
Saat sedang bercengkrama dengan istri dan anaknya, pintu terbuka. dan Alex pelakunya. tapi pria di belakang Alex membuat Dewa terkejut.
"Selamat siang." tutur tamu pria itu.
Dewa menatap dingin pada tamu tersebut. sekilas ia melihat ke arah Cintya yang terlihat seperti tak tahu apa-apa.
"Selamat siang," sahut Dewa. "apa kita sudah ada janji?" tanya Dewa basa-basi. ia tak mungkin melupakan pria yang ia lihat berbicara pada Cintya dengan binar kekeguman.
"Tidak jika bersama anda, tapi saya sudah ada janji dengan," Alvaro melirik Cintya. "Nona Cinta."
Dewa mendengus, bisa-bisa nya istrinya itu membuat janji dengan pria lain tanpa sepengetahuannya.
"Apa ada hal.penting yang akan bicarakan?" tanya Dewa dengan menahan segala kekesalan di hatinya. lebih tepatnya Dewa cemburu pada pria yang begitu enteng menyebut nama istrinya dengan embel-embel Nona. bukan Nyonya seperti yang seharusnya.
"Biar istri anda yang menjelaskannya."
Dewa bisa bernafas lega sekarang. karena pria itu sudah tahu tentang status Cintya yang sebenarnya.
"Sayang," Cintya mengerti lalu ia meminta Fira mengambil Twins dan membawanya.
"Tolong ajak mereka jalan-jalan sebentar." titahnya pada Fira.
"Lex minta jojo temani Fira ke taman belakang."
Alex mengangguk patuh lalu meninggalkan ruangan itu sambil membantu mendorong Stroller si kembar.
"Baiklah, bisa kita mulai. apa yang ingin kalian bicarakan." Dewa dengan wajah serius menatap Cintya dan Alvaro.
"Kak, Alvaro adalah ayah dari bayi yang di kandung Elvira."
Dewa sedikit terkejut. tapi ia bereaksi biasa saja. ia sudah menebak hal itu.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" Dewa menatap Alvaro datar.
Tentunya Dewa tak asing lagi tentang pembahasan seperti ini. yang terjadi adalah hal biasa yang di alami oleh manusia-manusia yang menganggap diri mereka sudah dewasa dan bisa melakukan itu.
"Awalnya aku menolak kehadiran bayi itu," tutur Alvaro tanpa menujukkan penyesalan.
Dewa mengepalkan tangan sedikit emosi. bahkan Dewa adalah mantan pria brengsek, tapi ia tak pernah menyetujui pemikiran ataupun tindakan penolakan pada seorang bayi.
__ADS_1
"Lalu sekarang?" tanya Dewa singkat. ia sama sekali.tak berniat untuk bertele-tele soal ini.
"Aku harus memiliki bukti kuat untuk bayi itu." jawab Alvaro.
"Itu mudah, anda bisa melakukan tes DNA pada bayi itu."
"Tapi masalahnya itu tak bisa di lakukan sebelum bayi itu lahir. dan jika di lakukan sekarang, saya takut justru akan membahayakan kandungan Elvira."
Dewa mengerti hal itu. ia hanya mengangguk ringan sebagai respon.
"Jadi apa rencana anda."
"Saya akan membawa Elvira bersama saya, saya tahu kehadirannya sangat mengganggu keluarga kalian. asal anda tahu. Elvira menginginkan posisi nona Cintya." Dewa sedikit terkejut. selama ini Elvira memang agresif padanya. tapi Dewa tak pernah berpikir sampai sana.
"Bukankah posisi itu bisa ia dapatkan dari anda, saya lihat anda sepertinya pria yang cukup sukses." ujar Dewa jujur menelisik penampilan Alvaro yang berbeda dengan saat ia lihat fi rumah sakit. penampilan pria itu menggunakan pakaian resmi membuatnya tampak sangat berwibawa.
"Terima kasih atas pujian anda, tapi sayangnya saya belum sesukses Anda." Alvaro terkekeh mendengar pujian Dewa.
"Jangan merendah."
"Tentu saja karena saya belum mendapatkan istri seperti nona Cintya."
"Sepertinya saya harus memiliki siasat untuk menggaet wanita hebat seperti dia."
Dewa tetap mengulas senyum meski hatinya sedikit tercubit.
Awas saja kalau sudah bosan hidup. ancam Dewa dalam hati.
"Anda harus banyak belajar dan bersabar untuk mendapatkan wanita sepertinya." Dewa menatap sayang pada Cintya yang tiba-tiba bergelayut pada pundak Dewa tanpa malu dan canggung.
"Tapi sayangnya saya tak memiliki kisah manis seperti kalian. jujur saya sangat menginginkan kisah seperti itu." Alvaro menatap pasangan itu dengan seulas senyum kagum.
"Bagaimana kisa anda dengan Elvira, saya pikir kalian juga memiliki kisah yang indah." timpal Dewa menanggapi pujian Alvaro.
Alvaro tertawa ringan "Hubungan kami tidak seperti yang anda pikirkan. semua itu terjadi karena kami mabuk dan yah, saya tak perlu menceritakan srmua dan saya yakin tanda sudah mengerti."
"Apa yang terjadi dengan kalian, dan bagaimana bisa Elvira menciptakan kebohongan tentang Antoni."
Tentu saja Dewa sangat ingin mendapatkan informasi tentang itu. ia tidak dingin hanya mendengar kan dari satu sisi saja. ia tak akan membiarkan Elvira membuatnya tertipu dengan menggunakan pembenaran dari dirinya saja.
__ADS_1
"Awalnya saya masih ragu, bahkan sampai sekarang saya masih ragu tentang bayi itu. dan itulah sebabnya saya harus memastikannya. dan mengenai Antoni, saya yakin Elvira sedang memanfaatkan situasi saja. mereka berteman sejak lama. itu yang saya tahu. dan saya yakin mereka baru bertemu sebelum Antoni kecelakaan. awalnya saya tak peduli dengan apa yang Elvira ingin lakukan. tapi setelah mendengar cerita dari istri anda, saya tak ingin Elvira menggunakan bayi itu untuk tujuannya. dan jika benar itu anak saya, maka saya akan lebih merasa tak terima." jelas Alvaro membuat Dewa menyimpulkan satu hal. yaitu Elvira memang sedang memanfaatkan situasi. dan entah kebetulan seperti apa yang membuat Dewa percaya jika Elvira sedang depresi karena kepergian Antoni.
"Lalu bagaimana sekarang, apa rencana Anda." tanya Dewa selanjutnya.
"Seperti kata istri tanda, saya akan datang untuk membawa Elvira pergi. setelah itu kalian bisa tenang."
Dewa mengangguk menyetujui.
"Baiklah, saya pergi dulu, dan terima kasih atas waktu anda." Alvaro bangkit dari duduknya lalu mengancingkan jas yang telah ia buka kancingnya untuk menyamankan duduknya.
Dewa mengantarkan Alvaro hingga keluar dari pintu ruangannya. lalu ia kembali menghampiri Cintya.
"Kita pergi sekarang?" tawarnya pada Cintya.
Mereka berdua beranjak dan.pergi kerah sakit seperti rencana.
Saat Ini, Dewa dan Cintya sedang berada di ruang dokter obgyn. Cintya sedikit cemberut karena Dewa nyata-nyata membohonginya.
Dengan serius mereka mendengarkan penjelasan dokter, dan tepat seperti dugaan Dewa bahwa Cintya sedang mengandung.
"Sekali lagi selamat, kalian akan memiliki banyak kebahagiaan."
Antar rasa bahagia dan sedikit takut Dewa memaksakan senyum. bahagia karena ia tak pernah menyesali benihnya berkembang. dan sedikit takut karena ia yakin akan mengalami hal yang sama dengan kehamilan yang pertama.
"Karena jarak kehamilan kedua ini terlalu dekat, saya harap anda menjaga ibu dengan baik." pesan Dokter pada mereka.
Setelah semua selesai, Dewa benar-benar menjalankan apa yang di ucapkan nya. membawa keluarga kecilnya jalan-jalan.
"Dewa," mendengar namanya di panggil, Dewa menoleh mendapati teman masa kuliahnya.
"Hai Josh, apa kabar?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Dewa, pria itu justru menatap Cintya. sedangkan Cintya sendiri tampak cuek.
"Dia istri lo?" tanya Josh, Dewa mengangguk.
"Sialan! kalah cepet gue sama lo!"
***
__ADS_1
Hayooo Dewa... ada saingan lo