
Angelica hamil, Steven panik, "Aduh bagaimana ini, bagaimana aku bisa meninggalkan Angelica, kalau Angelica sedang mengandung anak ku" , pikir Steven di benaknya dengan uring-uringan.
"Mengapa aku sebodoh ini, mengapa aku tidak memikirkan jauh ke depan, aahhhh" teriak Steven sambil mengacak-acak rambutnya.
"Apa yang harus kulakukan?, apa yang harus kukatakan kepada Dikta atau kepada mama?, apa Dikta bisa menerima aku berpoligami?.
Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh sangat memusingkan Steven dan hampir membuat kepala nya pecah, "tidak mungkin kedokku dapat tersimpan aman, pasti suatu saat akan terbongkar juga", pikirannya terus berkecambuk.
Steven bersikap dingin terhadap Angelica ketika tahu Angelica hamil.
Angelica mencoba mencari tahu alasan Steven menghindari Angelica.
"Sayang, kenapa ya akhir-akhir ini kamu banyak diam, diajak bicara selalu alasannya ingin tidur, diajak makan diluar, atau jalan-jalan keluar rumah juga tidak mau, sebenarnya kamu kenapa sih, yang?" tanya Angelica ingin tahu.
"Tidak ada, aku hanya ingin istirahat saja, capek di proyek seharian" jawab Steven seadanya.
"Sayang, kenapa tidak suka aku hamil?, sepertinya memang gara-gara aku hamil kan, makanya kamu mengindari aku!" tanya Angelica ketus dan penuh jujur.
Steven bingung tidak tahu harus menjawab apa, bukannya tidak suka Angelica hamil benih dari nya,
tetapi tujuannya mengawini Angelica hanya mengambil surat pernikahan resmi, hanya itu, bukan untuk hidup bersama Angelica selama nya, Steven punya 2 org anak dan Dikta, istrinya.
Steven buru-buru mencari jawaban, agar Angelica tidak semakin banyak bertanya dan marah.
"Sayang, bukannya aku tidak setuju kamu hamil, ini kan aku proyeknya tidak tahu ke daerah mana, terkadang ke Kalimantan daerah terpencil sekali, kalau kita ada anak, repot membawa anak, apa kamu mau kutinggal pergi?" Steven mencari-cari alasan.
Angelica terdiam, "Iya juga ya", pikirnya dalam hati nya .
Tetapi Angelica pengen sekali punya anak, "anak adalah tanda bukti cinta mereka" Angelica sedih.
"Jadi apa yang harus aku lakukan sayang?, jangan katakan kalau kamu ingin menggugurkan anak ini!" ucap Angelica nada mengancam.
__ADS_1
Angelica tahu pikiran Steven, Steven gelagapan. Steven berusaha tenang dan pelan-pelan memberi pengarahan dan gambaran kepada Angelica.
"Begini sayang, bagaimana kalau sekarang kita gugurkan dulu bayi itu, setahun lagi, boleh kita pikirkan lagi." Steven memberi solusi.
"Tega sekali kamu, anak ini darah daging kamu sayang, anak itu rezeki, harusnya kamu bersyukur aku bisa hamil,
diluar sana banyak pasangan suami-istri ingin mengadopsi anak, program bayi tabung untuk mendapatkan anak, kamu malah ingin menggugurkan nya, aku tidak mau sayang, aku akan tetap mempertahankan bayi ini" Angelica ngotot, kesal dan meninggalkan Steven.
"Sayang dengar dulu penjelasan ku" bujuk Steven membujuk Angelica dan berusaha mengejar Angelica dan memberi pandangan.
"Jangan dilanjutkan lagi Steven, apapun alasan kamu, aku tidak akan menggugurkan bayi ini, sekalipun kamu akan menceraikan aku, gara-gara bayi ini" ucap Angelica penuh emosi.
Steven tersentak mendengar pernyataan Angelica barusan, "Oh, baiklah itu adalah solusinya, aku akan menceraikan Angelica bila aku ngotot menggugurkan bayi ini", Steven senang merasa sudah mendapatkan solusinya,
tetapi tiba-tiba Steven berpikir, "Tapi aku bisa dipenjara nanti, kalau aku memaksa Angelica menggugurkan bayinya,
kalau Steven meninggalkan Angelica begitu saja, pasti Angelica akan menuntutnya juga karena ada anak buah perkawinan mereka, Ahhh" Steven berteriak karena pusing memikirkan masalah nya.
Sudahlah, "Biarkan saja lah berjalan sesuai air mengalir saja, artinya biarkanlah Angelica tetap hamil, kehidupan rumah tangganya dengan Angelica berjalan seperti biasanya saja, nanti bila waktu nya aku selesai proyek, aku akan meninggalkan Angelica" pikir Steven penuh kemenangan.
"Maafkan aku sayang, aku khilaf, aku kehilangan akal sehat ku, aku senang kok kamu hamil, baiklah, janin yang ada dalam kandungan mu rawat dan jaga baik-baik, itu adalah buah cinta kita" Steven basa-basi, dan pura-pura peduli terhadap Angelica.
Angelica pun luluh dan senang, Steven sudah menyadari kesalahannya.
"Sayang, aku lapar banget, buatin sarapan dong" rayu Steven kepada Angelica, agar Angelica tidak kepikiran lagi kata-kata kasar Steven.
"Baiklah sayang" Angelica pamit meninggalkan Steven langsung menuju dapur, untuk membuat sarapan pagi.
Hubungan Angelica dan Steven berjalan baik-baik saja sebagaimana biasanya, Steven senantiasa menunjukkan perhatiannya dan kemesraan nya dihadapan Angelica.
***
__ADS_1
Suasana di Tanjung Karang.
Dikta kesal Steven belum juga balik ke Tanjung Karang.
Sekarang Kenzo sudah berumur hampir 3 tahun, seharusnya seumuran Kenzo sudah bisa bicara, tetapi Kenzo belum bisa bicara.
Dikta dan Heni membawa Kenzo berobat ke rumah sakit spesialis anak, Dokter memberikan pengarahan-pengarahan.
"Dok, apa yang terjadi pada anak saya?, Mengapa anak saya sudah hampir 3 tahun tidak bisa bicara?, Apakah anak saya masih bisa sembuh?.
"Bu, keterlambatan bicara bisa disembuhkan bila ada perhatian yang sungguh-sungguh dari lingkungan sekitar untuk menstimulasi perkembangannya, ajak berbicara dua arah, anak jangan asik bermain hp sendiri dan menonton sendiri, tetapi bila usianya sudah menginjak 5 tahun masih saja tidak jelas bicara, mungkin anak ibu menderita keterbelakangan mental" ucap dokter spesialis ramah.
"Bagaimana keseharian anak ibu" dokter spesialis anak balik bertanya.
"Sikapnya kadang tidak terkendali, sering tidak berpikir logis, berteriak dan marah sejadi-jadinya, memukul-mukul dirinya, dan suka memaksakan kehendaknya" Dikta menjelaskan perilaku Kenzo sehari-harinya.
Mendengar penjelasan Dikta, dokter spesialis mengambil kesimpulan bahwa Kenzo menderita keterbelakangan mental.
Dokter spesialis anak bingung bagaimana menyampaikan nya kepada Dikta, karena takut Dikta marah dan tersinggung.
Dokter menarik nafas panjang berusaha berbicara pelan dan lembut, "Bu, maaf sebelumnya saya tidak bermaksud menyinggung perasaan ibu, anak ibu Kenzo, sepertinya menderita keterbelakangan mental" ucap dokter anak pelan dan lembut.
Bagai disambar petir perasaan Dikta saat ini, apalagi saat ini Steven tidak berada di dekatnya, masalah ini terasa berat untuk dipikulnya sendiri, Dikta menangis " Apa yang menyebabkan itu bisa terjadi" tanya Dikta kepada dokter.
"Itu terjadi karena kelainan genetik Bu" jawab dokter tegas.
Dikta diam saja, "apa yang harus saya lakukan dok?" Dikta menangis.
"Ibu bisa berikan terapi-terapi berbicara, terapi gerakan-gerakan, dan mengendalikan emosinya, tetapi kepulihan nya hanya sedikit, hanya sebatas untuk mengendalikan amarahnya saja, bukan pulih total seperti anak normal biasanya" dokter spesialis menjelaskan panjang lebar.
Dikta menangis, hanya bisa pasrah, Dikta tertunduk diam.
__ADS_1
"Baiklah dokter, kami permisi dulu ya, terimakasih banyak dok" Dikta dan Heni pamit meninggalkan ruangan dokter spesialis anak.
Dikta tidak tahu harus bagaimana, saat ini Dikta sangat kalut, tidak menyangka anaknya menderita keterbelakangan mental.