
Elvira masuk ke dalam kamar setelah ia bergabung dengan Dewa dan Cintya untuk makan malam. makan malam penuh drama tentunya.
Jika Asisten rumah tangga saja sangat sulit ia kalahkan, apalagi istri Dewa nantinya.yang ia dengar sangat tegas dan berani.
Kekesalannya semakin memuncak tatkala ia tak berhasil merayu Dewa untuk pindah ke kamar atas. alasannya karena itu tak baik untuk kehamilannya.jadi I merasa tak memiliki alasan untuk menolak.
Lagi-lagi Cintya memberikan senyuman ejekan yang berhasil membuat darahnya mendidih.
"Hallo kau harus membantuku menjalankan ini," todongnya langsung setelah orang di seberang mengangkat panggilan dari nya.
"..."
"Namanya Cinta, dia tidak bisa di anggap remeh, dia selalu saja membuatku geram."
"..."
"Lakukan apapun aku tak peduli, yang penting dia tak menghalangiku."
Elvira memutus panggilan terlebih dahulu, lalu melempar ponselnya ke atas ranjang.
"Antoni telah membawamu padaku dan aku tak kan melepaskanmu, ha..ha..ha.." Elvira tertawa terbahak-bahak.sendirian di dalam kamar seperti orang gila. tapi ia tidak tahu jika seseorang telah mendengar ucapannya.
Cintya pergi dari depan kamar Elvira dengan membawa rasa penasaran nya. apa lagi ia tak sempat mendengar Elvira yang bercakap-cakap di telpon dengan seseorang yang entah siapa.
***
Di dalam kamar, Dewa terpingkal-pingkal melihat wajah istrinya ysng cemberut.
"Apa lagi cinta?"
"Aku kesel deh kak, kenapa sih kakak ijinin si Elvi tamasya itu numpang di sini? pake bohong lagi?''
" Bohong apanya?"
"Aku gak pernah kasih ijin ya!"
"Cuma sebentar aja sih, gitu aja ngamuk,"
Cintya mendelik Dewa mengatainya ngamuk. bagaimana ia tak kan mengamuk jika melihat tingkah Elvira yang memuakkan itu.
__ADS_1
"Awas aja kalau kakak macem-macem," ancam Cintya tak main-main. tapi apa tanggapan pria yang sedang memangku bayi perempuan itu? Dewa hanya memandangnya sekilas lalu kembali mengarahkan pandangannya pada bayi gembul yang semakin lucu itu.
"Kak! denger gak sih aku ngomong?" ulang Cintya sedikit meninggi.
"Iya cinta, kakak gak akan macem-macem. cuma satu macem aje kok!"
Cintya yang tadinya memandang bayi laki-laki yang ia pangku itu sontak mengalihkan tatapannya pada Dewa.
"Apa itu?"
"Mendekatinya!" jawab Dewa ringan tanpa beban. dan lemparan bantal pun berhasil mengenai kepalanya.
"Coba aja kalo mau senjata laras pendeknya itu aku potong."
"Dih ngancem, yang rugi entar siapa? kalo kamu lakuin itu siapa yang bakal naikin kamu teriak!" sedikit senyum miring mencemooh Dewa tampilan.
"Aku bisa saja cari yang lain meskipun tak mungkin sama persis sama punya kakak,tapi kakak mana ada perempuan mau sama buaya buntung. apa yang mau di banggain coba!"
Dewa melongo takjub. pemikiran istrinya benar-benar luar biasa. bagaimana bisa Dewa mengalahkan ucapan si ceriwis menggemaskan itu,sedangkan ia selalu saja kalah tiap kali mereka berdebat.
"Sekarang kamu semakin menakutkan," Dewa bergidik di buat-buat.
Ucapan Cintya mungkin terdengar tak serius, tapi Dewa yang cerdas dan cukup mengenal tabiat istrinya itu berpikir, bisa saja Cintya melakukan itu. apa lagi trauma kehilangan yang belum sepenuhnya hilang itu bisa saja mendorong Cintya untuk berbuat nekat.
"Apa kamu percaya kalau kakak bisa lakuin itu?" tanya Dewa serius. kedua matanya tak melepaskan Cintya dari pandangannya.
"Mungkin saja," jawab Cintya tanpa menoleh ke arah Dewa.
"Apa dua tahun kebersamaan kita tak membuatmu mengenal bagai mana pria yang menjadi suami mu ini?"
"Aku percaya padamu tapi tidak dengan Elvira."
Dewa terdiam. ia mencerna apa yang baru saja Cintya katakan padanya. dan pria itu membenarkan. tak ada yang tahu niat Elvira sebenarnya.
*
*
*
__ADS_1
Week end telah tiba, jika biasanya Dewa akan tetap pergi ke kantor meski hanya sebentar, tapi tidak untuk kali ini. ia memilih untuk tetap berada di rumah. Dewa berniat untuk menghabiskan waktu yang lama bersama Elvira. hanya ini kesempatannya.
"Selamat pagi Elvira?"
"Dewa, apa kau tidak ke kantor hari ini?"
Elvira terkejut Dewa sudah menyapanya di ruang makan dengan pakaian rumahan.
"Aku ingin di rumah saja bersama anak-anak."
"Iya, si jembar memang membutuhkan orang tua di umur yang sekecil itu."
"Karena itu aku selalu meluangkan waktu untuk menemani mereka."
"Apa istrimu selalu seperti ini?"
"Maksudmu?"
"Berpergian untuk waktu yang lama. meninggalkan mu di rumah tak mengurus mu dan yah, ia menitipkan si kembar pada pengasuhnya."
Dewa mengerti sekarang. jadi istrinya itu mengaku sebagai pengasuh bayinya. pantas saja ia memakai pakaian pelayan yang kurang bahan seperti itu.
"Itu sudah biasa."
"Kau tak melarangnya?"
"Aku tak pernah membatasi apapun yang ingin ia lakukan, dan dia juga tak melarang ku untuk melakukan semua hal yang aku mau."
Mendengar ucapan Dewa, Elvira merasa mendapatkan angin segar. ia seperti menemukan celah untuk bisa menyelinap masuk ke dalam kehidupan Dewa.
"Seperti apa hubungan kalian?"
Memancing di air yang keruh, itu yang sedang Elvira lakukan saat ini.terbesit rencana untuk mengambil kesempatan itu.
"Kalau kau mau, aku bisa membantumu." Dewa terkesiap mendengar Elvira mengatakan itu. "maksudku, si kembar. aku juga bisa menemani mereka. anggap saja sebagai bentuk rasa tetima kasihku."
Suara Elvira yang lembut membuat telinga seperti terbuai. tapi bukan Dewa namanya jika gampang di tipu oleh pandangan.
Dewa mengulas senyum, yang membuat Elvira melambung. tapi sebenarnya yang Dewa lakukan adalah ia sedang mencemooh Elvira. membiarkan wanita itu berpikir bahwa ia telah masuk ke dalam jebakannya.
__ADS_1