
"Cintaaaa!" teriakan Dewa menggelegar hingga menimbulkan gema di kamar itu.
"Apa sih? berisik deh kak!" Cintya sampai harus menutup telinga karena suara Dewa seperti menembus gendang telinganya.
Baru sampai di depan pintu, Dewa bahkan sudah mengaum saja. dan tanpa pria itu duga, cintya justru mencibirnya dengan menutup telinganya.
Dasar memang Cintya adalah salah satu umat yang di ciptakan untuk menguji kesabaran Dewa.
"Masih berani protes kamu?" Dewa menajamkan mata di depan Cintya. dan yang di lakukan Cintya adalah memejamkan matanya.
"Jangan meledek cinta!"
Cintya mencebik, "Siapa juga yang meledek,aku hanya melindungi diri."
"Melindungi diri? melindungi diri dari apa?" sengit Dewa tak mengerti dengan ucapan Cintya.
"Melindungi diri dari tatapan mu yang hampir saja merontokkan hatiku."
"A!"
Dewa menutup kembali mulutnya. baru saja ia melontarkan omelannya, tapi kata-kata Cintya yang lucu membuat Dewa tak sanggup berkata-kata.
"Dasar perayu kecil." tuturnya sembari mendaratkan kecupan kecil di keningnya. "sini, kamu tetap harus di hukum."
Dewa menarik Cintya sedikit keras hingga membentur dadanya, lalu menjatuhkan tubuh mereka berdua di pusar ranjang.
***
__ADS_1
Di luar sang nyonya yang baru datang itu terlihat begitu menggebu-gebu memainkan perannya. ia terlihat begitu senang karena mendominasi pertengkarannya bersama Elvira. lambaian kertas berangkat sudah membayang di depan matanya jika ia mampu membuat Elvira hengkang dari rumah itu dengan sendirinya. oleh karena itu, Wanita yang bernama asli Agung itu sangat bersemangat dalam menjalankan aksinya.
Elvira mengepalkan tangan sampai terlihat buku-buku jarinya. wanita itu sampai menipiskan bibirnya menahan gejolak amarah dalam dirinya.
"Ma_maafkan aku, aku belum terbiasa." tutur Elvira terbata. ia masih harus memainkan peran baik hatinya untuk saat ini.
"Aku akan melupakan ini, tapi kau harus melakukan sesuatu untukku?"
Elvira merasakan firasat buruk mendengar kalimat itu.
" Me_melakukan apa."
"Menjadi pelayan ku selama satu bulan sebelum aku kembali keliling eropa."
Elvira membulatkan mata dan mulut bersamaan.
"Oh benarkah? apa yang bisa di lakukan oleh Suamiku yang tampan itu untukmu? lagi pula, kenapa kau. begitu yakin ia mau melakukan itu untuk mu?" cibirnya dengan wajah paling menyebalkan.
"Aku sangat yakin karena Dewa berhutang nyawa pada ayah dari bayiku. lagi pula ia juga sudah berjanji akan melindungi ku." jawab Elvira naif hingga membuat sang nyonya itu terkekeh meledek.
"Kalau begitu, kemana dia sekarang, ia bahkan tidak berada di sini untuk membantumu."
Elvira memandang sekeliling. dan betapa terkejutnya ia karena saat ini dia hanya berdua dengan wanita bertubuh tegap di depannya.
"Aku tetap tidak akan melakukannya. lagi pula aku ragu apa benar kau istrinya atau bukan. aku tidak yakin Dewa memilih wanita sepertimu untuk menjadi istrinya."
Elvira masih berusaha mempertahankan penolakannya. ia sadar jika dirinya sendiri di sana.tapi demi keberhasilan misinya, ia harus bertahan. ia hanya ingin menggantikan posisi nyonya besar di rumah itu.
__ADS_1
"Apa yang kau ragukan, apa kau tidak lihat tadi aku masuk tanpa mengetuk pintu. dan lihat saja malam ini, apa yang bisa ku lakukan agar kau bisa percaya kalau aku bisa melakukan semua hal yang aku mau untuk mengusir mu dari sini."
"Kalau begitu, kenapa kau berada di aini dan membiarkan perawat anakmu menemaninya. dan jika aku tidak salah duga, mereka sekarang ini asti sedang.." Elvira menggantung kalimatnya, sengaja ingin memprovokasi sang nyonya.
"Itu karena Cinta yang memang patuh pada perintahku. jadi yang ia lakukan tidaklah salah."
"Apa kau yakin itu yang terjadi, bukan karena .emang Cinta yang mengincar posisimu?" kembali lidah tak bertulang itu mencoba menebar racun.
"Sudah! jangan mencoba mempengaruhiku karena aku tak akan terpengaruh. mulai sekarang, jika kau ingin hidup nyaman di sini, jangan membuat ulah. atau kau memilih pergi dari sini sekarang juga!"
"Tidak! Dewa sudah berjanji padaku!"
"Dewa berjanji pada Antoni bukan padamu, dan yang menjadi tanggung jawabnya adalah bayinya bukan kamu. jadi mulailah bekerja saat ini."
"A_apa?"
"Apa kau tak dengar? be ker ja!" sengaja Agung mengeraskan ucapannya agar dapat di dengar dengan baik.
"Aku harus apa? aku tak pernah bekerja."
"Kalau begitu, mulailah belajar. atau kau bisa pergi saat ini juga. di sana pintu keluarnya." Agung menunjuk pada pintunya yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Elvira berfiri cepat lalu melangkah, bukan untuk pergi keluar. melainkan kembali ke kamarnya.
"Kurang ajar, dasar nenek sihir, belum tau saja siapa eike!" umpat Agung dengan suara melambai khas banci.
***
__ADS_1