
Happy Reading...
"Gak mau, aku mau ke pasar tradisional. mobil gak bisa masuk."
Eh, apa Dewa tak salah dengar, Cintya akan mengajaknya ke pasar tradisional yang becek dan kotor itu lagi? lalu ia akan menjadi pusat perhatian karena wajahnya yang tampan khas bule seperti beberapa waktu lalu. dan yang paling menyebalkan dari hal itu adalah ia harus tersedia di ajak kenalan oleh seorang pengaman banci. sungguh Dewa membenci hal itu. tapi menolak pun tak mungkin.
"Baiklah terserah." Dewa mengucapkan dengan nada biasa meski sebenarnya ia ingin menggeram.
Bisa di bayangkan wanita hamil besar naik motor di tengah jalan raya yang padat lalu lintas karena letak pasar tradisional yang cukup jauh lalu berdesak-desakan di tengah pasar. dengan bau sayur busuk, amisnya ikan segar dan bau anyir darah ayam ataupun sapi. Dewa mual hanya dengan mengingatnya. tapi istrinya itu tampak sangat menikmati dengan bahagia. tak ada yang lebih menyenangkan melihat wajah istrinya itu bahagia. jadi tak ada alasan untuknya untuk menolak.
Dewa benar-benar tak berdaya demi tawa istrinya.
Dengan menggunakan motor matic yang mereka beli tiga bulan yang lalu, mereka membelah jalanan yang tak begitu panas. Motor yang tampak imut itu menjadi terlihat aneh karena tubuh Dewa yang tegap dan tinggi mendudukinya. kendaraan itu melaju pelan karena Cintya duduk miring demi menghindari benturan pada perutnya.
Dengan sesekali bercanda dan tertawa mereka menuju pasar tradisional yang memakan waktu tiga puluh menit lebih lama dari jarak tempuh yang sebenarnya.
"Kak, nanti aku mau belanja yang banyak biar kita masaknya juga banyak." tutur Cintya sedikit mengeraskan suaranya.
Dewa hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan istrinya. tangan besarnya mengusap lembut punggung tangan Cintya yang melingkari perutnya. sebagai bentuk perhatian.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di tempat tujuan. beruntung sekali beberapa hari ini tidak hujan, sehingga pasar itu tak terlalu buruk jika di pandang. dan Dewa juga tak perlu memakai masker dari luar. hanya setelah sampai di dalam pasar pria yang semakin tampan setelah menjadi seorang ayah itu memakai maskernya. semua itu ia lakukan demi menghindari siapapun yang akan mencuri pandang padanya.
Setelah berkeliling mencari semua yang di butuh kan, Dewa dan Cintya berjalan menuju pintu keluar. tapi kaki wanita itu mendadak terhenti karena melihat sesuatu yang menarik perhatian nya
Dewa yang berjalan di belakangnya pun ikut berhenti. ia mengira jika Cintya pasti kelelahan setelah berkeliling pasar selama satu jam.
"Capek?" tanya Dewa dengan lembut sambil mengusap keringat di pelipis Cintya. "mau di gendong?" tawarnya karena Cintya tak menjawab. justru memandang Dewa seperti ingin mengatakan sesuatu.
Melihat Cintya yang hanya terdiam, Dewa pun juga terdiam sambil menebak-nebak apa yang ada dalam pikiran istrinya. dan semoga bukan hal konyol apalagi memalukan seperti waktu itu.
Cintya dengan rengekan khasnya meminta Dewa untuk melakukan keinginan yang membuat pria itu sangat malu. yaitu meminta lollipop bentuk hati yang sedang di pegang oleh anak berusia dua tahun. dan tentu saja itu berhasil membuat balita itu menangis meraung karena tak terima jika lolipopnya di ambil. dan Dewa di buat semakin pusing karena Cintya yang tak ingin mengalah. meski Dewa menawarkan untuk membelikannya banyak lolipop tapi tetap saja ia menolak. dan beruntungnya ibu si anak mengerti saat melihat perut Cintya yang membuncit. yang artinya itu sesuatu yang tak bisa di tolak. yaitu mengidam.
Dengan usaha yang lumayan keras, akhirnya ibu di anak dan Dewa berhasil membujuk anak itu dengan imbalan sebuah mobil-mobilan.
__ADS_1
Mengingat itu, Dewa dengan segera melafalkan Do'a dalam hati. semoga tak perlu ada adegan mengemis permen anak kecil.lagi.
"Kak, aku mau itu." tunjuk Cintya pada benda yang berjejer-jejer.
Dewa mengikuti arah yang di tunjuk. dan betapa bahagianya karena Cintya hanya menunjuk baju anak perempuan yang berwarna putih dengan banyak Renda.
"Beneran mau itu? apa tak takut bahanya kasar?"
Bukan Dewa pelit, tak mau menurut keinginan Cintya, itu karena ia ingin semua barang yang di pakai putrinya memiliki kualitas yang bagus. dan bukan karena membeli di pasar tidak bagus.hanya saja Dewa tak terbiasa menggunakan barang pasaran.
"Sama saja, hanya brand nya saja yang beda." jawab Cintya. lalu berjalan ke kios pakaian anak-anak.yang tak jauh darinya.
Di kios yang seukuran tiga kali tiga itu, Cintya memilah-milah pakaian bayi perempuan yang memang modelnya lucu-lucu. dan dalam waktu sekejap wanita itu berhasil mengumpulkan setumpuk baju beraneka warna dan model.
Dewa membiarkan saja apa yang istrinya itu lakukan. karena menurut nya ia tak akan miskin jika Cintya memborong semua isi toko.
"Sudah bu," ucap Cintya pada ibu-ibu pemilik toko.
Segera wanita itu berdiri untuk menghitung belanjaan Cintya yang bertumpuk. bagi wanita itu hari ini adalah hari keberuntungan. karena ada yang memborong dagangannya dan ini pertama kalinya ia alami. sungguh ia sangat berterima kasih dan mengucapkan do'a yang tulus untuk Cintya.
"Oh iya, gak pa pa. pakai saja." jawab ibu itu mempersilahkan. dan dengan segera mendekat kan kursi pada Cintya agar dapat di pakai duduk lebih nyaman.
"Terima kasih." ucap Dewa bareng Cintya.
"Apa anak pertama?" tanya Si ibu basa-basi.
"Ketiga bu," Jawab Dewa.
"Wah, selamat ya. umur berapa kakaknya?" tanya ibu itu lagi.
"Empat belas bulan." jawab Dewa lagi.
Lalu ibu itu tertawa geli bukan untuk mengolok melainkan terkagum.
__ADS_1
"Gercep ya mas." goda ibu itu pada Dewa. sedangkan yang di goda hanya tersenyum
"Benar sekali." jawab Dewa apa adanya.
"Keliatannya kalian saling mencintai?"
Cintya dan Dewa tersenyum sebelum terdengar Cintya menjawab. "Tapi kakak jahat, suka seenaknya dan suka menghukum."
Dewa terpekik dalam mendengar ucapan Cintya. ia tak tahu apa yang akan di katakana lagi mengenai dirinya.
"Jahat gimana? apa suka memukul?"
suara lantang wanita itu berhasil menarik perhatian beberapa orang di sana
Dewa diam saja. membiarkan wanita itu menarik kesimpulan sendiri.
"Bukan," Cintya menggerakkan tangan nya sebagai tanda penolakan.
"Lalu?" tanya ibu tersebut.
"Dia suka sekali membuatku tak bisa berjalan" jawab Cintya yang membuat Dewa terperangah.
"Tak bisa berjalan? apa dia sering memukulmu?"Cintya menggeleng kuat.
"Terus yang tadi?" tanya si ibu bingung.
"Oh itu, tidak ibu salah faham kakak hanya membuatku tak bisa berjalan di pagi hari karena ulahnya semalam.
Semua orang kompak tertawa.
***
.Hai genks, semoga tidak bosan dengan cerita ini. karena kurangnya dukungan, maka saya akan membuat cerita ini lebih cepat terakhir. semoga kisah anak-anak mereka nanti membuat kalian tak bosan membaca dan menanti.
__ADS_1
Love You All 💛💛💛