
Tahu warga nya ada yang menikah sedarah atau menikah dengan saudara kandungnya sendiri dan tinggal di daerah yang masih dalam lingkup jangkauan dari Kelurahan Indra Kasih.
Pak Beni segera melapor kepada Kepala Lurah, yang kebetulan sudah datang dan sedang berada di ruangannya. Pak Beni dan Angelica menemui Pak Lurah.
Tok...tok...tok...
pintu diketuk
"Silahkan masuk", sapa suara dari dalam ruangan.
"Selamat pagi, Pak", sapa Pak Beni dengan hormat masuk sambil menundukkan kepalanya diikuti Angelica dari belakang.
"Iya selamat pagi, silahkan duduk", Angelica dan Pak Beni segera duduk setelah dipersilahkan Pak Beni.
"Begini Pak ada satu warga kita yang tinggal di lingkup jangkauan dari Kelurahan Indra Kasih ini, yang telah melakukan pernikahan sedarah atau menikah dengan saudara kandungnya sendiri", ucap Pak Beni mengawali pembicaraan mereka.
"Apa Iya!", Pak Lurah terkejut.
"Tinggal di mana keluarga tersebut?", tanya Pak Lurah menambahi.
"Keluarga itu tinggal di Jalan Soetomo Gang Sopoyono 34", Pak Beni memberitahu.
"Gang Sopoyono?, Padahal itu hampir dekat rumah saya tinggal, Mengapa saya tidak tahu dan tidak pernah dengar?", Pak Lurah terkejut.
"Memang sebelumnya belum terungkap statusnya, Mereka memberi Kartu Keluarga sesuai dengan prosedur kelengkapan berkas.
Surat nikah yang mereka serahkan adalah surat nikah dari pernikahan Ibu Angelica dan Steven, agar mereka bisa tinggal di kampung ini", Pak Beni memperkenalkan Angelica sebagai istri Steven sah.
"Wah, seharusnya perkawinan itu harus dibatalkan. Tidak diperkenankan tetap melakukan hubungan yang sedarah. Karena telah mencemari prinsip Norma agama sendiri, dibawah naungan azas daripada Pancasila sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
Di dalam Undang-Undang tidak diperkenankan atau di perbolehkan melakukan hubungan sedarah atau hubungan kandung.
Pernikahan itu harus dibatalkan apabila ada sudah terlanjur melakukannya dengan sengaja atau diam-diam", Pak Lurah menjelaskan secara mendetail.
Pak Beni dan Angelica hanya manggut-manggut tanda mendukung penjelasan dari Pak Lurah.
"Jadi Bagaimana rencana selanjutnya, Pak", tanya Pak Beni.
"Sekarang kalian mendatangi warga tersebut ke tempat kediamannya. Tentunya kamu tidak sendiri, bawa beberapa orang dari kantor Lurah ini.
Saya permisi tidak bisa ikut, karena ada kepentingan mau pergi ke kantor Camat. Saya hanya bisa memberikan surat tugas, agar warga tersebut taat peraturan yang kita perintah kan", ucap Pak Lurah tegas.
Akhirnya Angelica dan Pak Beni pun berangkat meninggalkan Kantor Lurah hendak menuju kediaman Steven.
Pak Beni tidak sendiri, dibawa serta pegawai pemerintah yang ada di kantor itu. Tentunya setelah mendapatkan persetujuan dari kepala Lurah.
Rombongan dari pegawai kantor Lurah pun akhirnya berangkat menuju kediaman Steven dengan memakai mobil dinas.
"Bu Angelica!, Bagaimana kalau ibu sementara sembunyi dulu di rumah tetangga Pak Steven, artinya Ibu jangan dulu bersamaan masuknya dengan kami.
Ibu masuk nanti setelah kami suruh datang. Takut Ibu Dikta atau Ibu Heni, geram dan marah melihat ibu, langsung di Jambak atau langsung bertengkar hebat.
__ADS_1
Tahu kedok mereka terbongkar karena informasi dari ibu", Pak Beni menyarankan.
"Baiklah kalau begitu, Pak", Angelica menyetujui saran dari pak Beni.
Angelica pun sementara waktu sembunyi di rumah pak Dedi, pemilik warung penjual sarapan pagi.
Tidak beberapa lama Sampailah Orang dari Kepala Lurah di tempat kediaman Steven.
tok...tok ..tok...
Pintu di ketuk
Tidak ada sahutan dari dalam rumah.
Kembali pintu di ketuk
Tok...tok..tok...
"Pak Steven...Pak Steven buka pintunya, Pak!", ucap Pak Beni sambil mengetuk pintu.
Dikta dan Heni mengintip dari balik gorden jendela depan dengan ketakutan karena ada banyak rombongan petugas dari kantor Lurah memakai baju dinas.
Lama pintu tidak di buka.
Pak Beni terus mengetuk "Pak Steven... Pak Steven...buka pintunya Pak, kalau tidak dibuka kami akan mendobrak paksa", ancam pak Beni.
Melihat orang-orang berbaju dinas datang ke rumah kediaman Steven, para warga pun penasaran dan ingin tahu, dan segera datang berbondong-bondong ke rumah kediaman Steven.
Segera dipanggil Steven dari kamarnya. Kebetulan hari ini Steven bekerja dari rumah, karena merasa pusing dan tidak bersemangat ke kantor karena Angelica telah datang menemuinya.
Steven berfirasat, bahwa warga dan petugas dari kantor Lurah pasti datang ke rumahnya, akibat laporan dari Angelica. Steven sudah memikirkan berbagai macam akibatnya, dan pasti akan diusir dari kampung ini. Steven berusaha memikirkan kemana mereka akan tinggal.
Belum lama Steven memikirkan berbagai macam akibatnya, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dan Dikta masuk dengan memaksa dan merasa ketakutan.
"Bang, ada warga ramai dengan para pegawai dari kantor Lurah di depan rumah, berusaha masuk dan memaksa untuk mendobrak pintu bila kita tidak membuka kan pintu", ucap Dikta ketakutan.
Steven terkejut dan terperanjat dari tempat duduknya, "Betul sesuai firasat yang barusan dipikirkan nya", gumamnya dalam hati.
Akhirnya Steven berjalan ke arah pintu bermaksud untuk membukakan pintu bagi para pegawai kantor Lurah yang telah datang ke rumah nya.
Steven pasrah tidak bisa menghindar lagi. Steven membuka pintu.
"Ada apa, Pak!", tanya Steven pura-pura tidak tahu maksud dan tujuan para pegawai kantor lurah.
"Silahkan masuk dulu Pak, mari bicara di dalam rumah saja biar enak dan tenang, sehingga tidak penuh emosi dan amarah", ucap Steven menambahi dan memohon.
Para pegawai kantor Lurah pun segera masuk ke dalam rumah.
Warga yang datang berbondong-bondong karena melihat banyak pegawai dari kantor lurah mendatangi kediaman Steven, di suruh bubar.
Biarlah ini merupakan urusan antara keluarga Steven dan pegawai dari kantor Lurah, tidak perlu disebarluaskan kemana-mana.
__ADS_1
"Silahkan duduk Pak, Bu", Steven mempersilahkan para pegawai dari kantor lurah.
"Begini, Pak Steven!, kami mendapat informasi, bahwa Pak Steven dan Bu Dikta melakukan pernikahan terlarang, menikah dengan saudara kandung", Pak Beni mengawali pembicaraan nya.
Steven antara ingin jujur atau tidak jujur mengatakan kepada para pegawai kantor Lurah.
"Baiklah mengatakan hal yang sebenarnya, kalau mengatakan yang sebenarnya mungkin akan mendapatkan keringanan daripada berkelit.
Nantinya bisa menimbulkan kemarahan dari para pegawai kantor lurah.
Tidak mungkin mereka tahu kalau bukan Angelica yang memberitahukan. Iya, pasti Angelica yang telah memberitahukan semuanya", pikir Steven dalam hatinya.
Steven pun mengatakan dan mengakui yang sebenarnya.
"Iya benar pak, sebelumnya kami minta maaf Pak, pernikahan sedarah ini harusnya tidak terjadi.
Kami khilaf telah melakukan hubungan suami-istri tanpa memikirkan akibat ke depannya.
Kami terlalu menuruti hawa nafsu kami, beberapa kali melakukan hubungan suami-istri. Tidak kami pikirkan sebelum nya Dikta pun hamil.
Takut aib kami terbongkar. Kami pindah ke kampung ini dan mengatakan kepada warga bahwa kami adalah pasangan suami-istri", Steven mengakui perbuatannya sambil bersujud minta maaf di kaki Pak Beni disusul Dikta, duduk sujud di samping Steven.
Heni hanya tertunduk diam pasrah, sesungguhnya Heni ingin hidup normal keluar dari hidup yang penuh kebohongan, tetapi tidak tahu penyelesaian nya. "Mungkin ini adalah penyelesaian nya", pikir Heni dalam benaknya. Pasrah menerima sanksi yang akan diberikan kepada mereka.
"Saya juga minta maaf, Pak!. Saya sudah gagal menjadi ibu yang baik buat anak-anak saya.
Malah mendukung pernikahan sedarah ini. Sesungguh saya juga tidak tahu anak saya melakukan hubungan suami-istri.
Mengetahui Dikta, putri saya hamil, saya panik dan tidak tahu harus berbuat apa-apa.
Kandungan Dikta sudah berusaha digugurkan nya. Saya memikirkan nyawa anak saya yang kondisinya sudah lemah saat itu karena minum obat-obatan dan berbagai ramuan untuk menggugurkan kandungannya.
Saya akhirnya menyuruh anak-anak pindah ke kampung ini dan mengatakan kepada warga, bahwa Dikta dan Steven adalah pasangan suami-istri, agar di izinkan tinggal di kampung ini", Heni mengakui semuanya.
Pak Beni melihat, bahwa pak Steven, Dikta dan Heni telah mengakui perbuatannya. "Mungkin kalau saya sebagai ayah, diposisikan terhadap posisi Ibu Heni.
Saya akan mengusir anak perempuan saya bila harus tetap mengurus anak yang dilahirkan dari hubungan sedarah", pikir Pak Beni dalam hatinya.
"Sebagai orang tua yang baik. anak-anak harus diajarkan ilmu agama agar tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik, mereka tahu yang mana yang harus dilakukan dan yang tidak bisa dilakukan. Sehingga tidak mencoreng muka bagi keluarganya", pikir Pak Beni menambahi.
Tidak mungkin Pak Beni menasihati Bu Heni mengenai prinsip itu, pastinya Ibu Heni sudah mengetahuinya. Lagian Pak Beni posisinya disini sebagai pegawai kantor lurah bukan tokoh agama.
Secara administrasi pernikahan Steven dan Angelica sah adanya. Pak Steven tidak ada memalsukan data untuk melengkapi berkas pengurusan kartu keluarga.
Artinya Steven telah bersalah dan menipu pihak Angelica. Dalam hal ini pihak Angelica yang dirugikan dan Pak Steven di harapkan bertanggung jawab dan menyelesaikan perkaranya dengan Bu Angelica.
Pak Beni pun segera memanggil Angelica melalui panggilan handphone, agar Angelica datang ke rumah Steven.
Tidak perlu kasus ini di perluas mengingat keluarga Steven selalu ramah dan baik ke warga setempat.
Sebagai warga yang baik, keluarga Steven juga menjalankan kewajiban nya dengan baik juga. Dan Pak Steven juga sudah mengakui dan meminta maaf atas segala kehilafannya, artinya Pak Steven koorporatif tidak mempersulit petugas.
__ADS_1