
Happy Reading...
"Oh itu, tidak ibu salah faham kakak hanya membuatku tak bisa berjalan di pagi hari karena ulahnya semalam."
Semua orang kompak tertawa.
"Istrimu ternyata memiliki jiwa humor yang tinggi rupanya." ucap si ibu pada Dewa.
Dewa menanggapi dengan seulas senyum ucapan ibu itu. sejujurnya Dewa sedikit malu, kenapa juga istrinya itu berkata jujur.meski tak dapat di pungkiri jika itu memang benar.
Setelah membayar semua belanjaannya, Dewa membantu Cintya dengan membawa tentengan yang lumayan banyak. mereka sudah seperti hendak pindah rumah saja. kedua pasangan itu berjalan beriringan menelusuri gang-gang kecil di antara kios-kios para pedagang hendak menuju pintu.
"Kak, aku lupa membeli brokoli deh," ucap Cintya menghentikan langkah.
"Mau beli lagi?" tanya Dewa sambil menoleh ke. belakang mereka. ia melihat ke jalan yang mereka lewati tadi ternyata sudah sangat jauh. "Udah jauh loh sayang, emang gak capek?" tanya Dewa khawatir. sebenarnya ia ingin menawarkan diri biar ia saja yang kembali untuk membeli sayuran kribo tersebut. tapi ia tak pernah tahu bagaimana memilihnya mengingat dirinya yang tak pernah menginjakkan di tempat yang namanya pasar.
Dewa mengedarkan pandangan, berharap ada pedagang sayur yang tak jauh dari mereka. namun sayang, saat ini mereka berada di bagian pakaian jadi.
"Tapi aku mau buat kribo krispi kakak," entah kenapa Dewa merasa Cintya hari ini lebih manja tapi tak se-menyebalkan biasanya. ia merasakan firasat yang tak bisa ia ungkapkan. ada rasa khawatir dan tak nyaman yang tiba-tiba menggelayuti hatinya.
"Apa tidak bisa jika kita beli saja, dari restoran atau mungkin kafe." tawar Dewa menengah. meski ia sendiri dingin menertawakan nama makanan itu. Kribo krispi mana ada makan seperti itu di dunia ini.
"Mana ada kakak, aku kan ngarang namanya."
Benar sekali apa yang di pikirannya itu. istrinya benar-benar memiliki imajinasi luar biasa sejak mengandung. luar biasa aneh maksudnya.
Dari sayur terbakar cemburu yang artinya sambal terong menurut Dewa hingga kribo krispi yang terbuat dari sayur brokoli yang di balut tepung bumbu. kenapa tak membeli ayam saja jika seperti itu. sangat praktis rak perlu repot. seperti itulah pikiran Dewa saat ini.
"Jadi bagaimana?" tanya Dewa tanda pasrah. ia akan mengikuti apapun kemauan nyonya itu. demi menghindari aksi protes yang berujung dirinya yang akan susah.
"Kita kembali saja, sebentar saja. aku tak akan capek." putus Cintya. ia tahu pasti Dewa hanya mengkhawatirkannya saja.
Akhirnya mereka kembali melewati jalanan yang tadi mereka lalui. namun belum terlalu jauh mereka berjalan, Cintya melihat ada pedagang yang menjual sayur seperti yang ia inginkan. meski tak begitu banyak yang di jual tapi sepertinya sayur itu masih segar. lagi pula ia tak membutuhkan banyak. hanya beberapa bonggol kecil atau dua bonggol besar.
"Kak, itu di sana ada." tunjuk Cintya pada stand kecil yang di jaga oleh seorang nenek-nenek yang sudah berumur.
Dewa mengikuti arah tunjuk Cintya lalu tersenyum.
Mereka berjalan menuju nenek yang sepertinya sedang kesusahan menenangkan bayi di pangkuannya.
__ADS_1
Cintya menatap iba pada nenek dan bayi perempuan itu. ia merasa trenyuh dan tanpa sadar ait matanya menetes.
"Sayang, kenapa kok nangis?" tanya Dewa khawatir.
"Lihat deh kak, kasihan sekali bayi sekecil itu harus di ajak ke tempat seperti ini. di sini kan lingkungannya tak sehat. banyak orang di sini yang datang entah dari mana." ucap Cintya iba.
"Mungkin ibu itu tak memiliki pilihan lain selain membawa bayinya ke sini." jawab Dewa.
"Tapi kan bisa di titipkan ke penitipan anak."
Meski dalam keadaan simpati, tetap saja ada nada sombong dalam ucapannya.
"Sayang,kita tak bisa menyama ratakan keadaan seseorang."
Cintya meringis, menyadari bahwa ia baru saja berkata buruk. "Iya, maaf."
Dewa mengusap pucuk kepala istrinya dengan sayang, "lain kali tak boleh berkata seperti itu. beda orang beda nasib. tapi meski seperti itu, derajat kita sama. jadi tak boleh berkata sembarangan." tutur Dewa lembut tanpa bermaksud menggurui.
"Aku kan audah minta maaf." ucap Cintya sambil cemberut.
"Ya sudah, kita kesana."
Dewa mengajak Cintya mendekat.
"Iya neng, sebentar." jawab ibu itu lalu berdiri untuk menyiapkan timbangan. tampak sekali jika ibu itu kesusahan karena bayi yang sedang di gendongnya itu meronta dan menangis kencang.
"Bu, dari tadi saya perhatikan adeknya menangis terus, apa sedang kurang enak badan?" tanya Cintya yang iba melihat bayi berusia sekitar tujuh bulan itu.
"Sudah biasa neng, tapi akhir-akhir ini memang lebih rewel. mungkin kangen sama ibunya." jawab wanita itu tanpa berniat untuk berbohong.
"Memang ibunya kemana bu?" tanya Cintya.
Ibu itu menghentikan tangannya yang memasukkan sayuran pilihan Cintya ke dalam timbangan. wajahnya menampakkan kesedihan ya g tak di tutup-tutupi.
"Orang taunya meninggal tiga bulan yang lalu karena kecelakaan." jawab ibu itu dengan setitik air mata yang menerobos keluar. "Dia adalah putri keponakan ibu, secang ibu sendiri tak memiliki anak. setelah ketiadaan orang taunya, hanya saya yang ia miliki. karena orang tuanya pun anak tunggal kakak saya yang juga sudah meninggal.
"Kasihan sekali kamu dek," ucap Cintya sedih.
Di lihatnya gadis kecil itu dengan mata berkaca yang sontak menimbulkan getaran dalam dadanya.
__ADS_1
"Biar saya bantu menggendong sebentar bu," tawar Cintya karena kasihan melihat ibu itu tampak semakin kesulitan.
"Jangan neng, nanti eneng malah capek." tolak wanita itu karena melihat perut Cintya yang sudah sangat besar.
"Tak apa bu, biar suami saya yang mengendongnya." Cintya mengambil bayi itu dengan sedikit kesulitan lalu memberikan nya pada Dewa, "Ikut papi dulu dek."
Dewa yang tak siap pun menjatuhkan begitu saja belanjaan di tangannye.
"Cantik ya kak!" Dewa tersenyum menanggapi.
Setelah berbincang cukup lama, Dewa mengajak Cintya pulang karena panas sudah terasa terik.
"Kak, ini buat Danika saja ya?" tanya Cintya meminta pendapat untuk memberikan baju-baju yang telah ia beli pada bayi yang sudah kembali pada neneknya.
"Baik banget sih istri Dewa." puji Dewa yang membuat Cintya merona meski tak hanya sekali Dewa memujinya.
"Ibu, ini buat adek." Cintya memberikan satu kantong plastik hitam yang berisi baju-baju anak pada ibu penjual sayur.
"Terima kasih neng," ucap si ibu haru.
Dewa dan Cintya sedang berjalan berniat pulang. setelah sampai di luar, Cintya melepas kan genggaman tangan dari Dewa dan berbelok ke arah yang berlawanan.
"Sayang mau ke mana?"
"Aku beli itu sebentar kaki," tunjuknya pada penjual gula kapas di seberang jalan.
"Sebentar kakak ambil motor dulu."
"Tak perlu kak, aku cuma sebentar."
Belum sempat Dewa mencegah, Cintya berlalu begitu saja. dan dari arah berlawanan, terlihat mobil yang melaju kencang.
"Cinta... awas!"
Brakk!!!
Tak ayal lagi, tabrakan pun terjadi.
"Kakaaaak!"
__ADS_1
***
End.