
Ngapain takut, bini lo kan cantik. nooh buktinya!"
Alex menunjuk satu orang yang sedang duduk di samping Cintya. mereka tampak mengobrol santai dan akrab.
Dewa menajamkan matanya "Pria itu lagi!"
Dewa hendak menghidupkan mobilnya namun urung karena Alex mencegahnya.
"Mau ngapain lo?"
"Gue mau samperin mereka," ucap Dewa dengan nada emosi.
"Dan bikin nyonya ngamuk di sana?"
Dewa mendengus kesal. pegangannya padar setir mobil semakin mengerat dengan wajah mengeras.
"Lo itu udah berapa lama sih kenal nyonya?"
"Kenapa nanya itu?"
"Harusnya lo itu sadar dan lebih tau maunya Nyonya. bukan gak mungkin dia semakin berontak kalo dia lo larang-larang terus tapi lo sendiri yang bertindak sesuka lo!" sebuah nasihat tapi terdengar lebih pada tuduhan. Membuat Dewa merotasi kan kepalanya hingga kini ia berhadapan dengan Alex.
"Maksud lo apa sih?" ada nada tak mengerti dalam ucapan Dewa. tentu saja itu karena ia benar-benar tak menyadari kesalahannya.
"Lo bego apa bodo sih Wa?"
"Gak keduanya!" jawab Dewa malas tapi ketus.
"Lalu yang ini apa!" Alex menusuk-nusuk lengan Dewa dengan jari telunjuk nya.
Dewa membawa pandangannya pada apa yang di tunjuk oleh Alex. tapi ia masih tak mengerti. ia mengangkat wajah, melihat Alex dengan raut bertanya.
Alex memutar bola mata malas. kenapa bos cerdasnya ini mendadak bodoh.
"Ini juga." tunjuk nya pada Rambut Dewa.
Secepat kilat Dewa menyentuh rambutnya mengikuti Alex. "Apa sih Lex," dahinya berkerut dalam pertanda ada kebingungan yang tak di tutup-tutupi.
"Lalu ini yang gak bisa bohong." Alex mengendus aroma tubuh Dewa. cukup membuat Dewa risih. lalu ia mendorong wajah Alex dengan telapak tangan nya yang lebar.
"Risih gue bego!" Dewa memasang wajah jijik pada Alex.
"Dih, yang ada Nyonya yang makin jijik sama Lo!" masih tak mengerti dan seolah malas berpikir justru kini tangan Dewa yang terulur hendak menjambak Alex.
"Maksud lo apa sih muter-muter mulu dari tadi." Dewa gemes dengan tingkah Asistennya yang berteka-teki di saat suasana hatinya sedang tidak baik.
"Gue heran kenapa setelah lo keluar dari hotel, lo mendadak bloon gini."
Sekarang giliran Alex yang memasang wajah kesal karena Dewa yang masih tak mengerti dengan kode yang ia berikan.
"Gue bukan mentalis yang bisa baca pikiran orang!"
__ADS_1
"Ya sudah pergi sono ke OYa Koya, suruh dia baca pikiran bini lo. kalo gue sih gak perlu soalnya gue bukan manusia bego modelan elo yang gak ngerti kalo bini lagi ngambek lantaran mergoki lakinya masuk hotel sama wanita lain." tutur Alex panjang lebar yang seperti tamparan untuk Dewa.
Sekarang ia menyadari kemarahan Cintya karena apa. seketika itu Dewa merutuki kebodohannya. mana mungkin Cintya tak salah faham padanya sedangkan ia pergi pun tanpa pamit dan tak menceritakan apapun mengenai niat mendekati Elvira.
Dewa benar-benar mengutuk dirinya.
"Jadi Cinta marah karena itu?" tanya Dewa memastikan. lebih tepatnya mempertegas kebodohannya.
"Tau gue," jawab Alex ketus. "lagian ngapain sih lo maen sama wanita hamil, kayak gak mampu beli aja lo!" tuduh Alex tak tepat sasaran.
"Mulut lo comberan," Dewa meraup muka Alex. "lo kira gue sudi apa maen sama bekas." lanjutnya sambil menjambak rambut Alex. "gue kesana nemuin papa."
"Ya gue maupun Nyonya kan gak tau, salah elo sendiri gak cerita. tau-tau udah klimis wangi hotel lagi." seloroh Alex sambil merapikan rambutnya. "Gue masih tampan kan?" tanya-nya konyol sambil berkaca.
"Mau genitin sapa lo?"
"Nyonya dong," jawabnya enteng dan berhasil menarik tangan Dewa untuk lebih mengacak-acak rambutnya.
"Sialan lo! berani goda bini gue di saat gue masih hidup. langkahin dulu mayat gue!"
Dua orang dewasa saling berebut untuk menjambak dan menarik pakaian seperti anak.jecil yang berebut mainan.
"Gak peduli, pokoknya anak gue suka sama nyonya, mau apa lo!" tantang Alex dengan tampang tengilnya.
"Ngidam kerenan dikit napa Lex!" Dewa menyorot galak.
"Bilang aja sama orok di perut Cherry sono, gue aja gak bisa larang dia tidur sambil peluk foto elo!"
"Separah itu?" tanya Dewa tak percaya. Lebih tepatnya memastikan.
"Iya," jawab Alex malas. "benci gue liat tampang jelek lo tiap gue melek." wajah kesal Alex tak dapat di tutup-tutupi lagi.
"Yang penting gue ganteng Lex, pastinya anak lo juga ikutan ganteng nanti." jawaban Dewa semakin membuat Alex kesal. anggap saja mereka sedang berlomba siapa kiranya yang paling kesal dengan tingkah konyol istri-istri mereka.
"Dan yang paling penting Bule,"
Alex menyorot tajam, "Gue juga bule kalau elo lupa!" cercanya galak.
"Iya, Bule betawi kan?" Dewa mengakhiri ejekannya dengan tawanya yang khas.
Perdebatan kedua manusia itu sepertinya tak terhenti begitu saja, hingga mereka tak menyadari bahwa target yang sedang mereka awasi lepas dari pandangan.
"Wa, bini lo ngilang!" Alex yang menyadari terlebih dulu segera mengguncang nguncang lengan Dewa untuk memberi tahu.
"Kemana mereka Lex?" tanya Dewa tak kalah gusar.
Cepat-cepat ia menghidupkan mesin mobilnya meski tak tahu kemana arah perginya Cintya.
"Pria tadi siapa sih?" pertanyaan yang sangat terlambat.
"Gak tahu, seperti nya Cinta baru ketemu di rumah sakit tadi."
__ADS_1
Dewa menjalankan pelan mobilnya. sambil menengok ke arah jalanan. siapa tahu Cintya kehabisan bahan bakar. sungguh pemikiran yang sangat dangkal.
"Lo lagi pengen jadi supir odong-odong Wa?" tanya Alex karena merasa terbuai dengan cara Dewa mengemudikan mobilnya.
"Andong Lex biar santai kita mah." jawabnya tak kalah konyol.
"Ya sudah, gue tidur bentar. kalo sampai rumah lo bangunin gue."
"Lo kira gue supir lo!"
"Tadi lo yang bilang. lagian lo ini tengokin apa? bukannya cepet-cepet pulang nemuin bini."
"Kali aja Cinta pecah ban atau kehabisan bensin."
"Lama-lama lo makin konyol."
Dewa tak menghiraukan ocehan Alex. ia terus saja mengendarai mobilnya. hingga Alex benar-benar tertidur.
"Sialan! dia beneran tidur." umpat Dewa kesal. kurang ajar sekali asistennya itu sedang menikmati tidur sedangkan dirinya bertindak sebagai supir.
***
Dewa telah sampai di rumah. kakinya tergesa masuk ke rumah. ia harus menceritakan yang sebenarnya pada Cintya.
"Bi, Bibi,,,"
"Iya Den," Bibi tergopo keluar dari Dapur.
"Apa Cinta sudah pulang?"
"Tadi sudah Den, tapi pergi lagi."
"Sendiri?"
"Sama anak-anak."
"Fira mana?"
"Sepertinya ikut."
"Apa dia bilang mau kemana?"
"Enggak Den, tapi..." bibi ragu melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa bi!" desak Dewa tak sabar.
"Non Cinta membawa koper, sepertinya ia akan pergi lama."
"Apa!"
***
__ADS_1