
Masih menunggu kan??? yook lah,,,,
Happy Reading...
***
Keesokan harinya.
Jika seperti biasa Elvira telah bersiap dengan alat kebersihannya. dan bekerja di bawah pengawasan Agung sudah menjadi kebiasaannya. tapi pagi ini tidak. ia sedang berada di meja makan memasang wajah angkuhnya. seolah kemenangan telah berada di tangannya.
Wajahnya tampak senang dan bersemangat, ada banyak rencana yang telah ia rancang tersusun di otaknya. ia menyangka kebebasannya karena Dewa yang sudah terpengaruh olehnya. nyatanya semua ada alasan lain. apalagi jika bukan rencana sang nyonya yang akan menendangnya keluar hari ini.
"Terima kasih kau masih peduli pada ku, aku yakin kau tak akan membiarkan aku di perlakukan buruk di sini." Elvira dengan wajah ceria tapi suara di buat sendu.
Cintya membuang muka, tapi di bawah meja jarinya dengan lincah mencubit paha kertas suaminya.
Dewa tersenyum menyembunyikan rasa panas akibat capitan jari lentik istrinya.
"Seharusnya semua itu tak perlu kau alami Elvira." Dewa tak ingin berkata banyak, karena saat ini dia berada di bawah ancaman jemari Cintya.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pun harus berterima kasih karena kau juga menganggap ku penting." timpal Elvira tanpa mengerti maksud dari perkataan Dewa.
Pembicaraan tak penting itu masih berlangsung hingga mereka menyelesaikan acara makan pagi.
Saat ini Dewa dan Cintya sedang bercengkerama bersama dua anaknya di ruang keluarga. sengaja Dewa tak berangkat pagi itu karena sesuai janji, Alvaro akan datang untuk menjemput Elvira. Elvira yang saat itu juga berada di sana sedang menatap keluarga bahagia itu dengan tatapan benci. dan semua itu terlihat oleh Anggun.
"Apa yang kau lihat nenek sihir!" bentak Anggun membuat Elvira memalingkan muka dengan segera.
"Memangnya apa? aku hanya melihat anak-anak yang sangat lucu itu." kilah Elvira.
"Tentu saja karena orang tuanya adalah Dewa dan Cintya, bukan kamu yang bermuka dua." Anggun dengan tanpa berdosa menjawab cepat
"Jangan menghinaku terus-terusan karena aku tak akan membiarkanmu." cerca Elvira pada pria berwajah cantik di depannya.
"Tanpa di hina pun kau sudah hina Elvira!"
"Kau! kurang ajar sekali kau bicara begitu padaku!" dengan suara tinggi karena niatnya ingin mencari perhatian Dewa justru harus terpatahkan karena Dewa sama sekali tak peduli dengan perdebatan orang-orang itu.
"Apa dengan mengeraskan suara kau bermaksud untuk menarik perhatian suamiku, biar aku yang mewakilinya, yang di katakan Anggun semua benar. wanita terhormat tak seharusnya mencoba menjadi pengganggu dalam kehidupan orang lain. jadi, jika kau tak ingin ada orang lain berkata seperti itu, maka sebaiknya jangan menunjukkan sikap yang membuat orang berpikir seperti itu."
__ADS_1
Dewa hanya diam mendengar ucapan Cintya. baginya tak penting menimpali obrolan wanita-wanita itu. karena bukannya menjadi baik, pasti Cintya akan menuduhnya berpihak pada Elvira seperti kemarin.
Beberapa menit kemudian, terdengar langkah mendekat. pria dengan setelan jas mahal itu memberikan seulas senyum.
"Selamat pagi." sapanya ramah.
"Alvaro!" celetuk Elvira dengan wajah memucat.
"Ya Elvira, aku datang untuk menjemputmu."
Elvira menggeleng tegas. ia tak ingin pergi dari rumah itu karena selain urusannya belum selesai, ia juga menghindari Alvaro.
"Kau akan ikut bersamaku Elvira, sampai aku bisa membuktikan jika anak yang sedang kau kandung itu adalah benihku."
Elvira hanya mampu terdiam karena Bibi sudah menyiapkan koper serta barang-barangnya.
***
absen...
__ADS_1