
Apakah mereka saling mengenal pikir Cintya?
Untuk beberapa saat Cintya menunggu, hingga mereka berdua keluar dari ruang dokter.
Elvira berjalan cepat, dan terlihat tergesa. wanita itu mengedarkan pandangan seperti sedang mencari seseorang.
Cintya berfikir pasti ia sedang mencari Dewa. lalu wanita itu berjalan ke luar dan sepertinya arah taman rumah sakit. cepat-cepat Cintya mengikutinya.
Cintya berdiri di balik rerimbunan tanaman hias. di sana Elvira adn pria yang Cintya tahu namanya Alvaro sedang berbincang serius dan sedikit berdebat.
Untuk sesaat Cintya tercenung. Elvira dan Alvaro, kenapa nama mereka mirip. apa mereka sengaja menggunakan nama yang sama. tak perlu memikirkan kesamaan nama, karena yang harus Cintya pikiran dan cari tahu saat ini adalah hubungan keduanya.
Cintya menajamkan telinganya, di jarak yang kurang dari satu meter namun ia tak terlihat, telinganya masih mampu pendengar dengan baik. dan satu hal yang di sesalinya adalah ia tak membawa ponsel. jadi ia tak. bisa merekam pembicaraan mereka.
"Kenapa kau mengikuti ku Varo?" tanya Elvira dengan nada sedikit tinggi.
"Kau pikir apa? tentu saja aku memiliki alasan."
"Memang apa alasanmu?"
"Apa perlu kau mempertanyakan itu?"
"Bukankah kau sudah tak peduli pada ku, pada kami?"
Cintya memang tak mengerti apapun, tapi jika di pikiran lebih dalam, sepertinya mereka sedang terlibat satu masalah serius.
"Siapa bilang? hanya kau yang merasa seperti itu, aku tidak!"
"Sudah lah Varo, sekarang aku tak peduli semua itu. aku bisa melanjutkan hidupku."
"Dengan menipu orang lain?"
"Kau yang menciptakan semua ini, jadi harusnya aku berterima kasih padamu."
Alvaro tergelak kencang, "kau naif sekali Elvira. kau pikir bisa menjalankan peranmu dengan baik, ingat masih ada aku."
"Jangan ganggu aku lagi!"
"Kecuali kau mau membaginya!"
__ADS_1
"Tak akan pernah!"
"Fifty Fifty,"
"Never!"
"Atau kau tak mendapatkan apa pun."
Cintya cepat-cepat meninggal kan tempat itu, ia tak mau Elvira sampai melihatnya. karena itu akan membuat semuanya kacau.
***
Di kantin, Dewa sedang menatap tajam kepada Alex. jika saja tatapan bisa membunuh, mungkin saat ini Alex sudah tak bernafas. tapi sayangnya saat ini pria itu masih hidup dan sedang memasang cengiran tak berdosa di wajahnya.
"Jangan bilang lo yang bawa Cinta kesini." tuduh Dewa pada Alex yang sayangnya semua itu benar.
"Emang bukan."
"Terus ngapain lo disini!"
"Kan lo yang minta!" jawab Alex dengan tampang tak berdosa nya. karena memang tak berdosa. Dewa sendiri yang meminta Alex untuk ke rumah sakit.
"Tadi gue lihat Cinta, dan gue yakin lo yang bawa dia kesini!"
"Lex!" Dewa menampilkan wajah tak ingin di bantah.
"Oke, lo bener, tapi gak semuanya."
"Maksud lo?"
"Nyonya memang datang sama gue, tapi bukan gue yang bawa dia. justru dia yang bawa gue kesini."
Dewa memandang Alex masih dengan tatapan yang sama. dan akhirnya mau tak mau ia pun menceritakan semua yang terjadi tanpa kecuali. tapi tidak termasuk rencana kedua yang Cintya maksud. ia tak ingin mengambil resiko menjadi sasaran kemarahan Cintya nantinya. biar saja Dewa sendiri saja yang menjadi samsak bernyawa untuk wanita itu.
"Jadi Cinta lihat gue masuk ke hotel itu?"
"Dan nunggu lo sampai kelar!"
Dewa menelan ludah, ia sangat mengerti maksud dari nunggu sampai kelar.
__ADS_1
"Apa dia_"
"Pak Ken, kita pulang sekarang." spontan Dewa menoleh, Cintya tepat di belakangnya tapi sama sekali tak mengindahkan keberadaannya.
"Sayang," Dewa tersenyum kaku tapi tetap memaksakan untuk merayu.
"Temani aku cari seblak."
"Biar kakak yang antar ya!" Dewa mengambil tangan Cintya hendak melancarkan rayuan. tapi dengan cepat Cintya menepisnya.
"Pak Ken,"
"I_iya" Alex berdiri dan hendak berjalan tapi tatapan Dewa menghentikannya.
"Sayang," Dewa masih mencoba.
"Cepetan pak Ken, aku butuh bahan bakar ekstra untuk menyemburkan api!" ucap Cintya penuh makna. lalu dengan cepat ia meninggalkan dua pria yang saling menatap.
"Pak Ken cepetan!" teriak Cintya sedikit keras.
"Mampus lo!" oloknya pada Dewa.
"Sialan! awas lo!"
"Pak Ken!"
"Ya Nyonya!" Alex berlari kecil mengejar Cintya yang sudah jauh meninggalkannya.
Sedangkan Dewa hanya mamou menatap nanar punggung Cintya yang menghilang di balik tembok rumah sakit.
Dewa yang masih dirundung kekesalan dan juga kekhawatiran akan kemarahan Cintya sama sekali tak mempedulikan panggilan telpon dari Elvira.
Kakinya melangkah meninggalkan tempat itu masih dengan getar ponsel yang sebetulnya sangat mengganggu. ia sama sekali tak berniat menjawab telpon itu, yang ia butuhkan saat ini adalah Cintya mendengarkan penjelasan.
Dewa mengendarai mobilnya cepat, ia ingin mengejar motor Alex. tapi satu pemandangan yang membuat Netra nya menajam. Bukan Alex yang menjadi joki di atas motor itu melainkan Cintya.
"Sial!"
Dewa meremas rambutnya frustasi. jika Cintya sampai mengabaikan larangannya, itu artinya wanita itu sedang sangat marah. dan Dewa harus secepatnya menyiapkan amunisi menghadapi kemarahan siluman singa betina.
__ADS_1
***
Nungguin Yaaaah, dooooh. gak dapet feel-nya.