
Kondisi Dikta sering mengurung diri dalam kamar. Heni khawatir Dikta akan berbuat yang tidak-tidak. Bagaimana pun bejat nya Dikta. Heni sebagai ibu kandungnya Dikta, masih mempunyai naluri keibuan. Tidak mengharapkan anaknya menderita apalagi meninggal dunia.
Heni mencoba mengetuk kamar Dikta, ingin mengecek kondisi Dikta.
tok....tok...tok...
Heni mencoba mengetuk dan membuka pintu, ternyata pintu kamar dikunci dari dalam.
"Dikta.... Dikta... buka pintunya dong sayang, jangan membuat mama khawatir dong", Heni terus memanggil-manggil Dikta.
Tetap saja Dikta tidak membuka pintu. Lantas kembali Heni mencoba mengetuk lagi tok....tok...
"Dikta... Buka dong pintunya... Dikta...", Heni terus berteriak lebih kencang dari sebelumnya.
Dikta pun membuka pintu
krek....pintu dibuka
"Ada apa ma", Dikta bertanya sambil mengucek-ngucek matanya.
"Mama sangat mengkhawatirkan kamu, nak!. Kamu tidak apa-apa kan?", tanya Heni dengan penuh kecemasan.
"Barusan Dikta tidur ma, tidak dengar mama mengetuk pintu, setelah mama berteriak kencang dan mengetuk pintu dengan keras, barulah Dikta sadar dan membuka pintu", ucap Dikta santai padahal Heni jantungnya hampir copot, tahu Dikta tidak membuka pintu.
"Duh, mama pikir kamu mencoba bunuh diri. Jantung mama masih lemes ni, kamu itu, senang banget membuat mama khawatir", Heni kesal Dikta lama membuka pintu kamar nya.
"Apaan sih, ma. Mikir kok segitunya. Dikta masih waras ma, tidak mau bunuh diri. Dikta mau merubah hidup Dikta, Dikta mau hidup normal seperti orang-orang, mempunyai keluarga. Pasangan suami-istri yang harmonis dan mempunyai anak yang lucu-lucu dan ceria", Dikta protes dan mengungkapkan keinginannya dengan penuh semangat dan keyakinan.
"Syukurlah Dikta kamu sudah sadar. Tadinya mama cemas, apa kah kamu akan terus mengurung diri di kamar?. Tidak maukah kamu melihat dunia luar?. Tidak punya kah kamu keinginan untuk bergaul dan mencari pasangan hidup di luar sana?.
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu bergejolak dipikiran mama. Sekarang untunglah kamu sudah menyadarinya dan mau memperbaiki hidup.
Kalau kamu bertobat mendekat kan diri pada Tuhan, pasti Tuhan akan senang umatnya kembali kepadaNya.
Selain itu Tuhan pasti akan mengabulkan keinginan umatnya bila di minta dengan tulus sambil mau mengakui segala dosa dan kesalahannya. Kamu mau kan nak, melakukannya?", Heni memohon kepada Dikta.
"Iya, ma. Dikta mau", ucap Dikta sambil mengangguk-angguk kepalanya.
__ADS_1
"Benarkah kamu tidak mengharapkan Steven lagi, menjadi suamimu?", tanya Heni penasaran.
"Benar ma, Dikta ingin memperbaiki hubungan kakak beradik yang dulu pernah Dikta rasakan, Bang Steven yang peduli dan perhatian kepada Dikta", ucap Dikta berharap.
"Ternyata benar, kamu sudah berubah dan menjadi dewasa. Syukurlah lah mama senang melihat perubahan kamu.
Mama pun berharap kamu segera mendapatkan jodoh. Begitupun Steven mudah-mudahan cepat mendapatkan jodoh, karena mama juga ingin menimang cucu dan bermain bersama cucu ketika dihari tua mama nanti", Heni sangat berharap.
"Kenapa harus mencari jodoh lagi, ma, untuk Bang Steven?, Bang Steven kita suruh saja rujuk kepada Angelica, toh Angelica sudah mempunyai anak dari darah Bang Steven", Dikta menyarankan.
"Kamu benar Dikta, Toh Steven sudah nikah sah dan kita tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan cucu.
Angelica juga tidak menuntut Steven dan melapor ke polisi atas kasus perzinahan. Selain itu, Angelica juga belum melayangkan surat cerai untuk Steven. Baiklah kita cepat-cepat mengusulkan rencana ini kepada Bang Steven sebelum terlambat", Heni mendukung usul Dikta.
"Ayo ma, telpon Bang Steven ma, suruh datang ke mari, agar kita boleh menyarankan dan menyuruh Bang Steven segera rujuk kepada Angelica", Dikta terus mendesak Heni.
Heni pun mencoba menelepon Steven. Tut...Tut...Tut...
"Halo, ma!. Ada ada menelepon Steven?", Steven bertanya di ujung telepon.
" Ada yang ingin mama sampaikan, hal yang sangat penting, tetapi agar lebih enak bicaranya, kamu datanglah ke rumah.
"Membicarakan hal penting apa sih, ma!. Membuat Steven jadi penasaran saja.
Apa tidak boleh dibicarakan melalui telepon saja. biar cepat selesai dan tidak menimbulkan rasa penasaran", Steven mendesak Heni agar bicara melalui telepon saja.
"Tidak bisa Steve, kamu datanglah dulu ke rumah. Lagian kamu apa tidak ingin ketemu dengan mama. Sebentar ketemu dengan mama saja, protesnya banyak banget", Heni sedikit kesal dan pura-pura marah, agar Steven takut dan menuruti Heni.
"Ok ma, Steven tidak bisa menjanjikan berapa menit lagi Steven tiba di rumah. Karena Steven masih mempunyai urusan penting yang harus lebih dahulu Steven kerjakan.
Yang pasti Steven tetap usahakan lah untuk mampir nanti ke rumah", Steven menyakinkan Heni.
"Ok, mama tungggu kedatangan kamu", Heni senang dan bersemangat.
****
Setelah Hampir 2 jam kemudian setelah di hubungi Heni, akhirnya Steven tiba di rumah dengan membawa serta Willi, teman kosannya.
__ADS_1
"Maaf ma, Steven membawa serta Willi, karena Willi adalah teman satu kerjaan dan sekaligus teman kosan Steven.
Waktu mama telepon tadi, aku dan Willi masih melakukan pekerjaan proyek, setelah selesai kami langsung datang ke rumah. a sudah, Steven ajak saja.
Toh nanti pulang kan kita balik ke tempat Yang sama. Tenang saja, ma. Willi ini beda dari teman Steven yang lain, Willi sudah menjadi sahabat. Yang selalu pengertian dan suka memberikan support dan dukungan kepada Steven. Baik dalam suka maupun duka", Steven memuji Willi.
"Tidak apa-apa", Heni sedikit kecewa.
"Tidak apa-apa ma, semua permasalahan Steven pun Willi sudah tahu. Mama mau ngomongin hal penting apa sih?", Steven penasaran.
Dikta datang menghampiri pembicaraan Steven dan Heni di ruang tamu, begitu tahu Steven sudah datang menemui Heni.
Dikta duduk di salah satu kursi tamu sebelumnya menyalam Willi dan memperkenalkan dirinya "Dikta", dengan ramah dan tersenyum lebar dan langsung duduk.
Willi pun langsung membalas, "Willi", sambil tersenyum menjabat tangan Dikta.
"Begini Steve, mama dan Dikta bermaksud menyarankan kepada mu. Untuk segera rujuk lah dengan Angelica sebelum terlambat.
Nanti Angelica pasti akan menggugat cerai kamu karena tidak mau merasa di gantung status pernikahan nya.
Sebelum ada pria lain yang akan melamar Angelica menjadi istrinya. Atau sebaliknya merasa sakit hatinya belum hilang, Angelica akan melaporkan kan kamu ke polisi.
Ayolah lakukan apa yang mama sarankan sebelum terlambat. Mama juga mau, kalau memang mama disuruh datang menemui Angelica untuk membujuknya", Heni memohon.
Steven diam dan menatap Dikta dan Willi, dalam hati Steven apa tidak masalah nanti telah membuat perasaan Dikta kecewa dan cemburu. Dikta agaknya mengerti apa yang menjadi kekhawatiran nya langsung memotong pembicaraan.
"Benar apa kata mama, Bang!, Abang harus melakukannya cepat sebelum terlambat.
Dikta tidak apa-apa kok bang. Dikta sudah tidak menginginkan Abang sebagai suami Dikta. Kita harus memperbaiki hubungan kakak beradik kita, Dikta berharap Abang bersikap seperti biasa. Abang yang selalu peduli dan pengertian sama Dikta.
Dikta ingin hidup normal bang. Nantinya bisa menemukan jodoh yang baik dan pengertian sama Dikta", Dikta menyakinkan Steven dan mengungkapkan harapannya.
Steven pun senang mendengar tanggapan Dikta dan mendukungnya.
"Kalau mama dan Dikta mendukung Steven. Steven akan segera melakukan apa yang mama perintahkan, dan segera berangkat menemui Angelica", Steven bersemangat dan tersenyum lebar.
"Benar banget itu Steve, kamu harus cepat bergerak sebelum terlambat", Willi juga memberi support dan mendukung Steven.
__ADS_1
Setelah pembicaraan mereka selesai mereka pun langsung makan bersama di meja makan. Tidak ada lagi perasaan canggung terhadap Willi.
Willi cepat kompak kepada Heni dan Dikta. Mereka sesekali tertawa dan saling menanyakan mengenai status pernikahan, pekerjaan dan mengenai keluarga Willi. Willi menjawab dengan senang dan terbuka.