
Tiga bulan berlalu baby junior bertumbuh dengan sehat dan normal, karena air susu Dikta kurang berlimpah, asupan susu untuk baby junior di tambah dari pemberian susu formula.
Dikta dan Steven sudah terbiasa dan paham bagaimana cara mengganti popok baby apabila basah karena kencing dan bila buang air besar, Dikta dan Steven juga sudah paham cara membuat susu.
Semua kegiatan itu mau tidak mau harus Dikta dan Steven mengerti dan bisa mengerjakan nya dengan baik dan cepat.
Karena Heni tidak mau terlalu memanjakan Steven dan Dikta, Lagi pula Steven dan Dikta adalah papa dan mama baby junior, baby junior harus mendapatkan kasih sayang dari papa dan mamanya bukan kasih sayang neneknya, sesekali dari kasih neneknya bolehlah, kasih sayang dari papa dan mama nya harus lebih diutamakan.
Bila baby junior merengek. Agar bisa dilakukan dengan baik, Dikta dan Steven berbagi tugas. Dikta bertugas pada siang, hari dan sore dalam mengasuh baby junior.
Karena Steven sibuk bekerja hingga siang, setelah pulang bekerja, Steven menyempatkan langsung beristirahat, agar bisa nanti malam mengasuh baby junior, karena Steven kebagian tugas pada malam hari hingga subuh jam 4.
Steven pun tidak apa-apa kebagian tugas malam, dalam mengasuh baby junior, walaupun Steven sudah lelah bekerja pagi hingga siang Steven ikhlas.
Karena setelah baby junior lahir, Steven sudah berubah menjadi kebapakan, Steven bertambah sayang kepada Dikta, Steven tidak melimpahkan semua tanggung jawab mengasuh baby junior ke Dikta.
"Dikta sudah lelah mengasuh baby junior pagi hingga sore, kapan istirahat nya" pikir Steven dalam hati, makanya Steven tidak keberatan mendapatkan giliran tugas malam hari hingga jam 4 subuh, maksudnya agar Steven 3 jam sebelum bangun pagi bisa beristirahat dengan baik.
Sabtu yang cerah, Steven kebetulan libur tidak ada kegiatan kantor.
Sambil duduk-duduk di sofa santai-santai karena habis sarapan.
Steven tiba-tiba menyarankan untuk jalan-jalan keluar rumah.
"Semua berkemas ya, hari ini kita mau jalan-jalan keluar" ucap Steven tiba-tiba dengan raut muka ceria.
"Hore, sekarang bang" ucap Dikta senang, karena momen ini hampir tidak pernah mereka lakukan.
"Mama dirumah aja ya" ucap Heni keberatan.
__ADS_1
"Gimana sih ma, momen ini untuk keluarga kita, bagaimana mungkin kami senang-senang di luar, sedangkan mama di rumah sendirian tidak mau ikut" Steven sedikit kecewa karena Heni menolak ikut.
"Iya ma, ikut dong ma, Dikta tidak pernah keluar, Dikta senang sekali bisa keluar" bujuk Dikta kepada Heni, Heni pun sadar, memang Dikta tidak pernah tahu dunia luar, akhirnya Heni mau diajak turut serta.
"Iya deh, mama ikut" ucap Heni dengan senyuman.
"Gitu dong ma" Dikta memeluk Heni dengan erat.
Setelah semua selesai berkemas, akhirnya mereka berangkat keluar, Steven sudah paham daerah mana yang akan di kunjungi, karena Steven sering mengerjakan proyek membangun mall. Steven sudah tahu lokasi dan tempat yang menyenangkan, Steven tergerak untuk mengajak keluarga jalan ke luar, karena sering melihat tingkah laku pengunjung yang membawa serta keluarganya, Steven merasa iri dan bertekad untuk melakukannya hal yang sama dengan keluarga kecilnya.
Steven punya prinsip, dulu keluarga nya sangat miskin, untuk kebutuhan makan saja sangat susah, sekarang setelah semua diraih, Kepuasan batin sangat perlu di lakukan, saatnya untuk membahagiakan keluarga.
Dikta dan Heni merasa tergiur masuk ke ruang pakaian, sepatu dan tas, semua terlihat begitu menggoda batinnya. Semua barang-barang yang dipajang terlihat sangat menawan. Steven memperhatikan gelagat Dikta dan Heni, ingin sekali bisa membelinya, tetapi niatnya sirna kala melihat harga yang tercantum pada bandrolnya.
"Udah, mana yang paling kalian suka ambil aja" ucap Steven senang kepada Dikta dan Heni.
"Iya boleh, ambil aja" Steven menyakinkan Dikta dan Heni.
Dengan penuh kebahagiaan dan senyum-senyum Dikta pun mondar mandir membandingkan barang-barang yang paling menarik menurut nya. Setelah merasa yakin pada pilihannya Dikta dan Heni pun memasukkan pada troli yang sedari tadi di dorongnya, karena baby junior di dudukkan pada troli tersebut.
Setelah lelah berkeliling mencari dan membeli beberapa barang, akhirnya mereka santai dan menikmati makan bersama di restoran terdekat. Semua tampak senang dan bahagia, bahkan baby junior pun bahagia tidak merengek sama sekali.
Mereka pun pulang dengan wajah penuh senyuman, karena telah mendapatkan barang-barang yang diinginkan. Seumur hidupnya Dikta dan Heni belum pernah merasakan momen indah seperti ini.
Ketika asik bermain hp di kamarnya, tiba-tiba Dikta memeluk Steven erat "Terimakasih ya bang, sudah perhatian sama aku".
"Iya tidak apa-apa, biasa aja kok" ucap Steven santai.
Keesokan harinya
__ADS_1
Diminggu pagi
Lagi lagi Steven membuat kejutan-kejutan kepada Dikta dan Heni.
Agaknya Steven sangat menikmati perannya sebagai kepala rumah tangga. Steven menyarankan agar Heni dan Dikta pergi ke salon.
"Mama dan Dikta pergi lah ke salon kecantikan, mau luluran wajah atau kulit terserahlah, mau perawatan rambut atau bleaciing wajah supaya terlihat putih terserah lah, tidak apa-apa sesekali kalian melakukan itu, aku tidak marah kok, malah mendukung kalian boleh melakukan itu, biar aku saja yang menjaga Baby junior di rumah, sekarang kan masih libur, tidak apa-apa sedikit menyenangkan diri" dukung Steven terus agar Dikta dan Heni mau pergi ke salon.
Dikta dan Heni saling tatap, bingung kenapa Steven tiba-tiba memaksa mereka melakukan itu.
" Kamu nggak lagi kesambet kan Steve" tanya Heni bingung belum yakin atas ucapan Steven yang menyuruh nya ke salon untuk perawatan.
"Nggak lah ma, Steven masih sadar 100%" sambil senyum-senyum, melihat tingkah laku Heni dan Dikta karena disuruh ke salon untuk perawatan.
"Mengapa kamu tiba-tiba memaksakan itu harus kami lakukan?" tanya Heni masih penasaran maksud dan tujuan Steven.
"Supaya mama dan Dikta, merasa rileks, fresh, dan selalu berbahagia, tidak bawaan marah atau emosional, Karena telah melakukan rutinitas yang itu-itu aja terus menerus seperti tidak ada henti-hentinya.
Kalian pun butuh refreshing, gitu loh ma maksudnya. Sudah deh jangan banyak tanya, coba lakukan aja apa yang Steven saranin, terus lihat perubahannya pada diri kalian, ada kah seperti yang kukatakan tadi?" ucap Steven menceramahi Heni dan Dikta.
"Sekarang buruan pergi kemas-kemas berangkat ke salon, nanti keburu aku berubah pikiran" ucap Steven tegas.
Heni dan Dikta pun segera bergegas pergi ke salon sesuai yang disarankan Steven. Karena dalam hati mereka pun sebenarnya ingin sekali melakukan itu, tetapi sedikit pura-pura bingung dan tidak percaya atas saran Steven.
Dengan penuh kegembiraan mereka izin pamit kepada Steven dan baby junior untuk segera pergi ke salon.
"Kami pergi dulu ya Steve!, da...da ..baby junior, ma..ma pergi dulu ya.." ucap Heni dan Dikta bergantian.
Mereka pun berangkat dengan naik sepeda motor dengan perasaan bingung dan tanda tanya "Mengapa Steven begitu ingin mereka ke salon untuk perawatan???"
__ADS_1