
Hari yang dinanti-nantikan Angelica tiba lah sudah, hari ini Angelica akan menikah dengan pujaan hatinya Steven. Seluruh jiwa raga telah dia serahkan kepada Steven termasuk kehormatan nya, hari ini adalah hari sahnya hubungan mereka sebagai suami-istri.
Angelica terlihat sangat cantik dan begitu juga Steven terlihat gagah dan tampan.
Dikta merasa iri dengan Angelica, "seharusnya aku yang berdiri disitu", ucapnya dalam hatinya,
begitu sakit dan terluka perasaan nya saat ini, tetapi bibir atasnya sedikit tersungging,
Dikta menyemangati dirinya" sebentar lagi kamu akan merasakan apa yang kurasakan saat ini Angel, Steven akan meninggalkan mu, kamu akan menangis sejadi-jadinya", Dikta tertawa dalam hatinya.
Para tamu mengucapkan"Selamat ya Steven, selamat ya Angelica, semoga kalian menjadi keluarga yang bahagia, cepat dikaruniai anak" ucap para tamu dan undangan dengan senyum ramah.
Begitu juga Angelica dan Steven mengucapkan "Terimakasih banyak Pak, Bu, atas kehadiran nya menghadiri pernikahan kami, semoga segala doa dan harapan yang bapak ibu berikan terkabul" balas Steven dan Angelica dengan senyum ramah.
Dikta sedikit genit-genit dan mesrah terhadap Steven ketika berpoto keluarga, tetapi agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi Angelica dan keluarga yang lain,
Steven berusaha menghindar dari Angelica, Heni pun berusaha membawa Dikta jauh-jauh dari Steven, takut Dikta akan berbuat yang tidak-tidak terhadap Angelica atau Steven, sehingga menimbulkan kegaduhan.
Steven dan Angelica sudah sah jadi suami istri, surat pernikahan secara resmi dan sah telah mereka terima, Steven segera menyimpan surat pernikahan sah itu dan segera memberikannya kepada Heni.
Hingga matahari tenggelam, barulah acaranya selesai di laksanakan, Dikta dan Heni segera berangkat ke Tanjung Karang, Steven dan Angelica berdua di rumah kontrakan yang baru mereka kontrak, 2 hari sebelum pernikahan mereka dilangsungkan.
Steven tidak mau melewatkan malam pertama mereka, keduanya sama-sama berhasrat, menggebu-gebu perasaan Steven dan Angelica saat ini, tidak sabar ingin segera mengulangi kenikmatan yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
Setelah sampai di rumah kontrakan mereka, seolah tidak sabar lagi atas hasrat yang tertahan, dari terakhir mereka melakukan hubungan suami-istri 4hari yang lalu.
Begitu sampai di rumah kontrakan mereka, pintu langsung dikunci,
__ADS_1
agar tidak ada orang yang menggangu.
Steven langsung menarik tangan Angelica, memeluk dan menciumi dengan begitu bernafsu, dan segera melucuti pakaian Angelica,
begitu juga Angelica langsung melucuti pakaian Steven, sehingga keduanya pun langsung berhubungan suami-istri.
Steven dan Angelica mungkin terlalu lelah dan capek mengurusi resepsi pernikahan mereka, Steven dan Angelica langsung tertidur lemas tanpa busana diatas ranjang empuk mereka.
Begitu tersadar dari tidurnya tanpa busana, Steven dan Angelica kembali mengulangi lagi adegan panas mereka, seperti membayar selama 3 tahun lebih mereka tidak ada komunikasi, seolah keduanya seperti, terus dan terus melakukan tanpa pandang waktu dan lelah.
***
Steven masih bersama dengan Angelica, Dikta sudah bolak-balik menelepon Steven untuk segera meninggalkan Angelica, tetapi Steven tidak bisa melakukannya sekarang.
Dikta menelepon Steven.
"Bang, segera tinggalkan Angelica, keluarga mu adalah di Tanjung Karang, ada istri dan kedua anakmu menunggu, kemarinkan kesepakatan nya setelah menikah dan memiliki surat sah pernikahan, Abang langsung meninggalkan Angelica, kenapa ini sudah 3 bulan Abang belum meninggalkan Angelica" tanya Dikta penuh Amarah dan rasa cemburu yang begitu mendalam
"Itu pasti akal-akalan nya Abang saja kan, sebenarnya Abang tidak ingin meninggalkan Angelica, Abang sudah mencintai Angelica kan?" Dikta semakin marah dan bicara dengan nada tinggi.
Steven tidak suka di Dikta marah -marah dengan suara tinggi, "Sudahlah kalau kamu tidak percaya, aku matikan telepon nya ya, aku lagi sibuk ini" Steven segera mematikan handphonenya.
Dikta geram dan makin marah, karena Steven mematikan handphone nya, dilempar nya segala yang ada di dekatnya untuk melampiaskan amarahnya.
"Aahhh" teriaknya sekencang kencangnya sambil melempar gelas kaca ke dinding.
Heni terkejut mendengar suara gaduh tersebut yang berasal dari kamar Dikta, Heni pun menghampiri Dikta di kamarnya, kamar Dikta berserakan, bantal, guling, seprei dan pakaian-pakaian dari lemari berserakan semua di lantai, Dikta emosi dan tidak terkendali karena Steven masih di Medan bersama Angelica.
__ADS_1
"Dikta, ada apa ini?, kenapa kamar mu seperti kapal pecah, apa yang sedang terjadi" teriak Heni sambil memeluk putrinya Dikta.
"Bang Steven ma, bang Steven masih di Medan bersama dengan Angelica, bukan kah kemarin mama menyuruh Steven langsung pulang?" ucap Dikta sambil menangis di pundak Heni, menumpahkan segala beban nya.
Heni pun tidak bisa berkata-kata lagi, antara membela Steven atau Dikta.
Seandainya pun Steven langsung balik ke Tanjung karang meninggalkan Angelica, pasti pihak Angelica akan marah dan menuntut Steven,
"Biarlah setahun menjalani rumah tangga dengan Angelica, setidaknya sudah bisa mencari-cari alasan, Angelica tidak bagus mengurus rumah tangga, atau Angelica dituduh selingkuh atau alasan yang bisa menjebak Angelica", pikir Heni dalam benaknya.
Tetapi tidak ingin Dikta kecewa, dan terlihat membela Steven, Heni mencoba menanyakan Dikta dengan lembut alasan Steven masih di Medan.
"Steven sendiri apa alasan nya masih terus di Medan?" tanya Heni ingin tahu.
"Bang Steven masih ada proyek, itupun kalau lancar dan aman paling lama 9bulan lagi selesai, kalau tidak lancar bisa 1 tahun lebih masih di Medan" ucap Dikta dengan penuh kekesalan.
"Ya sudahlah, kalau itu kata Steven" ucap Heni seadanya, Untung lah Heni tidak memberi tanggapan yang ada dalam benaknya, sesungguhnya Heni setuju Steven bersama Angelica setidaknya setahun, tetapi karena Steven masih ada proyek, alasan itu sudah cukup masuk akal, pikir Heni santai.
"Gimana sih ma, kenapa jadi mendukung bang Steven. Dikta tidak terima ma, bang Steven hidup dengan wanita lain, keluarga bang Steven itu disini, ada istri dan kedua anaknya" ucap Dikta tegas dan penuh emosi.
"Terus mama harus marah-marah kepada Steven dan membawa Steven dengan paksa balik ke sini?" ucap mama balik bertanya kepada Dikta.
"Harus seperti itu ma, sepertinya" ucap Dikta ngotot.
"Tetapi Steven masih ada proyek di Medan, bagaimana?, harus meninggalkan proyek itu?, kamu mau makan apa?" tanya Heni kesal.
"Biarkan saja Dikta tidak makan ma, asal bang Steven dekat dengan Dikta, Dikta tidak bisa hidup tanpa bang Steven ma" teriak Dikta sambil mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
"Sudahlah Dikta, tidak usah kita berdebat lagi, kamu sabar saja, pasti Steven akan balik ke rumah ini" ucap Heni menyemangati Dikta.
Dikta tetap saja tidak terima. Heni lantas meninggalkan Dikta sendirian di kamarnya.