Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Lombok.


__ADS_3

Happy Reading...


"Non Cinta membawa koper, sepertinya ia akan pergi lama."


"Apa!"


Dewa berteriak di tengah keterkejutannya. apa-apaan ini. dia harus di tinggal sendiri di rumah ini bersama ular kadut yang berpura-pura jadi belut manis gitu? tapi belut juga licin. Dewa harus punya trik untuk menangkapnya.


"Apa dia mengatakan sesuatu pada bibi?" tanya Dewa panik.


"Ibu cuma nitip ini." Dewa menerima dengan tangan bergetar pemberian dari Cintya yang di titipkan pada Bibi. sebuah kotak perhiasan berwarna merah berbentuk persegi.


Perlahan Dewa membukanya. Deg! betapa terkejutnya Dewa melihat benda di tangannya. sebuah gelang kaki bermata Rubi yang pernah ia ikatkan di pergelangan kaki Cintya dulu.


Pandangan Dewa mengabur. nyawanya seperti di cabut paksa dari raganya. dadanya sesak dan kedua kakinya lunglai tak bertenaga. ia menjatuhkan bobot tubuhnya yang di atas kursi makan sebelum ia benar-benar pingsan.


Aku mau pakai terus, kecuali jika kakak menyakitiku aku akan melepasnya.


Dewa menggenggam erat benda berkilau itu. ia tak menyangkan Cintya akan semarah ini padanya. Cintya hanya salah faham, Dewa sama sekali tak berniat membohonginya.


Keadaan lah yang salah karena ia harus tiba-tiba berbelok ke hotel. Papa Rendra yang salah, kenapa tiba-tiba menelpon dan tiba-tiba memintanya datang ke hotel dan seorang anak kecil yang paling salah karena menumpahkan minuman di kemejanya. yang mengharuskan Dewa harus mandi dan berganti pakaian.


"Apa Elvira sudah pulang?" Dewa nyaris merupakan wanita itu. bagaimana pun Dewa masih bertanggung jawab pada wanita hamil itu. meski sekarang ia ragu jika wanita itu jujur atau sedang mencoba membodohinya.


"Belum Den." jawab bibi.

__ADS_1


"Ya sudah Bi, kalau dia tanya bilang saja saya ada urusan. dan kalau cinta pulang, bibi tolong kabari saya. saya mau pulang ke apartemen selagi Cinta belum pulang."


"Sekarang Aden mau kemana?" Bibi mengejar langkah panjang Dewa dengan sedikit berlari.


"Ke rumah besar. sekalian ke rumah ibu mungkin dia pulang ke sana."


Dewa menjawab tanpa menghentikan langkah. di dalam mobil Alex masih mendengkur. Dewa bahkan tak berniat untuk membangunkannya.biar saja ia bawa kemana-mana tubuh bernyawa yang sedang tenggelam dalam mimpi itu.


Beberapa lama dalam perjalanan, Dewa tak henti-hentinya merutuki diri. mengutuk perbuatannya. busa-bisanya ia tak ingat sama sekali pada istri dan anak-anak nya saat masuk ke dalam Hotel. meski kenyataannya ia ke sana atas urusan pekerjaan. Cintya kan tidak tahu. bodoh memang.


Dewa telah sampai di depan gerbang rumah keluarga Mahendra. tapi ia ragu untuk masuk.dan bertanya. alasan apa yang akan ia gunakan saat ibu atau Leo bahkan Kakek bertanya tentang Cintya. sudah dapat di pastikan kakak iparnya yang jago Taekwondo itu akan membuat mukanya yang tampan itu akan menjadi babak belur. tapi bukan itu masalahnya. ia sama sekali tak takut dengan rasa sakit. ia hanya takut menjawab jujur.


Jujur salah bohong makin salah. Dewa bingung.


Menghela nafas sejenak, Dewa mengakui ternyata ia memang seorang pecundang. buktinya ia lebih memilih untuk menunggu dan mengawasi dari pada masuk dan bertanya.


"Lex, bangun.. bangun!" Dewa mengeraskan suara tepat di samping telinga Alex yang tidur bersandar.


"Saham tertinggi milik Herlambang Corp masih milik Nona Cintya Herlambang, dan harga saham kita masih tinggi, jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan sial itu. perusahaan kita masih aman." Ceroscos Alex ngelantur. cara Dewa membangunkannya sangat tak manusiawi. Membuat Alex kehilangan separuh nyawanya dan sebagian lainnya masih tercecer.


"Ngomong apa sih lo!" bentak Dewa. meski sebenarnya ia ingin tertawa. loyalitas Alex dalam bekerja tak perlu di pertanyakan lagi. buktinya pria itu sampai membawanya ke alam mimpi.


Alex menatap bingung di sekitarnya. dalam mimpi ia sedang memimpin rapat para pemegang saham. saat terbangun ia sedang berada dalam mobil hingga satu persatu nyawanya menyatu dan menyadarkannya.


"Kita udah sampai Wa?" tanya Alex celingukan menatap keluar jendela. "Loh, ini bukannya rumah mertua lo?" tanya-nya lagi.

__ADS_1


"Makanya bangun, molor mulu kerjaan." cerca Dewa gemes melihat Alex yang masih memasang tampang bego.


"Namanya juga bapak rumah tangga," elaknya menolak salah.


"Bapak rumah tangga pala lo, yang ada gue yang udah bapak-bapak gak loyo kayak lo!" Alex nyengir saja, ucapan sengit Dewa sana sekali tak membuatnya takut. bukan Dewa namanya kalo gak marah-marah. justru Alex harus takut kalau Dewa hanya diam saja.


"Cinta pergi dari rumah dan gue gak tau dia kemana, apa kira-kira lo tau kemana dia. apa dia bilang sesuatu tadi."


"Dua cuma bilang mau bawa Lucia ke rumah lo."


Cepat-cepat ia menutup mulut dengan tangan nya. akan bahaya jika ia membocorkan rencana Sang Nyonya.


"Apa lo bilang? bawa Lucia? jadi maksud lo Cinta susulin Lucia?"


Alex mengangguk pasrah.meski sebenarnya ia sendiri ragu dengan je arkuratan laporannya.


"Lo pindahin kemana si Lucia?"


"Ke Lombok!"


Hiks!


"Seriusan ke lombok?"


"Kan elo yang suruh gue pindah ke sana."

__ADS_1


"Kalian berdua ngapain di sini?"


Dua manusia dalam mobil itu berjingkit mendengar sapaan dari luar mobil.


__ADS_2