulah istimewanya dia, apa adanya."

__ADS_1


"Ck, dasar bucin lo!"


"Kayak lo enggak aja!" ejek Dewa balik.


"Kita udah kalah sama kaum perempuan, nyesel gue. tinggal si Jeki yang belom."


"Bentar lagi." keduanya terkekeh.


"Apa rencana lo sam Elvira."


Dewa mengedik bahu, "biar aja seperti ini dulu."


"Maksud lo, lo biarin kesalah fahaman ini berlarut gitu?"


"Sampai gue nemuin Elvira lakuin inj."


"Palingan gak jauh-jauh sama duit."


"Seenggaknya gue punya alasan buat hentikan ini semua. apa adik Antoni udah ketemu?"


"Belum."


"Cepetan temuin dia,"


"Beres kalo masalah itu, yang jadi masalah sekarang itu elo?"


"Gue? kenapa gue?"


"Nyonya sedang siapain pembalasan buat elo!"


Ucapan Alex yang datar berhasil membuat Dewa membawa tatapan tajam ke arahnya.


"Lo tau apa rencananya?"


"Sayangnya dia udah ancam gue duluan, dan gue lebih takut sama kuasa dua wanuta dari pada elo!"


"Dua wanita, siapa?"


"Cherry sama bini lo ancam gue, kalo gue gak bantu, gue di suruh puasa sebulan sama Cherry dan bini lo ngancam gak boleh liat foto dia. gue gak mau anak gue ileran gara-gara itu."


Jawaban Alex terdengar sangat tidak masuk akal di telinga Dewa. tapi ia tak bisa berbuat apa-apa untuk itu.


"Lex, gue kok jadi takut begini ya?"


"Ngapain takut, bini lo kan cantik. nooh buktinya!"


Alex menunjuk satu orang yang sedang duduk di samping Cintya. mereka tampak mengobrol santai dan akrab.


Dewa menajamkan matanya "Pria itu lagi!"


***


Dewa punya saingan, horee

__ADS_1


__ADS_2