
Jam 13:00 adalah jam keberangkatan Steven dari bandara Tanjung Karang, berarti sebelum jam 13.00 Steven harus berangkat dari rumah.
Untuk mencegah agar tidak terlambat, Steven berangkat jam 10.00, karena lama diperjalanan menuju bandara memakan waktu sekitar 30-45 menit, dan Steven berharap sampai di bandara Jam 12.00.
Untung lah diperjalanan tidak ada kendala macet, jalan aman lancar, tidak terlalu banyak pengendara di jalanan, akhirnya Steven tiba di bandara jam 12:00.
Kemudian Steven check in, dan segala pemeriksaan sudah dilalui, tinggal informasi untuk segera masuk ke dalam pesawat.
Steven duduk santai memeriksa handphone nya dan segera menghubungi Angelica
Tut....tut...Tut...
Mendengar handphone nya berdering dan memang sedari tadi sudah di nanti-nanti kan Angelica.
"Halo" ucap Angelica gembira.
"Halo Angel, sekarang aku sudah di bandara Tanjung Karang, hendak bersiap-siap untuk memasuki pesawat, mungkin setelah ini aku akan menonaktifkan handphone ku, nanti setelah sampai di bandara Medan, aku kabari kamu ya" ucap Steven tegas.
"Baiklah sayang, aku tunggu konfirmasi selanjutnya dari kamu" balas Angelica.
Steven pun segera masuk kedalam pesawat, karena sudah ada aba-aba dari petugas.
Steven berjalan perlahan memandang kesekeliling, "Untuk sementara waktu aku akan meninggalkan kota ini, aku akan merindukan kota ini nantinya", pikir Steven dalam hati.
Setelah mencocokkan nomor bangku yang telah ditetapkan dalam tiket, akhirnya Steven duduk dan langsung memasukkan tasnya kedalam Kabin atas bagian pesawat.
Steven menyandarkan kepalanya terhadap bangku yang didudukinya, dipejamkan matanya, hendak melepaskan lelahnya. Entah kenapa Steven merasa terlalu lelah dan tidak bersemangat, masalahnya begitu rumit, "Kapan bisa hidup normal dan nyaman tidak ada masalah", pikir nya di benaknya. Ternyata Steven tidak sengaja terlelap tidur, beruntung saat Steven terbangun pesawat belum mendarat. Beberapa menit kemudian, ada aba-aba dari petugas pesawat, bahwa pesawat akan mendarat di bandara Medan, "akhirnya" pikir Steven di benaknya.
Seluruh penumpang bergerak untuk menuruni pesawat, termasuk Steven.
Steven langsung mengaktifkan handphone nya dan segera menghubungi Angelica, belum juga Steven menelepon, wajah Angelica terlihat dari kejauhan melambai-lambaikan tangan ke arah Steven.
Steven lantas menghampiri Angelica, setelah tahu Steven mendekati nya, Angelica berlari sekencang-kencangnya menghampiri Steven dan langsung memeluk nya erat, Steven hampir jatuh, karena dorongan Angelica.
"Iih, malu dong dilihat banyak orang" Tegur Steven menghindari pelukan Angelica.
"Biarin, mereka kan tidak tahu, kalau sudah 3 tahun kita tidak bertemu, wajar dong sekarang setelah ketemu melepas rindu" ucap Angelica cuek, dan terus mengandeng erat tangan Steven.
__ADS_1
"Iya iya, jangan cemberut gitu dong" Steven melepas gandengan tangan Angelica bermaksud sebentar ke toilet.
"Maaf Angel, aku ke toilet dulu ya"
Steven pamit langsung pergi kearah petunjuk toilet.
Sepuluh menit kemudian, Steven muncul dari arah toilet menghampiri Angelica.
"Kita makan dulu ya, perutku terasa sangat lapar" ajak Steven menunjuk restoran yang akan mereka datangi.
"Ok" Angelica menurut saja, sambil terus menggandeng tangan Steven, Steven pasrah, "Tidak enak terus menyingkirkan tangan Angelica, lagian Dikta juga tidak tahu kalau aku gandengan tangan", pikir Steven di benaknya.
Mereka pun duduk dan mengambil tempat paling pojok, mengarah ke arah jalan.
"Oh ya, sekarang kita ke rumah mu dulu ya, nanti setelah itu, aku akan indekos di tempat kemarin" ucap Steven.
"Ok sayang" ucap Angelica senang.
Steven dan Angelica pun lahap memakan habis semua hidangan yang ada di depan mereka, terlebih dengan Angelica, biasanya cewek kalau didepan pacarnya masih yang jaga image, artinya malu-malu, tidak mau kelihatan rakus didepan pacarnya,
tetapi Angelica beda, Angelica lugu, kalau lagi lapar ya disantap habis, dengan sikap yang tidak malu-malu. Steven suka sifat Angelica yang tampil apa adanya tidak munafik.
"Iya benar, habisin aja, kan sayang sudah dibayar juga" Steven menyakinkan.
"Ok sekarang kita pulang ke rumah mu ya, mumpung sekarang belum hujan, seperti akan datang hujan" ucap Steven sambil memperhatikan langit yang memang agak gelap.
"Ok, terserah kamu saja" ucap Angelica patuh.
***
Steven dan Angelica sampai di rumah, ada Veni, kakaknya Angelica dan Linda, ibunya Angelica.
"Hai Bu, hai kak" sapa Steven ramah, sambil menjabat tangan Veni dan Linda.
"Hai juga Steven" ucap Veni dan Linda berbarengan.
"Kemana selama ini, kok tidak pernah kabar-kabari" ucap Linda basa-basi, padahal sesungguhnya sudah mengetahui keberadaan Steven di Kalimantan dari anaknya Angelica.
__ADS_1
"Lagi sibuk-sibuk yang jelas ni Bu, kebetulan memang di Kalimantan tidak ada sinyal, jadi tidak ada kontak selama setahun lebih dengan Angelica" ucap Steven ramah.
"Oh" ucap Linda sambil manggut-manggut, sebenarnya kurang setuju kepada Steven, tidak menghubungi Angelica sama sekali selama setahun lebih,
Linda tidak percaya, masak iya sekali pun tidak berusaha menghubungi Angelica,
tetapi melihat begitu besar keyakinan Angelica terhadap Steven, Linda tidak bisa berkomentar, terlebih Steven akhirnya datang dan menemui Angelica kembali.
"Jadi apa maksud kedatangan kamu ini Steven" ucap Linda penasaran dan ingin tahu.
"Bu, sebenarnya maksud kedatangan Steven adalah untuk melamar Angelica" ucap Steven pelan, dan jelas.
Agak terkejut Linda mendengar keputusan yang tiba-tiba, "Mungkin Steven sudah berpikir matang akan keputusan nya untuk mempersunting Angelica terlebih Steven dan Angelica sudah pacaran selama 3tahun lebih" pikir Linda di dalam hati. Linda pun senang dan menerima lamaran Steven.
"Kamu serius akan melamar Angelica Steven?" tanya Linda menyakinkan Steven.
"Iya Bu, saya serius dengan Angelica" ucap Steven mantap dan tegas.
"Kamu sendiri Angelica, bagaimana tanggapan kamu?" tanya Linda balik kepada Angelica.
"Saya senang dan mau jadi istri Steven ma" ucap Angelica yakin terhadap Linda.
"Terus rencana kamu bagaimana Steve" tanya Linda ingin tahu.
"Mama saya akan datang menemui pihak keluarga ibu, agar mau menerima lamaran keluarga kami" ucap Steven.
"Kalian akan tinggal dimana nanti?" tanya Linda ingin tahu.
"Karena saya ada proyek disini, sementara kami akan tinggal mengontrak rumah di daerah dekat sini" ucap Steven mantap.
"Baiklah kalau begitu terserah kalian saja, kapan pihak keluarga mu akan datang kemari Steven?" tanya Linda ingin tahu.
"Mungkin secepatnya Bu, untuk tanggal dan bulan nya nanti saya konfirmasi lagi Bu" ucap Steven dengan sopan.
"Baiklah kalau begitu, nanti kepastian nya di beritahu kan saja, supaya ibu pun bisa mempersiapkannya disini" ucap Linda memberitahu.
"Kalau sudah berumah tangga harusnya pikiran sudah matang, artinya tidak kekanak-kanakan lagi, jangan apa-apa mengadu kepada orang tua, kalian harus bisa mengambil kesimpulan atau keputusan dengan kepala dingin bukan berdasarkan emosi, dengan mempertimbangkan prinsip sehati sepikir, bukan salah satu pihak, harus saling pengertian dan saling menghormati dan menghargai, tidak menyepelekan pasangan masing-masing, hanya itu yang bisa ibu berikan, kalau harta dan anak itu, itu adalah berkat Tuhan, artinya kalau kalian damai berumah tangga, alhasil Tuhan pun akan memberikan nya pada kalian" ucap Linda panjang lebar menasihati Steven dan Angelica..
__ADS_1
Steven dan Angelica hanya tunduk berbarengan mengucapkan "Iya ma"