
Angelica merasa senang dan bahagia sudah bisa menghubungi Steven, tidak terkira kebahagiaan Angelica saat ini, bangun pagi-pagi sekali, biasanya Angelica malas dan tidak bersemangat untuk bangun pagi, hampir setiap hari Angelica terlambat pergi ke sekolah.
Tetapi kali ini Angelica sebelum jam 06:00 sudah mandi ingin siap-siap pergi ke sekolah, di kamar mandi Angelica bernyanyi dengan penuh semangat.
Veni dan Linda merasa sangat khawatir, pikirnya Angelica sudah depresi tidak terkendali karena tidak ada hubungan kontak lagi dengan Steven.
"Pagi Angel, seperti nya hatimu lagi berbunga-bunga hari ini, mandi saja, harus bernyanyi, biasanya kamu malah malas mandi, jangankan untuk mandi, makan pagi saja tidak sempat, karena selalu terlambat bangun pagi, ada apa sih, kayaknya suasana hati kamu lagi bahagia banget kali ini? tanya Veni penasaran dan sangat ingin tahu alasan Angelica begitu bahagia saat ini.
"Kakak benar, hatiku bahagia banget saat ini, bahkan sangat dan sangat" ucap Angelica berlebihan.
"Iya kakak tahu, kenapa kamu begitu bahagia"? ucap Veni sedikit jengkel.
"Ayo tebak kak, karena apa coba aku bahagia hari ini" Angelica semakin berbelit-belit malah balik bertanya.
"Aduh, pusing kakak melihat kamu, berbelit-belit, malah balik bertanya, ya kakak tidak tahu lah, kamu bahagia karena apa, kan kamu belum kasih tahu kakak" ucap Veni kesal, pikirnya Angelica sudah kehilangan akal.
"Oh iya ya, a..aku bahagia karena Steven sudah menghubungi aku kak,
semalam Steven menelepon aku dan mengatakan kalau dia kangen sekali kepada ku, begitu juga aku.
Kami saling melepas rindu melalui telepon.
Yang paling membuat aku bahagia, mungkin Steven akan ada proyek lagi di Medan, pastinya kami akan sering bertemu.
Benar kan kak feeling aku, aku yakin dan percaya Steven tidak akan bohong padaku, walaupun kami sudah pacaran 3 tahun dan jarak jauh, pasti Steven akan setia dan mengingat aku" ucap Angelica yakin dan begitu antusias.
"Syukurlah, kakak turut senang, melihat kalian bisa bersama lagi, kakak pikir kamu tadi sudah depresi, ketawa-ketawa sendiri" ucap Veni meledek Angelica.
"Apaan sih kak, segitu banget mikirnya" Angelica kesal dikira gila oleh Veni.
"Habis, Sebelum nya kamu tidak pernah sesenang ini, serajin ini, bahkan bangun lebih awal. biasanya juga selalu terlambat ke sekolah setiap pagi" ucap Veni jujur.
__ADS_1
"Sekarang kakak percaya kan sama aku" tanya Angelica balik.
"Iya deh, syukurlah kalian bisa bersama lagi, kakak turut senang atas kebahagiaan mu, mudah-mudahan Steven ada proyek di Medan, dan Steven bisa melamar kamu" Veni mendukung Angelica.
"Kakak mau dilangkahi"?tanya Angelica bingung.
"Tidak apa-apa, asal kamu bahagia, kakak rela dilangkahi" ucap Veni pasrah.
Veni dan Angelica pun saling berpelukan, Angelica senang kakaknya begitu pengertian, sebaliknya Veni pun bahagia melihat Angelica kembali tersenyum, riang dan gembira, Veni tidak ingin Angelica disakiti oleh Steven.
"Mudah-mudahan ya kak, Steven secepatnya melamar aku" harap Angelica.
"Amin" balas Veni.
Veni dan Angelica pun kembali melakukan aktifitas nya, Angelica berangkat ke sekolah begitu juga Veni pergi bekerja sebagai administrasi di perusahaan swasta bergerak dibidang penjualan alat-alat kesehatan.
*****
.Steven tahu kalau jam segini, Angelica sudah pulang dari sekolah dan sedang berada di rumah. Steven menelepon Angelica.
"Hai sayang" sapanya dengan semangat.
"Hai juga sayang, kok cepat banget ngangkat nya, lagi ngapain"? tanya Steven pelan.
"Lagi tunggu telepon kamu" jawab Angelica penuh canda.
Steven pun tertawa mendengar jawaban Angelica, Steven bisa membayangkan raut muka Angelica seperti apa, Angelica memang orangnya penuh keceriaan, dan sangat lugu, puji Steven dibenaknya, Steven senang bila berada dekat Angelica.
Steven tersadar, "Kenapa aku memuji Angelica, aku tidak boleh jatuh cinta kepadanya, aku hanya mengambil surat nikah sah kami, hanya itu saja, aku punya Dikta dan 2 orang anak", pikir Steven dalam hati.
"Hai Angel, aku akan datang ke Medan besok, jemput aku di bandara ya, penerbangan ku jam 13.00, aku sengaja memilih jam itu, karena kamu pasti sudah pulang sekolah, dan aku tidak mau mengganggu aktifitas kamu" Steven memberitahu kedatangan nya.
__ADS_1
"Benarkah kamu datang besok, tidak apa-apa kok, kamu mau datang jam berapa, aku akan selalu standby menunggu mu. Ya ampun, aku senang banget, tidak sabar ingin segera bertemu dengan kamu dan ingin memeluk kamu" ucap Angelica bersemangat.
"Ok nanti aku kabari lagi ya, kalau aku sudah berangkat dari Tanjung Karang dan tiba di Medan, udah dulu ya, aku lagi sibuk sekarang" ucap Steven mengakhiri pembicaraan mereka.
"Ok, sampai ketemu besok ya sayang, uuummmahhh" kecup Angelica pada handphone nya.
"Yes. yes..yes" teriak Angelica sambil melompat-lompat kegirangan di atas tempat tidur nya.
Tidak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya, pikiran nya saat ini dipenuhi bayangan Steven, bercermin menatap wajahnya sambil senyum-senyum sendiri, memilih-milih pakaian yang akan dikenakan nya besok.
****
Suasana hati Dikta sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dengan suasana hati Angelica.
Dikta begitu khawatir Steven nanti akan jatuh cinta lagi kepada Angelica.
"Bang berjanjilah kepada ku, untuk selalu setia dan ingat aku dan anak-anak kita, kamu jangan jatuh cinta ya kepada Angelica" Dikta memeluk Steven erat.
"Iya, Abang Janji untuk selalu mengingat kamu dan anak-anak kita" Steven menyakinkan Dikta.
"Apa kalian nanti akan berhubungan suami-istri?" tanya Dikta penasaran dan penuh kekesalan.
"Tentu saja tidak, aku akan berusaha menolaknya, setelah menikah aku akan segera meninggalkan nya" ucap Steven yakin.
"Janji Abang akan selalu ku pegang, aku tidak sanggup membayangkan Abang tidur dan melakukan hubungan suami-istri dengan perempuan lain, terus terang aku sangat cemburu bang" Dikta berurai airmata, tidak sanggup menahan kesedihannya.
"Terus beri kabar dan segera telepon aku, kalau Abang sudah sampai disana ya" ucap Dikta sedih sambil terus memeluk Steven.
"Jangan sedih gitu dong, kayak Abang mau pergi ke Medan perang saja" Steven mencandai Dikta, supaya Dikta tidak menangis dan sedih terus.
Dikta mencubit pinggang Steven "Aduh sakit" erang Steven.
__ADS_1
"Ini hampir sama melepas suaminya ke Medan perang, perasaannya tidak rela dan tidak ikhlas gitu, pokoknya ingat, jangan jatuh cinta kepada Angelica, ingat aku dan anak-anak kita, aku tidak bisa hidup tanpa Abang, Abang pasti tahu itu" ucap Dikta tegas, dan penuh ancaman kepada Steven.
"Iya, tenang saja, aku tidak akan mengingkari janji ku" ucap Steven mantap dan menyakinkan Dikta.